Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kompos Kotoran Sapi untuk Kesehatan Tanah

Safitri • Selasa, 21 Juni 2022 | 20:19 WIB
“Nitrogen dalam kompos kotoran sapi bisa sampai 1,65 persen.”  Abdul Jalil Alumnus Agroteknologi Unmuh Jember sekaligus mahasiswa Magister Agronomi Unej
“Nitrogen dalam kompos kotoran sapi bisa sampai 1,65 persen.” Abdul Jalil Alumnus Agroteknologi Unmuh Jember sekaligus mahasiswa Magister Agronomi Unej
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Pupuk organik bisa menjadi solusi alternatif untuk mengganti pupuk kimia yang harganya terus melambung. Selain itu, juga bisa meningkatkan kualitas dan menyehatkan tanah pertanian. Bahan dasarnya berasal dari tanaman maupun hewan yang melalui proses rekayasa.

BACA JUGA : Tuai Protes, Trayek Baru Ajung-Arjasa Via JSG Ditunda

Abdul Jalil, alumnus Agroteknologi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, menjelaskan, pupuk organik berfungsi dalam memberikan sumber nutrisi tanaman lengkap. Selain itu, dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya simpan air, dan meningkatkan aktivitas biologi tanah. Salah satu jenisnya ialah kompos berbahan dasar kotoran sapi. Kandungan nitrogen di dalamnya bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. “Nitrogen dalam kompos kotoran sapi bisa sampai 1,65 persen,” sebutnya.

Mahasiswa Magister Agronomi Universitas Jember itu menerangkan proses pembuatan pupuk kompos yang pernah dia lakukan di lahan penelitiannya. Pembuatannya menggunakan kotoran sapi dan cocopeat (serbuk kelapa). Bisa menggunakan perbandingan 80:20, 70:40, atau 50:50. Bisa juga 100 persen kotoran sapi tanpa campuran bahan lain.

Selanjutnya, mencairkan EM4 atau cairan lainnya yang mengandung mikroorganisme permentan. Bisa dengan takaran satu tutup botol untuk dua liter air. Kemudian, dicampurkan empat sendok tetes tebu. “Ini sebagai nutrisi untuk mengaktifkan bakteri di dalamnya,” ujar Jalil.

Kotoran sapi, cocopeat, ditambah kapur dicampur rata. Setelah itu, kata dia, disiram EM4 yang telah dicairkan sebelumnya. Dilakukan hingga campuran bahan tidak lembek saat dikepal dengan tangan. Jika dirasa telah selesai, masuk pada tahap fermentasi.

Semua campuran diletakkan di atas terpal atau wadah tertentu. Ditutup rapat dan didiamkan selama satu bulan. Dengan catatan, satu minggu sekali dilakukan pembalikan. Hal itu untuk memberikan aerasi atau pertukaran udara pada proses fermentasi tersebut.

Satu bulan kemudian, terpal bisa dibuka. Jalil mengungkapkan, tanda kompos yang sudah jadi, apabila dipegang tumpukannya sudah tidak terasa panas. Dalam pembuatannya, juga ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan untuk menunjang keberhasilan pupuk kompos.

Dia mengatakan bahwa titik tekannya pada prosesnya. Sebisa mungkin tidak terkena cahaya matahari secara langsung. Bisa dilakukan penyimpanan di tempat teduh pada saat difermentasi. “Mudah menguap serta dapat merusak mikroorganisme yang terkandung di dalamnya,” terang pria anak satu itu.

Tak hanya itu, penyimpanan juga tidak diperkenankan di tempat yang lembap dan bersuhu rendah. Sebab, tambah dia, bisa merusak kandungan hayati di dalamnya. Kemudian, saat pemberian air yang sudah dicampur dengan EM4, diusahakan tidak berlebihan. Hal itu untuk menjaga kelembapan bahan kompos. “Mikroba akan aktif dan optimal pada kelembapan yang cukup,” tutupnya. (mg8/c2/nur) Editor : Safitri
#Solutips