alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Tuai Protes, Trayek Baru Ajung-Arjasa Via JSG Ditunda

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Trayek baru Ajung-Arjasa yang mulai dioperasikan Senin (20/6) kemarin, menuai penolakan dari sopir angkot di Terminal Arjasa. Sebab, para sopir menilai ada beberapa kesepakatan yang tidak dipenuhi oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Jember. Seperti Armada yang digunakan tidak berasal dari trayek lama, hingga tidak adanya subsidi yang dijanjikan sebelumnya.

Ketua Paguyuban Insan Transportasi (Pintar) Jember Siswoyo menyampaikan, dalam beberapa kali pertemuan, dirinya sudah menyampaikan masukan berkaitan dengan hal yang perlu diantisipasi. Namun, beberapa hari menjelang peluncuran ujicoba, pemerintah dinilainya melanggar persyaratan yang sudah disepakati sebelumnya. “Ada beberapa hal yang tidak ditepati oleh pemerintah, sehingga pada hari pelaksanan menimbulkan penolakan,” ujarnya.

Penolakan tersebut dipicu oleh beberapa hal. Di antaranya armada yang digunakan tidak berasal dari trayek lama, sehingga kondisi armada di terminal menumpuk. “Padahal, usulan Pintar pada saat rapat koordinasi trayek baru diambil dari armada trayek lama,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

LIHAT VIDEONYA: Trayek Baru, Terminal Ajung Kembali Berfungsi 

Alasan kedua, dia menambahkan, tidak adanya pengawalan dari kepolisian terkait keamanannya. Padahal yang paling rawan terjadi adalah gesekan sesama sopir angkot dan pengguna becak. “Kami mengusulkan pada saat uji coba agar ada pengawalan dari pemerintah untuk mengantisipasi gesekan antarsopir dan tukang becak,” tuturnya.

Ketiga, Siswoyo mengungkapkan, kurangnya sosialisasi kepada masyarakat dan tidak ada subsidi seperti yang diusulkan. Baik oleh Pintar maupun koperasi selaku operator. Subsidi tersebut dimaksudkan agar selama dalam masa uji coba ada kepastian pendapatan kepada para sopir. “Kami mengusulkan agar ada kepastian pendapatan. Dalam pembahasan kami mengusulkan 14 penumpang dalam satu kali pulang-pergi, kalau hanya dapat 10 maka empatnya disubsidi oleh pemerintah,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Angkutan Dishub Jember Sujarwo menjelaskan, jauh hari sebelum trayek baru ditetapkan, pihaknya sudah melakukan beberapa kali pembahasan dengan melibatkan perwakilan sopir angkot dan paguyuban lainnya. “Sebelumnya sudah kami lakukan kajian dengan melibatkan banyak pihak. Salah satunya dengan perwakilan sopir angkot,” jelas Sujarwo kepada Jawa Pos Radar Jember di ruangannya, kemarin (20/6).

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Trayek baru Ajung-Arjasa yang mulai dioperasikan Senin (20/6) kemarin, menuai penolakan dari sopir angkot di Terminal Arjasa. Sebab, para sopir menilai ada beberapa kesepakatan yang tidak dipenuhi oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Jember. Seperti Armada yang digunakan tidak berasal dari trayek lama, hingga tidak adanya subsidi yang dijanjikan sebelumnya.

Ketua Paguyuban Insan Transportasi (Pintar) Jember Siswoyo menyampaikan, dalam beberapa kali pertemuan, dirinya sudah menyampaikan masukan berkaitan dengan hal yang perlu diantisipasi. Namun, beberapa hari menjelang peluncuran ujicoba, pemerintah dinilainya melanggar persyaratan yang sudah disepakati sebelumnya. “Ada beberapa hal yang tidak ditepati oleh pemerintah, sehingga pada hari pelaksanan menimbulkan penolakan,” ujarnya.

Penolakan tersebut dipicu oleh beberapa hal. Di antaranya armada yang digunakan tidak berasal dari trayek lama, sehingga kondisi armada di terminal menumpuk. “Padahal, usulan Pintar pada saat rapat koordinasi trayek baru diambil dari armada trayek lama,” ucapnya.

