“Secara alamiah kami tinggalnya di rumah-rumah seperti ini. Sejak saya kecil memang sudah seperti ini, bahkan waktu ibu bapak saya kecil dulu memang sudah seperti ini. Apalagi orang dulu itu kan membangun sesuai dengan filosofi tersendiri,” ungkap Andri.
Pada rumah adat ini, orang-orangnya masih satu keluarga. Mengikat satu sama lain. Terdiri dari orang tua, anak, cucu dan seterusnya. “Memang ini satu keluarga ya,” tegasnya. Ikatan keluarga kandung, merupakan salah satu ciri khas dari Tanian Lanjheng.
Andri menjelaskan, terdapat beberapa perbedaan antara rumah adat Madura dan rumah Jawa. Keduanya sama-sama menggunakan kayu sebagai bahan utamanya. Tapi secara arsitekturalnya berbeda. Hal itu juga memiliki makna tersendiri sesuai dengan keadaan masyarakatnya.
Perbedaan paling mencolok dari rumah adat adalah penempatan ruang tamu. “Kalau orang Madura ruang tamunya diluar. Sedangkan orang Jawa ruang tamunya di dalam. Itu salah satu perbedaannya dari sisi konstruksi rumahnya,” jelasnya. Secara filolofis hal tersebut bermakna bahwa orang madura cenderung ekstrovet (terbuka) sementara orang Jawa cenderung introvet (tertutup).
Alumnus UIN Sunan kalijaga Yogyakarta tersebut juga menyampaikan, walaupun rumah-rumah ditempatnya sudah direnovasi, tetapi masih mempertahankan keasliannya. Selain posisi rumah yang tidak berubah, dirinya juga mempertahankan material bangunannya tetap menggunakan kayu jati. “Ini cenderung masih asli, cuma memang ada beberapa tambahan. Kami coba mempertahankan rumus arsitekturalnya.” ujarnya.
Selain mempertahankan kondisi fisik dari Tanian Lanjheng, Andri mengaku juga mencoba mempertahankan budaya serta ritual dari orang-orang yang tinggal di rumah tersebut. Karena hal tersebut sudah jarang bahkan tidak dijumpai di Bondowoso selain ditempatnya. “Kalau bentuk rumah yang seperti ini mungkin masih ada ya. Tapi kalau yang masih mempertahankan adat, tradisi dan kebiasaannya, mungkin hanya tinggal disini,” tegasnya.
Ke depan, ada wacana untuk membuat satu rumah yang akan dijadikan sebagi tempat wisata rumah adat. Lengkap dengan peralatan zaman dahulu. Andri ingin tetap menjaga rumah adat tersebut tetap ada. Serta sebagai wahana edukasi terkait Tanian Lanjheng.
“Agar rumah adat ini bisa tetap lestari. Sekaligus mau dipakai untuk spot selfi sekaligus sebagai tempat penginapan bagi wisatawan,” ucapnya. Apalagi di desa tersebut terdapat destinasi wisata yang sangat sering dikunjungi, yakni wisata Batu Solor. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah adat tersebut.
Jurnalis: Ilham Wahyudi
Fotografer: Ilham Wahyudi
Editor: Solikhul Huda Editor : Safitri