“Benar, kami bongkar satu tenda dulu. Satunya lagi masih terpasang untuk cadangan apabila kasus aktif Covid-19 di Bondowoso melonjak lagi,” kata pria yang baru saja dilantik menjadi Pj Direktur RSUD ini.
Pembongkaran itu bukan tanpa alasan. Menurut dokter spesialis paru ini, karena angka keterisian tempat tidur alias bed occupancy rate (BOR) di RSUD menurun drastis. “BOR kami sekarang ini hanya 25 persen. Turun jauh. Padahal sebelumnya pernah diangka 80 sampai 90 persen,” jelasnya.
Meski begitu, pihaknya tetap mengantisipasi apabila ada kenaikan kasus sewaktu-waktu. Bondowoso sendiri kini berstatus level 3 dalam PPKM darurat. Turun satu level, sebelumnya di level 4. “Instalasi rawat darurat kami tetap berjalan, juga instalasi rawat jalannya melayani pasien. Ketersediaan BOR untuk pasien Covid-19 pun masih cukup banyak di RSUD,” pungkas Yus.
Dalam data kondisi BOR Covid-19 Bondowoso per 12 Agustus, total tempat tidur yang tersedia di RSUD Koesnadi ada 117. Sementara, sekarang ini diisi oleh 39 pasien dari total keseluruhan ketersediaan BOR 156bed.
Ada empat ruang isolasi di RSUD Koesnadi, yakni isolasi Ijen, Krisan, Rengganis, dan Anggrek. Dengan perincian isolasi Krisan 3 pasien, Rengganis 14, Anggrek 8, dan Ijen 11 pasien. Sedangkan ruang ICU Covid-19 hanya ada tiga pasien.
Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Mahrus Sholih Editor : Safitri