alexametrics
23 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Keluarga, Basis Utama Pendidikan

Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA

Mobile_AP_Rectangle 1

Akhir-akhir ini, perbincangan tentang keluarga semakin penting dilakukan sebagai ikhtiar melakukan revitalisasi institusi keluarga dalam menjalankan fungsinya sebagai institusi pendidikan. Karena kita meyakini bahwa keluarga, adalah institusi pendidikan yang pertama dan utama. Untuk pertama kalinya pendidikan anak berlangsung di institusi ini, sehingga institusi keluarga menjadi basis utama pendidikan. Karena memang di institusi inilah anak pertama kali dididik dan dibesarkan. Bahkan, di institusi ini pula diletakkan dasar-dasar, fondasi, dan corak perkembangan anak selanjutnya. Karena itu, pendidik di lingkungan keluarga adalah pendidik yang pertama kali dikenal anak, pertama kali anak merasakan pendidikan yang sangat bermakna, penuh kasih sayang, ketulusan, dan komitmen. Anak betul-betul bisa berharap akan menjadikan pendidik di institusi ini sebagai teladan dalam memandu kehidupan anak agar bisa hidup mulia dunia akhirat. Posisi yang tinggi ini tidak cukup dengan menuntut anak supaya ber-birrul walidain, tetapi lebih dari itu, Sang ibu bapak (orang tua) harus berupaya menjadikan dirinya sebagai tokoh yang pantas dihormati, dicintai, dan diteladani.

Bagi anak, keluarga adalah media pendidikan yang sangat penting. Di lingkungan keluarga, anak disiapkan kelahirannya. Di lingkungan keluarga, anak diasuh, tumbuh dan berkembang. Dari di lingkungan keluarga, anak merancang program, berangkat belajar dan bekerja. Di lingkungan keluarga anak istirahat.  Ke lingkungan keluarga, anak mengevaluasi program, pulang dari belajar dan bekerja. Di lingkungan keluarga, anak melakukan komunikasi dan interaksi yang sangat intensif.

Dalam interaksi dan komunikasi itulah berlangsung proses pendidikan, disengaja ataupun tidak, direncanakan atau tidak, disadari ataupun tidak. Namun demikian, terjadinya proses pendidikan yang tidak disengaja, tidak direncanakan, dan tidak disadari itu ternyata dari segi waktu lebih lama, dari segi frekwensi lebih tinggi, dan dari segi pengaruh lebih besar jika dibandingkan dengan proses pendidikan yang disengaja, diprogram, dan disadari yang berlangsung di sekolah atau madrasah. Karena itu, aura pendidikan di lingkungan keluarga akan menebar ke pusat-pusat pendidikan lainnya, di sekolah dan masyarakat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Akhir-akhir ini, tugas mendidik semakin tidak mudah, terutama ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa pengaruh lingkungan sangat dahsyat. Cita-cita agar kelak menjadi orang tua yang berhasil, yaitu memiliki anak sukses, saleh dan salihah, taat kepada kedua orang tua, berbakti kepada nusa, bangsa, dan agama menjadi obsesi yang kian sulit diwujudkan. Kesulitan ini bukan karena keterbatasan lembaga pendidikan, melainkan disebabkan oleh amat sedikitnya lembaga pendidikan yang mampu melakukan peran-peran pendidikan secara utuh.

Karena itu, institusi keluarga, sekolah dan masyarakat secara terintegrasi harus bekerja sama, yang terjadi akhir-akhir ini justru sebaliknya. Dengan alasan sibuk, tidak jarang keluarga yang cukup menyerahkan pendidikan ke pengelola sistem di sekolah/madrasah. Padahal disadari bahwa interaksi guru murid di sekolah amat terbatas dari segi waktu dan kontrol, yakni tidak lebih 7 jam sehari. Kelemahan sekolah yang demikian, bahkan diperparah oleh lingkungan masyarakat, yang dalam kenyataannya sering menyuguhkan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diperoleh antara di sekolah dan keluarga.

