Radar Jember - Badan Gizi Nasional (BGN) resmi menyiapkan strategi khusus agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap menyasar masyarakat selama bulan suci Ramadan.
Kepala BGN Dadan Hindayana memastikan distribusi akan menyesuaikan kebutuhan ibadah masyarakat tanpa mengurangi kualitas nutrisi.
"Terkait dengan persiapan menghadapi Ramadan, kan ada empat mekanisme yang kita kembangkan, ya," ujar Dadan usai penandatanganan kesepakatan di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (9/2/2026).
Baca Juga: Siap-Siap! Estimasi Jadwal Cair THR Lebaran 2026: Karyawan Swasta dan ASN Wajib Catat Tanggalnya
Strategi Distribusi: Dari Makanan Kering hingga Pergeseran Jadwal
Pemerintah membagi skema penyaluran menjadi empat prioitas.
Sementara itu, pelayanan untuk kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dipastikan tidak berubah.
Distribusi tetap dilakukan secara normal untuk menjaga kesehatan mereka.
Sekolah dengan Mayoritas Siswa berpuasa
Di wilayah mayoritas Muslim, siswa akan menerima makanan tahan lama yang bisa dibawa pulang untuk menu berbuka.
Menu yang disiapkan mulai dari kurma, telur asin, abon, hingga susu dan camilan lokal.
Baca Juga: Cek Sekarang! Daftar Penerima BLT, PKH, dan BPNT Februari 2026 Sudah Tersedia
Sekolah dengan Mayoritas Siswa Tidak Berpuasa
Bagi sekolah di wilayah yang sebagian besar siswanya tidak berpuasa, layanan makanan segar tetap diberikan pada jam sekolah seperti biasa.
Prioritas Ibu Hamil dan Balita
Pelayanan untuk kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dipastikan tidak berubah.
Distribusi tetap dilakukan secara normal untuk menjaga kesehatan mereka.
Skema Khusus Pesantren
Untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan pesantren, jadwal memasak dan distribusi akan digeser ke sore hari menjelang waktu berbuka puasa.
Mengingat penerima manfaat dan dapur layanan gizi berada dalam satu area.
Kendalikan Harga Pangan Lewat Substitusi Menu
Selain soal distribusi, BGN juga berperan sebagai pengendali harga pangan selama Ramadan.
Dadan menjelaskan bahwa pihaknya akan fleksibel dalam menyusun menu untuk menghindari lonjakan harga komoditas tertentu.
"Dan saya yakin dengan mekanisme pengaturan menu, lonjakan permintaan terhadap produk tertentu akan kita kendalikan. Seperti diketahui bahwa Badan Gizi sekarang bisa berusaha mengendalikan permintaan produk. Jika berlebihan, kita akan alihkan untuk mencari substitusi. Jika kurang permintaannya, kita dorong untuk supaya harganya naik," terangnya.
BGN juga berencana menggandeng pelaku UMKM lokal dalam penyediaan menu, sehingga ekonomi kerakyatan tetap berputar selama bulan puasa.
Editor : Imron Hidayatullahh