alexametrics
31.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Pentingnya Pola Asuh Guru dan Orang Tua dalam Dunia Pendidikan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Maraknya kekerasan dalam dunia pendidikan bukan hanya tanggung jawab tenaga pendidik saja. Masyarakat tak bisa melihat satu sisi dari lembaga pendidikan di mana siswa bersekolah. Sebab, waktu aktivitas siswa lebih banyak di luar sekolah. Hal ini turut disampaikan oleh Kabid SD Dinas Pendidikan (Dispendik) Endang Sulistyowati tentang upaya pencegahan kekerasan terhadap siswa, khususnya tingkat SD.

BACA JUGA : Broken Home Kerap Picu Anak Putus Sekolah

Kekerasan dalam dunia pendidikan masih kerap terjadi. Baik yang melibatkan guru ataupun kekerasan antarsiswa. Hal ini menjadi perhatian khusus sebagai upaya pencegahan tindakan tidak terpuji tersebut. Kendati bermaksud untuk mendidik, tentu guru tidak diperkenankan menggunakan sentuhan fisik. Hal ini menjadi dilema tenaga didik ketika menghadapi beberapa siswa yang terbiasa dididik dengan kekerasan sebelumnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Untuk guru memang tidak bisa menerapkan pendidikan konvensional di masa sekarang ini. Seperti memukul, memakai kekerasan fisik dalam mendidik, karena masanya sudah berbeda antara sekarang dengan dulu,” terang Endang kepada Jawa Pos Radar Jember.

Endang menambahkan, pola untuk mengganti sikap yang dianggap keras dengan memainkan intonasi suara dan mimik wajah dari guru ketika menghadapi siswa yang nakal. “Cukup dengan pandangan mata yang berbeda, dan mimik wajah yang berbeda dari guru sudah cukup memberikan edukasi terhadap siswa,” tambahnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Maraknya kekerasan dalam dunia pendidikan bukan hanya tanggung jawab tenaga pendidik saja. Masyarakat tak bisa melihat satu sisi dari lembaga pendidikan di mana siswa bersekolah. Sebab, waktu aktivitas siswa lebih banyak di luar sekolah. Hal ini turut disampaikan oleh Kabid SD Dinas Pendidikan (Dispendik) Endang Sulistyowati tentang upaya pencegahan kekerasan terhadap siswa, khususnya tingkat SD.

BACA JUGA : Broken Home Kerap Picu Anak Putus Sekolah

Kekerasan dalam dunia pendidikan masih kerap terjadi. Baik yang melibatkan guru ataupun kekerasan antarsiswa. Hal ini menjadi perhatian khusus sebagai upaya pencegahan tindakan tidak terpuji tersebut. Kendati bermaksud untuk mendidik, tentu guru tidak diperkenankan menggunakan sentuhan fisik. Hal ini menjadi dilema tenaga didik ketika menghadapi beberapa siswa yang terbiasa dididik dengan kekerasan sebelumnya.

“Untuk guru memang tidak bisa menerapkan pendidikan konvensional di masa sekarang ini. Seperti memukul, memakai kekerasan fisik dalam mendidik, karena masanya sudah berbeda antara sekarang dengan dulu,” terang Endang kepada Jawa Pos Radar Jember.

Endang menambahkan, pola untuk mengganti sikap yang dianggap keras dengan memainkan intonasi suara dan mimik wajah dari guru ketika menghadapi siswa yang nakal. “Cukup dengan pandangan mata yang berbeda, dan mimik wajah yang berbeda dari guru sudah cukup memberikan edukasi terhadap siswa,” tambahnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Maraknya kekerasan dalam dunia pendidikan bukan hanya tanggung jawab tenaga pendidik saja. Masyarakat tak bisa melihat satu sisi dari lembaga pendidikan di mana siswa bersekolah. Sebab, waktu aktivitas siswa lebih banyak di luar sekolah. Hal ini turut disampaikan oleh Kabid SD Dinas Pendidikan (Dispendik) Endang Sulistyowati tentang upaya pencegahan kekerasan terhadap siswa, khususnya tingkat SD.

BACA JUGA : Broken Home Kerap Picu Anak Putus Sekolah

Kekerasan dalam dunia pendidikan masih kerap terjadi. Baik yang melibatkan guru ataupun kekerasan antarsiswa. Hal ini menjadi perhatian khusus sebagai upaya pencegahan tindakan tidak terpuji tersebut. Kendati bermaksud untuk mendidik, tentu guru tidak diperkenankan menggunakan sentuhan fisik. Hal ini menjadi dilema tenaga didik ketika menghadapi beberapa siswa yang terbiasa dididik dengan kekerasan sebelumnya.

“Untuk guru memang tidak bisa menerapkan pendidikan konvensional di masa sekarang ini. Seperti memukul, memakai kekerasan fisik dalam mendidik, karena masanya sudah berbeda antara sekarang dengan dulu,” terang Endang kepada Jawa Pos Radar Jember.

Endang menambahkan, pola untuk mengganti sikap yang dianggap keras dengan memainkan intonasi suara dan mimik wajah dari guru ketika menghadapi siswa yang nakal. “Cukup dengan pandangan mata yang berbeda, dan mimik wajah yang berbeda dari guru sudah cukup memberikan edukasi terhadap siswa,” tambahnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/