alexametrics
23 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

PPDB SMK Swasta Meradang

Mobile_AP_Rectangle 1

RAMBIGUNDAM, Radar Jember – Penerimaan peserta didik baru (PPDB) jenjang SMA dan SMK swasta menuai dilema. Sebab, pada setiap PPDB, sejumlah sekolah swasta tak menjadi pilihan pertama. Hal ini seperti yang terjadi di beberapa sekolah swasta, termasuk di antaranya SMK Walisongo Rambipuji.

BACA JUGA : Sayangkan Lemahnya Perencanaan, Lapangan Notohadinegoro Jadi Alternatif

Kepala SMK Walisongo Rambipuji Zainul Arifin menjelaskan, dalam pelaksanaan PPDB ini pihaknya sudah melakukan sosialisasi di beberapa sekolah menengah pertama atau madrasah tsanawiyah. Baik secara daring maupun secara langsung ke sekolah masing-masing. “Kita upayakan semaksimal mungkin untuk melakukan sosialisasi dan pengenalan kepada SMP maupun MTs,” jelas Zainul kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tidak sampai di situ saja, pemasangan spanduk dan banner di pinggir jalan hingga pengumuman melalui media sosial juga sudah dimaksimalkan. “Beberapa tahapan sudah kita lalui, kita mulai melakukan sosialisasi dari bulan Februari lalu,” terang Zainul.

Dia menyebutkan bahwa pendaftar di sekolahnya memang didominasi oleh siswa sekitar lingkungan sekolahnya dan dari pondok pesantren. Meski begitu, sekolahnya tetap eksis dan tidak pernah kekurangan siswa. Artinya, sesuai dengan kapasitas kelas pada sekolahnya. “Kita banyak didominasi oleh warga sekitar, dan dari pondok pesantren, karena kebetulan sekolah ini berada di bawah naungan yayasan,” imbuhnya.

- Advertisement -

RAMBIGUNDAM, Radar Jember – Penerimaan peserta didik baru (PPDB) jenjang SMA dan SMK swasta menuai dilema. Sebab, pada setiap PPDB, sejumlah sekolah swasta tak menjadi pilihan pertama. Hal ini seperti yang terjadi di beberapa sekolah swasta, termasuk di antaranya SMK Walisongo Rambipuji.

BACA JUGA : Sayangkan Lemahnya Perencanaan, Lapangan Notohadinegoro Jadi Alternatif

Kepala SMK Walisongo Rambipuji Zainul Arifin menjelaskan, dalam pelaksanaan PPDB ini pihaknya sudah melakukan sosialisasi di beberapa sekolah menengah pertama atau madrasah tsanawiyah. Baik secara daring maupun secara langsung ke sekolah masing-masing. “Kita upayakan semaksimal mungkin untuk melakukan sosialisasi dan pengenalan kepada SMP maupun MTs,” jelas Zainul kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Tidak sampai di situ saja, pemasangan spanduk dan banner di pinggir jalan hingga pengumuman melalui media sosial juga sudah dimaksimalkan. “Beberapa tahapan sudah kita lalui, kita mulai melakukan sosialisasi dari bulan Februari lalu,” terang Zainul.

Dia menyebutkan bahwa pendaftar di sekolahnya memang didominasi oleh siswa sekitar lingkungan sekolahnya dan dari pondok pesantren. Meski begitu, sekolahnya tetap eksis dan tidak pernah kekurangan siswa. Artinya, sesuai dengan kapasitas kelas pada sekolahnya. “Kita banyak didominasi oleh warga sekitar, dan dari pondok pesantren, karena kebetulan sekolah ini berada di bawah naungan yayasan,” imbuhnya.

RAMBIGUNDAM, Radar Jember – Penerimaan peserta didik baru (PPDB) jenjang SMA dan SMK swasta menuai dilema. Sebab, pada setiap PPDB, sejumlah sekolah swasta tak menjadi pilihan pertama. Hal ini seperti yang terjadi di beberapa sekolah swasta, termasuk di antaranya SMK Walisongo Rambipuji.

BACA JUGA : Sayangkan Lemahnya Perencanaan, Lapangan Notohadinegoro Jadi Alternatif

Kepala SMK Walisongo Rambipuji Zainul Arifin menjelaskan, dalam pelaksanaan PPDB ini pihaknya sudah melakukan sosialisasi di beberapa sekolah menengah pertama atau madrasah tsanawiyah. Baik secara daring maupun secara langsung ke sekolah masing-masing. “Kita upayakan semaksimal mungkin untuk melakukan sosialisasi dan pengenalan kepada SMP maupun MTs,” jelas Zainul kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Tidak sampai di situ saja, pemasangan spanduk dan banner di pinggir jalan hingga pengumuman melalui media sosial juga sudah dimaksimalkan. “Beberapa tahapan sudah kita lalui, kita mulai melakukan sosialisasi dari bulan Februari lalu,” terang Zainul.

Dia menyebutkan bahwa pendaftar di sekolahnya memang didominasi oleh siswa sekitar lingkungan sekolahnya dan dari pondok pesantren. Meski begitu, sekolahnya tetap eksis dan tidak pernah kekurangan siswa. Artinya, sesuai dengan kapasitas kelas pada sekolahnya. “Kita banyak didominasi oleh warga sekitar, dan dari pondok pesantren, karena kebetulan sekolah ini berada di bawah naungan yayasan,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/