PRAJEKAN LOR, Radar Ijen - Kehidupan warga Bondowoso pada masa lalu sejatinya banyak menyisakan budaya yang menarik. Salah satunya adalah kebiasaan ronjhangan, yaitu mengolah hasil bumi menggunakan lesung. Seperti gabah ditumbuk menjadi beras dan sebagainya. Belakangan ini, kebiasaan tersebut kembali diangkat ke publik melalui Festival Pekan Budaya di Desa Prajekan Lor, Kecamatan Prajekan.
Secara umum, kebiasaan itu merupakan bagian dari cara mengolah makanan. Namun, jika digali lebih dalam, ronjhangan mempunyai banyak makna. Terutama yang terletak pada bunyi lesung. Warga yang hidup sebelum tahun 1940 telah mengantongi jenis irama bunyi lesung yang mempunyai makna masing-masing. Di antaranya, bunyi lesung untuk menyampaikan kabar hajatan dan layatan bagi orang meninggal mempunyai irama pukulan yang berbeda.
Ketua Forum Pemerhati Sejarah Prajekan (FPSP) Fandi Shofan menyampaikan, bunyi lesung untuk mengolah padi itu sekaligus menyampaikan kabar kepada khalayak ramai. Kabar tersebut bisa bersifat suka maupun duka, sesuai dengan jenis bunyi. "Jadi, dulu kan tidak ada alat komunikasi. Kalau ada warga meninggal, kabar tersebut disampaikan melalui bunyi lesung. Bahkan bunyi lesung juga sebagai tanda ada hajatan pernikahan,” tuturnya.
Menurutnya, masyarakat pada masa itu cukup mendengarkan jenis bunyi yang dihasilkan dari proses pengolahan padi di lesung. Setelah itu, mereka berbondong-bondong datang ke sumber bunyi tersebut. "Jadi mereka sudah paham, kalau bunyi begini adalah kabar duka, begitu pun sebaliknya. Sehingga, orang dahulu datang ke tempat tersebut untuk membantu tuan rumah," urainya.
Kebiasaan itu, menurutnya, perlu ditunjukkan kepada generasi sekarang. Salah satunya melalui Festival Pekan Budaya yang dilakukan oleh Desa Prajekan Lor setiap tahun. "Memang untuk yang saat ini, pertunjukan budaya ronjhangan itu dilombakan. Semua masyarakat di sini (Prajekan Lor, Red) mempraktikkan bunyi lesung," papar Fandi, yang juga menjabat sebagai Kades Prajekan Lor.
Selain itu, dia menyebut pentingnya pertunjukan budaya nenek moyang Bondowoso untuk mengenalkan kehidupan zaman dulu kepada generasi sekarang. "Makanya jangan pernah lupakan sejarah, karena kehidupan ini ada berkat nenek moyang kita sebelumnya," pungkasnya. (mun/c2/dwi)
Editor : Safitri