KEPATIHAN, Radar Jember - Pelayanan calon tamu Allah di Jember terus dimatangkan. Setelah rangkaian manasik terintegrasi tingkat kecamatan tuntas, maka Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Jember bersiap menggelar bimbingan manasik haji tingkat kabupaten usai Idul Fitri.
Sebanyak 2.920 jamaah haji Jember tahun ini telah mengikuti program bimbingan manasik haji terintegrasi. Seluruh rangkaian kegiatan itu dilaksanakan di lima hotel di Jember.
Konsep tersebut menjadi pembeda dibanding tahun-tahun sebelumnya yang umumnya digelar di aula kecamatan atau gedung pertemuan.
Kepala Kantor Kemenhaj Jember, Nur Sholeh, mengatakan pelaksanaan manasik di hotel merupakan bagian dari peningkatan pelayanan.
“Tahun ini memang beda dari sebelumnya. Seluruh bimbingan manasik haji tingkat kecamatan kita laksanakan di hotel,” ujarnya.
Setiap jamaah mengikuti manasik sebanyak empat kali pertemuan. Pelaksanaannya dilakukan dengan menggabungkan beberapa kecamatan dalam satu lokasi hotel.
Skema itu dipilih dengan sejumlah pertimbangan teknis, termasuk efektivitas waktu, kesiapan fasilitas, dan standar kenyamanan tempat kegiatan.
Menurut Nur Sholeh, pemilihan hotel berbintang bukan semata soal gengsi. Fasilitas ruang ber-AC, tata ruang representatif, hingga akses lift menjadi bagian dari simulasi kondisi yang akan ditemui jamaah saat berada di Arab Saudi.
“Kami ingin jamaah mendapatkan pelayanan yang lebih baik dan nyaman,” katanya.
Ia menambahkan, pembiasaan menggunakan lift sejak di Jember menjadi salah satu poin penting. Di Tanah Suci, mayoritas hotel tempat menginap jamaah sudah dilengkapi lift.
Karena itu, jamaah terutama lansia perlu dilatih agar terbiasa naik turun lantai dengan aman dan tertib.
Setelah tahapan terintegrasi rampung, manasik tingkat kabupaten akan menjadi forum pemantapan materi ibadah sekaligus penyamaan persepsi teknis keberangkatan.
Rencananya, kegiatan tersebut dilaksanakan setelah Idul Fitri dengan melibatkan seluruh jamaah dalam satu agenda besar.
Dengan begitu, diharapkan jamaah haji Jember tahun ini semakin siap secara mental, fisik, dan teknis sebelum berangkat ke Tanah Suci.
“Tak hanya itu, sebelumnya juga disiapkan bimbingan khusus bagi ketua rombongan (karom) dan ketua regu (karu), yang akan difokuskan pada penguatan koordinasi, manajemen jamaah, hingga respons cepat saat menghadapi kendala di lapangan,” pungkasnya. (dhi/dwi)
Editor : M. Ainul Budi