- Advertisement -

Akhir-akhir ini, perbincangan tentang keluarga semakin penting dilakukan sebagai ikhtiar melakukan revitalisasi institusi keluarga dalam menjalankan fungsinya sebagai institusi pendidikan. Karena kita meyakini bahwa keluarga, adalah institusi pendidikan yang pertama dan utama. Untuk pertama kalinya pendidikan anak berlangsung di institusi ini, sehingga institusi keluarga menjadi basis utama pendidikan. Karena memang di institusi inilah anak pertama kali dididik dan dibesarkan. Bahkan, di institusi ini pula diletakkan dasar-dasar, fondasi, dan corak perkembangan anak selanjutnya. Karena itu, pendidik di lingkungan keluarga adalah pendidik yang pertama kali dikenal anak, pertama kali anak merasakan pendidikan yang sangat bermakna, penuh kasih sayang, ketulusan, dan komitmen. Anak betul-betul bisa berharap akan menjadikan pendidik di institusi ini sebagai teladan dalam memandu kehidupan anak agar bisa hidup mulia dunia akhirat. Posisi yang tinggi ini tidak cukup dengan menuntut anak supaya ber-birrul walidain, tetapi lebih dari itu, Sang ibu bapak (orang tua) harus berupaya menjadikan dirinya sebagai tokoh yang pantas dihormati, dicintai, dan diteladani.

Bagi anak, keluarga adalah media pendidikan yang sangat penting. Di lingkungan keluarga, anak disiapkan kelahirannya. Di lingkungan keluarga, anak diasuh, tumbuh dan berkembang. Dari di lingkungan keluarga, anak merancang program, berangkat belajar dan bekerja. Di lingkungan keluarga anak istirahat.  Ke lingkungan keluarga, anak mengevaluasi program, pulang dari belajar dan bekerja. Di lingkungan keluarga, anak melakukan komunikasi dan interaksi yang sangat intensif.

Dalam interaksi dan komunikasi itulah berlangsung proses pendidikan, disengaja ataupun tidak, direncanakan atau tidak, disadari ataupun tidak. Namun demikian, terjadinya proses pendidikan yang tidak disengaja, tidak direncanakan, dan tidak disadari itu ternyata dari segi waktu lebih lama, dari segi frekwensi lebih tinggi, dan dari segi pengaruh lebih besar jika dibandingkan dengan proses pendidikan yang disengaja, diprogram, dan disadari yang berlangsung di sekolah atau madrasah. Karena itu, aura pendidikan di lingkungan keluarga akan menebar ke pusat-pusat pendidikan lainnya, di sekolah dan masyarakat.

Akhir-akhir ini, tugas mendidik semakin tidak mudah, terutama ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa pengaruh lingkungan sangat dahsyat. Cita-cita agar kelak menjadi orang tua yang berhasil, yaitu memiliki anak sukses, saleh dan salihah, taat kepada kedua orang tua, berbakti kepada nusa, bangsa, dan agama menjadi obsesi yang kian sulit diwujudkan. Kesulitan ini bukan karena keterbatasan lembaga pendidikan, melainkan disebabkan oleh amat sedikitnya lembaga pendidikan yang mampu melakukan peran-peran pendidikan secara utuh.

Karena itu, institusi keluarga, sekolah dan masyarakat secara terintegrasi harus bekerja sama, yang terjadi akhir-akhir ini justru sebaliknya. Dengan alasan sibuk, tidak jarang keluarga yang cukup menyerahkan pendidikan ke pengelola sistem di sekolah/madrasah. Padahal disadari bahwa interaksi guru murid di sekolah amat terbatas dari segi waktu dan kontrol, yakni tidak lebih 7 jam sehari. Kelemahan sekolah yang demikian, bahkan diperparah oleh lingkungan masyarakat, yang dalam kenyataannya sering menyuguhkan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diperoleh antara di sekolah dan keluarga.

Akhir-akhir ini, perbincangan tentang keluarga semakin penting dilakukan sebagai ikhtiar melakukan revitalisasi institusi keluarga dalam menjalankan fungsinya sebagai institusi pendidikan. Karena kita meyakini bahwa keluarga, adalah institusi pendidikan yang pertama dan utama. Untuk pertama kalinya pendidikan anak berlangsung di institusi ini, sehingga institusi keluarga menjadi basis utama pendidikan. Karena memang di institusi inilah anak pertama kali dididik dan dibesarkan. Bahkan, di institusi ini pula diletakkan dasar-dasar, fondasi, dan corak perkembangan anak selanjutnya. Karena itu, pendidik di lingkungan keluarga adalah pendidik yang pertama kali dikenal anak, pertama kali anak merasakan pendidikan yang sangat bermakna, penuh kasih sayang, ketulusan, dan komitmen. Anak betul-betul bisa berharap akan menjadikan pendidik di institusi ini sebagai teladan dalam memandu kehidupan anak agar bisa hidup mulia dunia akhirat. Posisi yang tinggi ini tidak cukup dengan menuntut anak supaya ber-birrul walidain, tetapi lebih dari itu, Sang ibu bapak (orang tua) harus berupaya menjadikan dirinya sebagai tokoh yang pantas dihormati, dicintai, dan diteladani.

Bagi anak, keluarga adalah media pendidikan yang sangat penting. Di lingkungan keluarga, anak disiapkan kelahirannya. Di lingkungan keluarga, anak diasuh, tumbuh dan berkembang. Dari di lingkungan keluarga, anak merancang program, berangkat belajar dan bekerja. Di lingkungan keluarga anak istirahat.  Ke lingkungan keluarga, anak mengevaluasi program, pulang dari belajar dan bekerja. Di lingkungan keluarga, anak melakukan komunikasi dan interaksi yang sangat intensif.

Dalam interaksi dan komunikasi itulah berlangsung proses pendidikan, disengaja ataupun tidak, direncanakan atau tidak, disadari ataupun tidak. Namun demikian, terjadinya proses pendidikan yang tidak disengaja, tidak direncanakan, dan tidak disadari itu ternyata dari segi waktu lebih lama, dari segi frekwensi lebih tinggi, dan dari segi pengaruh lebih besar jika dibandingkan dengan proses pendidikan yang disengaja, diprogram, dan disadari yang berlangsung di sekolah atau madrasah. Karena itu, aura pendidikan di lingkungan keluarga akan menebar ke pusat-pusat pendidikan lainnya, di sekolah dan masyarakat.

Akhir-akhir ini, tugas mendidik semakin tidak mudah, terutama ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa pengaruh lingkungan sangat dahsyat. Cita-cita agar kelak menjadi orang tua yang berhasil, yaitu memiliki anak sukses, saleh dan salihah, taat kepada kedua orang tua, berbakti kepada nusa, bangsa, dan agama menjadi obsesi yang kian sulit diwujudkan. Kesulitan ini bukan karena keterbatasan lembaga pendidikan, melainkan disebabkan oleh amat sedikitnya lembaga pendidikan yang mampu melakukan peran-peran pendidikan secara utuh.

Karena itu, institusi keluarga, sekolah dan masyarakat secara terintegrasi harus bekerja sama, yang terjadi akhir-akhir ini justru sebaliknya. Dengan alasan sibuk, tidak jarang keluarga yang cukup menyerahkan pendidikan ke pengelola sistem di sekolah/madrasah. Padahal disadari bahwa interaksi guru murid di sekolah amat terbatas dari segi waktu dan kontrol, yakni tidak lebih 7 jam sehari. Kelemahan sekolah yang demikian, bahkan diperparah oleh lingkungan masyarakat, yang dalam kenyataannya sering menyuguhkan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diperoleh antara di sekolah dan keluarga.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/