LAS VEGAS – Kekalahan atas Petr Yan di UFC 323 menjadi momen penuh evaluasi bagi Merab Dvalishvili.
Setelah berjuang keras di lima ronde, juara bantam kelas itu harus menyerahkan sabuknya sekaligus mengakhiri ambisinya untuk mencatatkan empat kali pertahanan titel dalam satu tahun.
Usai pertarungan, Dvalishvili mengakui bahwa malam itu adalah “bad game”.
Ia menyatakan telah berusaha keras memberi tontonan menarik, tapi diakui bahwa faktor kelelahan dan akurasi strike Yan membuat rencana dominasi wrestling-nya tak optimal.
Beberapa pengamat menyebut bahwa strategi Dvalishvili yang sepanjang kariernya mengandalkan volume takedown dan tekanan konstan kurang efektif malam itu, terutama mengingat kondisi Yan yang on point dalam pertahanan takedown dan counter strike.
Meski demikian, Dvalishvili tetap mempertahankan reputasinya sebagai salah satu grappler dan pressure-wrestler tersolid di divisinya.
Ia memiliki stamina tinggi, volume takedown mengerikan, serta kontrol oktagon yang kerap membuat lawan kelelahan.
Hanya saja, kali ini Yan berhasil mengeksploitasi kelemahan dalam pertahanan strike jarak jauh.
Imbas kekalahan ini tentu besar: gelar lepas, momentum medekatkan dirinya pada rekor pertahanan sabuk memudar, dan tekanan untuk membangun kembali jalur menuju pertarungan gelar terbuka kembali.
Namun, Dvalishvili masih dianggap sebagai salah satu nama top di bantamweight tren dominannya sebelum ini (13-kemenangan beruntun) menunjukkan kapasitas luar biasa.
Dalam pernyataannya pasca-pertarungan, Dvalishvili menyuarakan keinginan rematch permintaan yang disambut cukup positif oleh komunitas MMA.
Ia menyadari bahwa untuk menuntut kembali sabuk, ia perlu mengevaluasi aspek striking dan adaptasi gaya agar tidak mudah dihukum oleh striker tajam seperti Yan.
Cara Dvalishvili bangkit ke depan kemungkinan akan melibatkan jeda, pemulihan fisik dan mental, latihan intensif memperkuat pertahanan stand-up, serta mencari lawan yang bisa membantunya membangun kembali momentum sebelum memaksa satu tiket ke pertandingan gelar lagi.
Meski malam ini bukan miliknya, Dvalishvili tetap mendapat apresiasi atas keberanian dan daya juangnya.
Banyak analisis menyebut bahwa kekalahan ini bisa menjadi pelajaran penting bukan akhir dari karier, melainkan batu pijakan menuju comeback yang lebih matang.
Bagi para fans dan pengamat bantamweight, nama Merab Dvalishvili tetap layak diperhitungkan.
Jika ia mampu memperbaiki strategi dan menyesuaikan gaya, peluang untuk kembali ke puncak tak serta-merta tertutup.
Dan rematch melawan Yan bisa menjadi panggung pembuktian itu. (faq)
Editor : M. Ainul Budi