Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Mengenal Denny JA, Peraih BRICS Literature Award 2025

M. Ainul Budi • Rabu, 28 Januari 2026 | 17:42 WIB
Mengenal Denny JA, Peraih BRICS Literature Award 2025 - Foto Ai hanya ilustrasi
Mengenal Denny JA, Peraih BRICS Literature Award 2025 - Foto Ai hanya ilustrasi

RADAR JEMBER - Ketum saya di Satupena ni, bos. Senggol dong! Sebagai Ketua Satupena Kalbar tentunya saya bangga. Denny JA, Ketum Satupena Pusat, meraih penghargaan bergengsi kelas dunia, BRICS Literature Award 2025. Ia orang Indonesia pertama meraih award itu. Saya kapan? Ups..maaf. Simak narasinya sambil seruput sekoteng, wak!

Di republik yang gemar mengukur keberhasilan dengan grafik, jabatan, dan tepuk tangan, ada satu aktivitas yang sering dianggap hobi sisa waktu, menulis.

Apalagi menulis sastra. Apalagi dilakukan oleh orang yang hidupnya dijejali rapat, penerbangan, strategi politik, dan laporan keuangan. Maka ketika Denny JA, tokoh yang dikenal super sibuk, terus menulis dengan disiplin yang nyaris keras kepala, kita sedang berhadapan dengan anomali yang patut dipelajari, bukan dicurigai.

Saya mengenal beliau sebagai Ketua Umum Persatuan Penulis Indonesia (Satupena). Di situ saya melihat satu hal yang jarang, pemimpin penulis yang benar-benar menulis.

Bukan sekadar membuka acara, bukan sekadar menandatangani proposal, tetapi hadir di halaman demi halaman teks. Konsisten. Aktif. Hampir obsesif. Ketika dunia internasional memberi pengakuan sastra kepadanya lewat BRICS Literature Award 2025, reaksi paling jujur justru bukan takjub, melainkan mengangguk pelan, ya, ini memang jalurnya. Sangat layak.

Penghargaan itu diserahkan pada 24 Januari 2026 di Hall Internasional Pameran Buku Internasional Kairo, Mesir. Bukan ruang sembarangan. Kairo adalah kota yang lebih tua dari banyak ide modern tentang kekuasaan. Di sana, manusia pertama kali menulis bukan untuk pamer, melainkan untuk melawan lupa.

Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Aleksander Okstovich, Direktur Eksekutif BRICS Literature Award, didampingi Vadim Terekhin dari BRICS Literature Network dan Douha Mostafa selaku Koordinator BRICS Mesir. Proses seleksinya berlapis dan lintas benua: lebih dari tiga puluh nama diumumkan di Brasil, sepuluh besar di Jakarta, dan pemenang ditetapkan di Rusia. Data ini penting, agar kita tidak jatuh pada prasangka murahan bernama “kebetulan”.

Namun justru setelah penghargaan itu diberikan, cerita menjadi lebih menarik, bahkan mengganggu logika umum. Denny JA mendonasikan seluruh dana BRICS Literature Award 2025. Bukan sebagian. Bukan simbolik. Seluruhnya. Tanpa potongan.

Dana itu disalurkan melalui Denny JA Foundation untuk pengembangan sastra dunia. Di era ketika kebaikan sering disisakan setengah agar tetap bisa difoto, keputusan ini terasa nyaris berlebihan. Tapi mungkin justru di sanalah letak etikanya.

Denny JA, nama lengkapnya Denny Januar Ali, lahir di Palembang pada 4 Januari 1963. Ia dikenal sebagai konsultan politik, pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), pengusaha, sekaligus sastrawan. Sejak 2004, ia tercatat terlibat dalam kemenangan lima pemilihan presiden berturut-turut. Pada 2025, ia ditunjuk sebagai Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi. Laporan resmi KPK mencatat total kekayaannya melampaui tiga triliun rupiah.

Dengan latar semacam itu, menambah satu sumber dana pribadi jelas bukan kebutuhan hidup. Justru karena itu, keputusan mendonasikan seluruh hadiah sastra menjadi pernyataan moral yang sulit disepelekan.

Dalam konteks sastra Indonesia, kita memiliki tradisi panjang pengakuan dunia. Pramoedya Ananta Toer dengan Ramon Magsaysay Award 1995 dan nominasi Nobel Sastra.

Sapardi Djoko Damono dengan SEA Write Award 1986. Goenawan Mohamad dengan Prince Claus Award 1999. Sitor Situmorang dengan penghargaan dari Unesco. Denny JA kini berdiri di barisan itu, namun dengan satu catatan unik, ia adalah penerima pertama BRICS Literature Award, sebuah penghargaan baru yang sejak kelahirannya langsung memosisikan diri sebagai panggung global.

Yang membedakan Denny JA dari banyak penerima penghargaan sastra bukan hanya rekam jejak lintas bidang, melainkan kontribusinya melahirkan genre puisi esai. Sebuah bentuk sastra yang menggabungkan riset faktual, empati kemanusiaan, dan kekuatan bahasa liris. Genre ini tidak berhenti sebagai eksperimen lokal.

Ia berkembang lintas negara, melahirkan Festival Puisi Esai ASEAN yang pada tahun ini memasuki penyelenggaraan kelima di Malaysia. Sejarah sastra mencatat, banyak yang menerima penghargaan, sangat sedikit yang menciptakan bentuk baru.

Dalam pidato penerimaan yang dibacakan Sastri Bakry karena Denny JA harus menghadiri agenda World Economic Forum, satu pesan disampaikan dari Kairo kepada dunia, jangan biarkan Hadiah Nobel menjadi satu-satunya kompas sastra global. Sastra, kata Denny JA, bukan kerajaan nilai yang diperintah dari satu pusat.

Ia adalah percakapan tanpa pusat, tempat setiap bahasa, setiap luka, dan setiap pengalaman manusia berhak mendapat ruang.

Maka donasi penuh itu menemukan maknanya. Ia bukan aksi kedermawanan kosong, melainkan konsekuensi logis dari pandangan bahwa sastra adalah ekosistem bersama.

Di kota yang mengajarkan manusia menulis agar ingatan lebih panjang dari kekuasaan, Denny JA seakan mengingatkan kita pada satu kebenaran lama, ukuran kebesaran penulis bukan pada apa yang ia kumpulkan, melainkan pada apa yang ia lepaskan, demi hidupnya kata-kata.

Selamat dan sukses buat Pak Denny JA. Semoga jejak dunia mu bisa diikuti oleh para penulis lainnya.

“Abang tak diajak ngopi sama Pak Denny?”

“Beliau orang sibuk, wak. Beliau sibuk di Puisi Esai, saya sibuk di Jurnalisme yang Menyapa. Saya senang, semoga bisa mengikuti jejak langkahnya.”

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Editor : M. Ainul Budi
#denny ja #Satupena #brics #TOKOH