Ternyata, di Kabupaten Bondowoso ada kurang lebih 13 jenis dan bentuk kuburan megalitikum. Dari sejumlah kuburan itu, semuanya menggunakan bahan-bahan lokal. Seperti batuan andesit dan batuan sedimen yang lokasinya tidak jauh dari lokasi ditemukannya kuburan tersebut.
Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Bondowoso Hery Kusdarijanto menyampaikan, benda-benda megalitikum itu sudah dilakukan penelitian sejak zaman terdahulu oleh para peneliti yang ahli di bidangnya. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
"Kabupaten Bondowoso memang kaya akan ragam peninggalan megalitikum, serta tradisi megalitikum. Bisa dilihat dari buku sejarah yang membahas sejarah megalitikum," ungkap pria yang juga menjabat sebagai Tim Cagar Budaya Kabupaten Bondowoso ini, kemarin (6/8).
Menurutnya, saat ini pihaknya sudah menemukan 13 kuburan megalitikum yang tersebar di berbagai kecamatan. Bahan dasar pembuatannya di antaranya batu andesit yang berasal dari lava gunung berapi yang meletus. Kemudian, terbentuk atau membeku ketika temperatur lava yang meleleh turun antara 900 hingga 1100 derajat Celsius. "Sehingga mempunyai tingkat kekerasan cukup tinggi. Umumnya berwarna gelap atau hitam," terangnya.
Menurut para ahli, orang terdahulu mengambil batuan tersebut tidak jauh dari lokasi penemuan kuburan. Paling jauh jaraknya satu kilometer. Kemudian, bahan kedua adalah batuan sedimen. Bahan tersebut merupakan sedimen klasik yang tersusun atas fragmen bersudut besar. Di mana ruang antarfragmennya dapat diisi dengan partikel yang lebih kecil, atau semen berupa mineral yang mengikat batuan secara bersama-sama.
Batuan tersebut ada dua jenis. Ada sedimen dengan permukaannya halus, kemudian ada sedimen dengan benjolan kecil-kecil. Masyarakat lokal biasanya menyebut ada batu gambirnya. Batu itu tidak terlalu kuat. Kemudian, ada juga bahan batu kubur megalitikum terbuat dari batuan andesit yang terkena kekar lembaran. Masyarakat lokal biasanya menyebut batu itu dengan sebutan batu piring.
Disebutkan, kubur megalitikum yang ditemukan oleh pihaknya di Bondowoso, di antaranya sarkofagus atau tempat menyimpan jenazah yang dilengkapi dengan tutup, wadah, dan pintu. Jenazahnya diletakkan di dalam batu tersebut. Kerangka yang ditemukan biasanya akan lebih dari satu. Sarkofagus jenis ini tersebar di wilayah kota, Kecamatan Grujugan, dan Curahdami.
Kemudian yang kedua adalah sarkofagus yang hampir mirip dengan jenis pertama tapi tidak memiliki pintu. Biasanya tersebar di wilayah Kecamatan Grujugan, Wringin, Pakem, dan Curahdami. Jenis ketiga ini, bagian atasnya berupa batuan utuh. Kemudian, di bawahnya batuan andesit yang dilubangi. Batu yang diceruk kemudian di atasnya diletakkan lempengan-lempengan batu. Jenis ini merupakan bentuk kubur megalitikum yang juga ditemukan di berbagai wilayah Bondowoso.
Terdapat pula kubur batu berbentuk batu besar di atas, kemudian di bawahnya kecil dibentuk segi empat. Ada pula batu kubur yang bagian bawahnya disanggah menggunakan batu kenong. Serta ada yang batuan atasnya dibuat dari batu breksi, sedangkan bagian bawahnya menggunakan andesit.
Ada pula kubur yang terbuat dari batu breksi yang dipahat. Bawahnya menggunakan batu alam yang disusun, kemudian salah satu sisinya terdapat pintu. Selain itu, ada juga batu andesit besar atasnya, bagian bawahnya juga menggunakan batu andesit. "Menggunakan bahan apa adanya. Tidak bisa memproses sesuai bentuk yang diinginkan," katanya.
Lebih lanjut, ia juga menyebutkan berbagai jenis kubur batu yang ditemukan lainnya. Ada kubur batu yang dibuat dari lempeng batu hasil gunung berapi. Di bawahnya disangga batu andesit. Ada juga kubur batu yang dibuat dengan membaurkan batu alam dengan batu penguburan. Ada pula yang membuat dengan lempeng batu, kemudian bawahnya menggunakan batu breksi yang sudah dibentuk menyerupai tembok. Sebelah timur biasanya pintu. Kemudian terakhir, ada juga kubur bilik batu yang ditemukan di wilayah Bondowoso.
Selain itu, anggota Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komda Jatim ini mengutarakan, dari setiap jenis batu yang ditemukan, semuanya memiliki perbedaan. Di antaranya pintu, bahan pembuatan, dan lain-lain. Bahkan, bagian dalamnya juga berbeda-beda. Ada kuburan yang bagian dalamnya berbentuk segi empat semua. Baik atas, bawah, kanan, maupun sisi kirinya. "Kemudian, ada yang berbentuk setengah lingkaran. Berbentuk bilik kubur. Luasnya bisa mencapai dua setengah meter persegi," urainya.
Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Mahrus Sholih Editor : Safitri