radar jember - Gunung Raung menjadi salah satu gunung berapi yang ada di Jawa Timur. Gunung Raung masuk kawasan Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember.
Banyak hal menarik dari Gunung Raung. Salah satunya, gunung tersebut memiliki empat puncak.Yang pertama yakni Puncak Bendera. Kemudian ada Puncak 17 (3.159 mdpl). Yang ketiga Puncak Tusuk Gigi (3.300 mdpl) dan yang paling tinggi Puncak Sejati (3.344 mdpl).
Dengan Puncak Sejati 3.344 mdpl, Gunung Raung menjadi yang paling tinggi dalam gugusan Pegunungan Ijen.
Gunung Raung juga merupakan gunung tertinggi ketiga di Jawa Timur, setelah Gunung Semeru dan Gunung Arjuno. Sementara di Pulau Jawa, Gunung Raung menjadi yang tertinggi keempat.
Gunung tersebut memiliki kaldera kering. Jika dilihat dari luasnya, kaldera tersebut merupakan yang terbesar di Pulau Jawa.
Gunung Raung sering erupsi bahkan meletus. Letusannya memiliki tipe Strombolian, di mana terjadi letusan kecil tetapi terus-menerus mengeluarkan pijar.
Raung juga punya kawah yang terbuka. Sehingga saat erupsi terjadi, lava pijar akan kembali ke dalam kawah atau tidak meluber ke luar kaldera.
Dalam data Pos Pemantau Gunung Api (PPGA) Raung di Desa Sumberarum Kecamatan Songgon, Gunung Raung meletus kali pertama pada tahun 1586. Letusan pertama tersebut tercatat sebagai letusan hebat, hingga mengakibatkan wilayah di sekitarnya rusak dan memakan banyak korban jiwa.
Tahun 1597 kembali meletus dengan memakan korban jiwa sangat banyak. Letusan dahsyat kembali terjadi pada 1638. Letusan mengakibatkan banjir besar dan lahar di daerah antara Kali Setail Kecamatan Sempu dan Kali Klatak Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi.
Namun letusan yang paling dahsyat terjadi di tahun 1730. Tercatat erupsi eksplosif disertai dengan hujan abu serta lahar. Bahkan wilayah terdampak erupsi meluas dibanding letusan pertama, kedua dan ketiga.
Selanjutnya, letusan terjadi antara tahun 1812 hingga 1814 yang disertai hujan abu lebat dan suara bergemuruh. Setahun kemudian, di tahun 1815 terjadi hujan abu di Besuki, Situbondo dan Probolinggo.
Terhitung hingga 44 tahun kemudian, Gunung Raung relatif tenang. Aktivitas vulkaniknya kembali meningkat pada 1859. Tanggal 6 Juli 1864 terdengar suara gemuruh dan di siang hari menjadi gelap.
Selanjutnya tahun 1881, 1885, 1890 dan 1896 terjadi aktivitas vulkanik meliputi suara gemuruh, paroksisma dan hujan abu tipis di kawasan Banyuwangi. Juga terjadi gempa bumi di kawasan Besuki, Situbondo. Lalu pada 16 Februari 1902 muncul kerucut pusat.
Di tahun 1913 antara Bulan Mei hingga Desember, Gunung Raung kembali bergemuruh, bahkan terjadi dentuman keras. Hal yang sama terjadi tiga tahun berturut-turut. Yakni tahun 1915, 1916 dan 1917. Aliran lava di dalam kaldera terjadi tahun 1921 dan 1924.
Fenomena vulkanik dahsyat kembali ditunjukkan Gunung Raung pada tahun 1927. Letusan asap cendewan dan hujan abu sejauh 30 kilometer keluar dari puncaknya. Di tahun yang sama, tepatnya pada Bulan Agustus sampai Oktober terdengar dentuman bom dan terlontar sejauh 500 meter.
Di tahun berikutnya atau 1928, terlihat celah merah di dasar kaldera dan mengeluarkan lava. Fenomena yang sama masih terjadi di tahun 1929.
Tahun 1933 hingga 1945 hanya terjadi peningkatan aktivitas. Tidak tercatat adanya letusan, hanya ada aliran lava di kaldera.
Gunung yang memiliki bibir kaldera seluas 1.200 meter persegi itu kembali mengamuk pada 31 Januari hingga 18 Maret 1952. Puncak gunung menyemburkan asap membara dengan guguran. Tinggi awan letusan mencapai 6 kilometer di atas puncak.
Empat tahun kemudian, 13-19 Februari 1956 terjadi paroksisma. Tercatat pula adanya tiang asap 12 kilometer. Tahun-tahun berikutnya hanya ada peningkatan aktivitas. Namun tahun 1986 letusan asap terjadi di Bulan Januari hingga Maret. (dea)
Editor : Radar Digital