KAlIANYAR, Radar Ijen - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) resmi menutup kawasan air terjun Kalipait di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Bondowoso, dari kunjungan wisatawan.
Keputusan itu terasa ironis, sebab Kalipait sejatinya belum dikelola sebagai destinasi wisata, bahkan tidak memiliki tiket masuk, tetapi justru jadi magnet kunjungan liar yang meninggalkan jejak sampah.
Ia bukan sekadar air terjun. Kalipait adalah monumen geologi Ijen UNESCO Global Geopark, air asam hijau yang lahir dari kawah purba.
Tapi di kaki Ijen, keindahan itu tersedak oleh sampah. BKSDA memilih menutup pagar konservasi, sebelum alam makin terkorosi ulah manusia.
Air terjun asam dengan aliran hijau toska yang berasal langsung dari danau Kawah Ijen itu tercatat sebagai situs geologi bagian dari Ijen UNESCO Global Geopark (IUGG) Bondowoso Banyuwangi, sekaligus menyandang status Taman Wisata Alam (TWA).
Namun, payung status konservasi itulah yang kini jadi alasan penegasan, Kalipait bukan objek wisata bebas, melainkan kawasan lindung.
Koordinator RKW 15 TWA Kawah Ijen, Rusdi Santoso, menyebut penutupan bukan tanpa dasar. Keluhan menumpuk dari lapangan: pengunjung datang membawa keindahan pulang, tetapi meninggalkan limbah di belakang.
"Kemarin dikeluhkan sampah bawaan pengunjung, makanya jadi ditutup," ungkapnya.
BKSDA pun bertindak.
Pagar dipasang di bagian depan Kali Pahit, menutup akses masuk yang selama ini terbuka.
Sebuah garis tegas antara pesona alam dan kebutuhan konservasi.
Rusdi menambahkan, penutupan dilakukan hingga semua sarana prasarana pendukung siap, termasuk petugas yang bisa siaga penuh.
Hingga kini, tidak ada tiket masuk dan belum ada pengelola resmi yang dianggap tepat.
"Ditutup sampai siap adanya sarana dan prasarana pendukung dan petugas yang standby," imbuhnya.
Untuk mencegah pengunjung yang memaksa masuk, BKSDA menyiapkan skenario pengamanan bergilir. Patroli akan dilakukan secara bergantian oleh petugas internal.
"Untuk memastikan kalau tidak ada pengunjung yg menerobos masuk," terangnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi