Baca Juga : Dua Perusahaan Bayar THR Baru Hari Ini
Sejatinya tidak ada keraguan kebesaran kontribusi pesantren terhadap mutu pendidikan di Jember. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga sekarang eksistensi pesantren tetap tak berkurang. Dari segi pendidikan agama sampai pendidikan umum dan teknologi juga tidak kalah saing.
"Berdiri sejak tahun 1996, dengan kondisi yang sederhana. Tiga tahun setelahnya dibangun MI sebagai lembaga formal pertama," kata Muhammad Raka Aditya, Ketua Pengurus Ponpes Al Azhar tersebut. Pihaknya juga menjelaskan, pembangunan MI pada tahun 1999 hanya berjarak satu tahun dengan berdirinya MTs pada tahun 2000. Hal ini berangkat dari kebutuhan para santri Ponpes Al Azhar untuk menimba ilmu ke jenjang yang lebih tinggi.
Beriringan dengan fasilitas pendidikan, Pesantren Al Azhar mulai banyak diminati oleh masyarakat, khususnya sekitar pesantren. Kemudian, pada tahun 2003 didirikan SMA Plus Al Azhar sebagai jenjang sekolah menengah atas yang unggul. "Percepatan tiga lembaga formal tersebut tak lain untuk membantu pertumbuhan pendidikan masyarakat," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jember sambil menunjukkan data-data sejarah pesantren.
Selama Ramadan, Pesantren Al Azhar tetap aktif sekolah formal seperti biasa. Namun, kegiatan di pesantren ditingkatkan. "Selama Ramadan kegiatan bertambah, seperti tadarus, ngaji kitab dan qiyamul lail,” jelasnya.
Santai di Pesantren Sebelum Lebaran
Suasana pesantren tak pernah membosankan dipandang. Hiruk pikuk santri di sore hari selalu menarik perhatian, tepatnya di bulan Ramadan. Seperti santri Ponpes Al Azhar Jember di sore hari. Mereka menunggu kiriman buka puasa dari orang tuanya sambil bersantai di halaman pondok.
Menurut Ketua Pengurus Pesantren Muhammad Raka Aditya, setiap sore di bulan Ramadan para santri Ponpes Al Azhar disambangi oleh orang tua mereka, terutama yang berasal dari sekitar pondok. "Mereka dikirim (makanan, Red) setiap hari, kecuali yang jauh-jauh, seminggu sekali," terangnya.
Sambil menunggu, santri terbiasa bersantai di teras masjid pesantren menikmati lalu lalang kendaraan lewat. Sebagian santri saling usil sesama temannya. "Itu setelah mereka kajian kitab Asar. Lalu, bersantai sebentar menunggu makanan tiba," tambah Raka, sapaan akrabnya.
Muhammad Fadil, salah seorang santri Pesantren Al Azhar, mengatakan, suasana menyenangkan ini hanya terjadi satu kali dalam setahun. "Ini selama Ramadan aja. Di luar itu kiriman santri seminggu sekali," ujar santri asal Sukowono tersebut.
Namun, setelah berbuka puasa hingga menjelang Magrib santri harus aktif lagi pada kegiatan pondok. "Mereka harus ikut salat Tarawih berjamaah dilanjutkan kajian kitab," jelas Raka kepada Jawa Pos Radar Jember.
Selama Ramadan, sekolah formal tetap masuk seperti biasa. Mulai dari MI, MTs hingga SMA Pesantren Al Azhar tidak ada pemotongan jam seperti pesantren lain. "Mereka tetap masuk dari pukul 7 pagi sampek Duhur, seperti biasa," imbuhnya. Selama puasa, di Pesantren Al Azhar juga padat kegiatan Ramadan. Sampai ketentuan libur Lebaran. (mg4/c2/nur) Editor : Safitri