Menurut Hery, batu yang berukuran 80 sentimeter dengan lingkar 60 sentimeter itu memiliki keunikan tersendiri. Yakni merupakan batu berjenis kenong dan memiliki lumping. “Karena unik dan rawan hilang, akhirnya kami memutuskan untuk memindahkan ke PIMB. Letak batu itu sebelumnya berada di persawahan pinggir jalan,” kata Hery.
Batu tersebut memang menjadi temuan tim sejarah dan kepurbakalaan. “Batu itu sudah jadi temuan tim dan sudah kami catat regristrasinya,” lanjut Hery kepada Jawa Pos Radar Ijen.
Ketika ditanya fungsi batu tersebut pada zaman prasejarah, Hery belum bisa menjelaskan detail. Sebab, hal itu memerlukan penelitian lebih lanjut. “Kalau dalam zaman megalitikum, diduga batu itu memiliki dua fungsi. Tapi, kami belum tahu pastinya,” imbuhnya.
Hery menambahkan, batu kenong sendiri dibuat pada zaman megalitikum dengan banyak versi. Yakni salah satunya melambangkan kesuburan seorang perempuan. “Sekarang batu itu sudah berada di PIMB. Nantinya bisa menjadi sarana edukasi juga,” kata Hery.
Batu-batu megalitikum yang berada di lahan warga sebenarnya dapat dipindah ke PIMB. Namun, pemindahan itu tak serta-merta. Ada beberapa syarat tertentu. “Kalau batu itu berada di lahan yang beresiko tinggi dan rawan hilang, bisa kami amankan ke PIMB,” pungkas Hery.
Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri