Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Jadi Penghasil Kopi Terbaik, Bondowoso Tonjolkan Rasa Kopi Khasnya

Safitri • Selasa, 21 September 2021 | 16:11 WIB
KUALITAS BAGUS: Salah seorang pengusaha kafe ketika menunjukkan biji kopi serta seduhan kopi asli Bondowoso.
KUALITAS BAGUS: Salah seorang pengusaha kafe ketika menunjukkan biji kopi serta seduhan kopi asli Bondowoso.
BONDOWOSO, RADARJEMBER.IDKabupaten Bondowoso banyak dikenal oleh masyarakat luas melalui kopi khasnya. Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Bondowoso akan berupaya menghidupkan kembali brand yang sempat tenggelam, yakni Bondowoso Republik Kopi (BRK).

Langkah tersebut dinilai merupakan awal yang tepat. Hal ini disampaikan oleh akademisi Universitas Jember Dr M Fathorrazi. Menurut dia, selama ini BRK sudah ditopang dengan factor endowment yang melimpah, yaitu kopi. Apalagi Bondowoso merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia. Secara geografis, 48 persen areanya adalah perbukitan, dengan ketinggian mulai dari 500 meter di atas permukaan laut (mdpl) hingga di atas seribu mdpl.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, saat ini lahan kebun kopi di Bondowoso mencapai 13.649 hektare dan tersebar di dua kawasan. Yakni kawasan lereng Ijen-Raung yang berbatasan dengan Banyuwangi dan Situbondo, serta area barat di Lereng Argopuro yang berbatasan dengan Jember dan Probolinggo.

Menurut Fathorrazi, dengan jumlah faktor yang melimpah itu, saat Pemkab membuat kebijakan tentang kopi secara otomatis nanti langsung menyentuh masyarakat. "Ada sekitar 12 kawalan kebijakan yang dibuat oleh bupati sebelumnya," jelasnya.

Selain itu, Fathorrazi juga mengatakan bahwa prospek pemasaran kopi ke depan sangat besar. Di mana kopi Indonesia sudah dipasarkan di beberapa negara. "Ada di Tiongkok, Perancis, dan lainnya. Itu kopi Indonesia, termasuk Bondowoso," jelasnya.

Walaupun demikian, dia menyadari di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, peluang penjualan pasti berkurang. Tetapi, kata dia, peluang pasarnya tidak akan berubah. "Itu yang menjanjikan, daripada membuat sesuatu yang belum pasti," imbuhnya.

Selain kebijakan, pemerintah sebelumnya juga meninggalkan beberapa warisan pengembangan kopi di hilir. Yakni Kampung Kopi di Jalan Pelita, Kelurahan Taman Sari. Di sana banyak kafe yang menawarkan kopi khas Bondowoso.

Kondisi itu juga didukung dengan jumlah pendatang di Bondowoso yang semakin bertambah. Misalnya mahasiswa Universitas Jember Kampus Bondowoso saja sudah mencapai 1.743 orang. "Dan itu hanya 28 persen yang berasal Bondowoso. Misalnya mereka senang ke kafe, maka kafe akan hidup. Biasanya mahasiswa senang kongkow," jelasnya.

Sebenarnya, kata dia, sudah banyak masyarakat mempertahankan BRK. Terutama pengusaha di hilir. Oleh sebab itu, pihaknya menyayangkan apabila ada kebijakan yang berubah.

Apalagi mengingat kopi Ijen-Raung Bondowoso sudah punya hak paten. Yakni sudah mengantongi Indikasi Geografis (IG). "Makanya saya secara pribadi sangat mendukung jika dilanjutkan," paparnya.

Pihaknya juga menyarankan agar Pemkab menggunakan brand BRK yang sudah ada. Sebab, jika membuat brand baru biayanya lebih mahal. "Kecuali brand itu gagal. BRK kan tidak gagal," tandasnya.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri
#cafe #Kopi #Bondowoso