Kopi menjadi komoditas kebun yang mendominasi di Bondowoso. Sebelum dan setelah proses panen kopi, para petani memiliki ritual dan tradisi tersendiri. Mereka mempunyai cara sebagai bentuk syukur atas panen kopi tiap tahunnya.
Seperti menjelang panen raya, diadakan prosesi selamatan. Dalam bahasa Madura biasa disebut rokatan bhumih. Artinya membebaskan kembali alam semesta dari segala hal buruk. Semacam tolak bala.
Menurut Tantri Raras, tim ahli budaya dari Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG), ritual ini sudah menjadi tradisi turun-temurun. Prosesi ritualnya digelar sejak siang hingga malam hari. Selain menyediakan beberapa jenis makanan, prosesi itu juga dibarengi dengan tampilan can-macanan gatot subroto.
Tradisi itu kebanyakan digelar di wilayah Kecamatan Ijen. Di mana kebun kopi memang lebih banyak dan luas. “Mayoritas warga Kecamatan Ijen berasal dari suku Madura. Sejarahnya, mereka dibawa Belanda dari Madura sebagai pekerja perkebunan kopi,” bebernya.
Tantri menambahkan, ritual semacam itu harus tetap dilestarikan. Sebab, masyarakat lokal meyakini tradisi itu sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.
Keunikan tradisi rokatan bhumih ini menyajikan berbagai makanan yang wajib dihidangkan. Mulai dari ayam ingkung, ketupat, jajanan pasar seperti kucur, bubur merah putih, kopi manis dan pahit, gulung teleng, dan beberapa makanan jenis lainnya. “Sejak saya kecil sudah ada tradisi ini. Bahkan sejak zaman kakek saya sudah digelar,” kata Suto, 72, salah seorang warga setempat.
Suto melanjutkan, hidangan makanan yang disajikan tak boleh ada yang terlewat atau tertinggal. Semua harus lengkap dan sedia. “Agar prosesi atau ritualnya berjalan lancar dan baik,” imbuhnya.
Pun hidangan yang disajikan dalam ritual tersebut selalu dua macam. Misal manis dan pahit, atau putih dan merah, atau simbol warna lainnya. Semuanya sebagai gambaran antara kebaikan dan keburukan.
Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Radar Digital