Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Republik Cendol: Gincu di Layar, Debu di Jalanan

M. Ainul Budi
Penulis: M. Ainul Budi❯
A. Nawawi Maksum (Tokoh Ulama Muda Bondowoso, Pengasuh PP Nurut Taqwa.)
A. Nawawi Maksum (Tokoh Ulama Muda Bondowoso, Pengasuh PP Nurut Taqwa.)

Advertisement

Oleh: A. Nawawi Maksum

Di sebuah pagi yang dipenuhi kabut tipis di lereng Argopuro, Bondowoso biasanya terbangun dengan doa-doa dari surau dan aroma kopi yang jujur. Namun belakangan, udara kita terasa lebih pekat, bukan karena asap pembakaran jerami, melainkan karena aroma satire yang menyengat dari layar ponsel.

Advertisement

 Sebuah video pendek melesat, menampilkan sang pemegang mandat tertinggi di kabupaten ini sedang menebar senyum paling karismatik. Kalimatnya tertata, intonasinya santun, ia sedang mengucapkan selamat ulang tahun kepada "Empok Cendol".

Bagi warga digital, Empok Cendol adalah representasi dari sebuah pilihan hidup yang eksentrik—seorang laki-laki yang memilih jalan riuh dengan berdandan perempuan, melenturkan tulang maskulinnya, dan memperagakan gestur "tulang lunak" demi tawa atau angka viewer.

Advertisement

Secara personal, tentu itu ruang privatnya. Namun, ketika seorang Bupati memberikan panggung protokoler dan sapaan hangat kepada persona tersebut, ada sebuah pergeseran gravitasi moral yang sedang dipertontonkan: bahwa yang viral, betapa pun absurdnya, kini punya derajat yang lebih tinggi daripada yang nyata.

Di sinilah letak getirnya. Sementara sang Bupati begitu tangkas dan responsif menyapa sosok "tulang lunak" tersebut, ribuan warga di pelosok Bondowoso justru sedang berhadapan dengan realitas yang teramat keras. Realitas itu tidak selembut cendol. Ia berbentuk lubang-lubang jalan yang menganga, yang jika musim hujan tiba, menjelma menjadi kubangan duka bagi para petani yang hendak membawa hasil bumi ke pasar.

 Ia berbentuk jembatan-jembatan yang punggungnya patah, yang membuat anak-anak sekolah harus bertaruh nyawa demi sebuah cita-cita.

Mari kita jujur menatap cermin kebijakan. Mengapa untuk urusan ucapan ulang tahun kepada sosok kontroversial, sang pemimpin begitu lincah muncul di layar? Namun, ketika warga berteriak tentang "gaibnya" LPG 3 kg—si tabung melon yang kini lebih langka daripada kejujuran di musim politik—sang pemimpin seolah memilih jalan sunyi.

 Ia menjadi pertapa digital yang sulit ditemui fisiknya di lapangan, jarang menyapa warga yang jembatannya ambrol, dan seolah enggan mengotori sepatu larsnya dengan debu jalanan yang hancur.

Kegaduhan ini pun akhirnya melahirkan dua kubu yang saling serang di ruang siber. Siapa pun yang berani mengkritik sapaan mesra sang Bupati langsung dicap sebagai "Pasukan Sakit Hati". Sebuah label yang murah untuk membungkam akal sehat, seolah-olah kritik terhadap kebijakan hanya bisa lahir dari rasa dendam atau kegagalan politik masa lalu. Di sisi lain, mereka yang membela mati-matian—bahkan untuk hal yang nalar santri pun sulit terima—dengan cepat dilabeli sebagai "Barisan Penjilat".

Dialog publik kita akhirnya mati di tangan label-label ini. Padahal, inti masalahnya bukan pada siapa yang sakit hati atau siapa yang mencari muka, melainkan pada sebuah fakta keras: Bondowoso sedang butuh kerja nyata, bukan konten belaka.

Advertisement

Artikel Terkait

Tak Kunjung Diperbaiki Pemkab, Lubang Jalan Akses SMPN 1 Sumberbaru Jember Makin Parah

Tak Kunjung Diperbaiki Pemkab, Lubang Jalan Akses SMPN 1 Sumberbaru Jember Makin Parah

Jalan rusak sepanjang hampir 1 kilometer di Dusun Krajan Kidul Yosorati Sumberbaru mengganggu keselamatan warga dan pelajar menuju SMPN 1 Sumberbaru.

Jalan Otista Mangli Jember Rusak Berulang, Warga Usul Pengecoran Solusi Permanen

Jalan Otista Mangli Jember Rusak Berulang, Warga Usul Pengecoran Solusi Permanen

Warga mengeluhkan kerusakan berulang di Jalan Otista Mangli Jember dan mendesak perbaikan dengan pengecoran beton agar lebih tahan terhadap beban kendaraan.

Pemkab Lumajang Kucurkan Rp 60 Miliar, Perbaikan Jalan Rusak Capai 29 Perse

Pemkab Lumajang Kucurkan Rp 60 Miliar, Perbaikan Jalan Rusak Capai 29 Perse

Pemkab Lumajang mengalokasikan anggaran hingga Rp 60 miliar dan menuntaskan perbaikan 29 persen jalan rusak secara bertahap guna memperlancar konektivitas warga.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer