Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kawasan Pecinan Bondowoso, Dibentuk Belanda sebagai Perdagangan Modern

Radar Digital • Senin, 12 Februari 2024 | 23:10 WIB
MELAPAK: Warga Bondowoso yang merasakan manfaat berjualan di trotoar Pecinan. (HILMI BAKSORO)
MELAPAK: Warga Bondowoso yang merasakan manfaat berjualan di trotoar Pecinan. (HILMI BAKSORO)

PADA zaman kolonial Belanda di Nusantara, Belanda memang mengelompokkan tempat tinggal berdasarkan etnis-etnis tertentu.

Ini untuk memudahkan pengawasan. Sehingga bila terjadi sesuatu akan mudah untuk diatasi.

Itulah yang diungkapkan oleh Hery Kusdaryanto, Subkoordinator Sejarah dan Cagar Budaya Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso.

Dia menambahkan, tata kota yang dibangun Belanda merupakan kelanjutan dari tata kota sebelumnya.

“Tata kota zaman kolonial mengadopsi dari tata kota kerajaan. Ada rumah penguasa, alun-alun, pusat pemerintahan, penjara, dan ada tempat peribadatan. Ada juga pecinan dan kampung Arab sebagai pusat perdagangan. Pembentukan ini berdasarkan faktor politis dan sosial,” ungkapnya.

Hery menambahkan, saat mengembangkan Karesidenan Bondowoso, Belanda mulai merencanakan tata kota yang modern. Ada perumahan Belanda, perumahan ningrat, perumahan masyarakat lokal yang kaya.

“Ada juga pusat perdagangan yang dikelola oleh orang Tionghoa, yang berdekatan dengan pusat pemerintahan,” ungkapnya.

Hal ini juga ditemukan di beberapa daerah lainnya. Maksud Belanda membuat pecinan adalah untuk meningkatkan perdagangan modern. Hal ini didasari oleh beberapa hal. “Mereka menganggapnya pengelolaan dagang orang-orang Tionghoa lebih pintar daripada orang lokal,” ungkapnya.

Selain itu, terdapat tujuan politiknya. Kekuasaan Belanda rawan mendapat perlawanan. Sehingga penempatan etnis yang terpisah-pisah memudahkan Belanda dalam mengatasi pemberontakan.

“Sedangkan tujuan politisnya agar Belanda bisa lebih mudah mengawasi setiap etnis yang ada,” tutur Hery.

Hery pun menjelaskan, pecinan sebenarnya menarik untuk dijadikan objek wisata.

Sayangnya, Pecinan di Bondowoso kini tidak sebatas terdapat orang Tionghoa saja.

“Sudah banyak etnis lain yang ada di pecinan sekarang,” pungkasnya. (mg1/c2/dwi)

Editor : Radar Digital
#pecinan #Bondowoso