LIHAT VIDEONYA: Trayek Baru, Terminal Ajung Kembali Berfungsi 

Alasan kedua, dia menambahkan, tidak adanya pengawalan dari kepolisian terkait keamanannya. Padahal yang paling rawan terjadi adalah gesekan sesama sopir angkot dan pengguna becak. “Kami mengusulkan pada saat uji coba agar ada pengawalan dari pemerintah untuk mengantisipasi gesekan antarsopir dan tukang becak,” tuturnya.

Ketiga, Siswoyo mengungkapkan, kurangnya sosialisasi kepada masyarakat dan tidak ada subsidi seperti yang diusulkan. Baik oleh Pintar maupun koperasi selaku operator. Subsidi tersebut dimaksudkan agar selama dalam masa uji coba ada kepastian pendapatan kepada para sopir. “Kami mengusulkan agar ada kepastian pendapatan. Dalam pembahasan kami mengusulkan 14 penumpang dalam satu kali pulang-pergi, kalau hanya dapat 10 maka empatnya disubsidi oleh pemerintah,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Angkutan Dishub Jember Sujarwo menjelaskan, jauh hari sebelum trayek baru ditetapkan, pihaknya sudah melakukan beberapa kali pembahasan dengan melibatkan perwakilan sopir angkot dan paguyuban lainnya. “Sebelumnya sudah kami lakukan kajian dengan melibatkan banyak pihak. Salah satunya dengan perwakilan sopir angkot,” jelas Sujarwo kepada Jawa Pos Radar Jember di ruangannya, kemarin (20/6).

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Trayek baru Ajung-Arjasa yang mulai dioperasikan Senin (20/6) kemarin, menuai penolakan dari sopir angkot di Terminal Arjasa. Sebab, para sopir menilai ada beberapa kesepakatan yang tidak dipenuhi oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Jember. Seperti Armada yang digunakan tidak berasal dari trayek lama, hingga tidak adanya subsidi yang dijanjikan sebelumnya.

Ketua Paguyuban Insan Transportasi (Pintar) Jember Siswoyo menyampaikan, dalam beberapa kali pertemuan, dirinya sudah menyampaikan masukan berkaitan dengan hal yang perlu diantisipasi. Namun, beberapa hari menjelang peluncuran ujicoba, pemerintah dinilainya melanggar persyaratan yang sudah disepakati sebelumnya. “Ada beberapa hal yang tidak ditepati oleh pemerintah, sehingga pada hari pelaksanan menimbulkan penolakan,” ujarnya.

Penolakan tersebut dipicu oleh beberapa hal. Di antaranya armada yang digunakan tidak berasal dari trayek lama, sehingga kondisi armada di terminal menumpuk. “Padahal, usulan Pintar pada saat rapat koordinasi trayek baru diambil dari armada trayek lama,” ucapnya.

LIHAT VIDEONYA: Trayek Baru, Terminal Ajung Kembali Berfungsi 

Alasan kedua, dia menambahkan, tidak adanya pengawalan dari kepolisian terkait keamanannya. Padahal yang paling rawan terjadi adalah gesekan sesama sopir angkot dan pengguna becak. “Kami mengusulkan pada saat uji coba agar ada pengawalan dari pemerintah untuk mengantisipasi gesekan antarsopir dan tukang becak,” tuturnya.

Ketiga, Siswoyo mengungkapkan, kurangnya sosialisasi kepada masyarakat dan tidak ada subsidi seperti yang diusulkan. Baik oleh Pintar maupun koperasi selaku operator. Subsidi tersebut dimaksudkan agar selama dalam masa uji coba ada kepastian pendapatan kepada para sopir. “Kami mengusulkan agar ada kepastian pendapatan. Dalam pembahasan kami mengusulkan 14 penumpang dalam satu kali pulang-pergi, kalau hanya dapat 10 maka empatnya disubsidi oleh pemerintah,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Angkutan Dishub Jember Sujarwo menjelaskan, jauh hari sebelum trayek baru ditetapkan, pihaknya sudah melakukan beberapa kali pembahasan dengan melibatkan perwakilan sopir angkot dan paguyuban lainnya. “Sebelumnya sudah kami lakukan kajian dengan melibatkan banyak pihak. Salah satunya dengan perwakilan sopir angkot,” jelas Sujarwo kepada Jawa Pos Radar Jember di ruangannya, kemarin (20/6).

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/