Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Meski Awal Puasa Kerap Berbeda, Kerukunan Umat Tetap Terjaga

M Adhi Surya
Penulis: M Adhi Surya❯

IBADAH : Warga Jember laksanakan salat tarawih terakhir ramadan tahun lalu.
IBADAH : Warga Jember laksanakan salat tarawih terakhir ramadan tahun lalu.


Advertisement

Radar Jember – Penentuan awal Ramadan di Indonesia nyaris tak pernah benar-benar seragam. Hampir setiap tahun, selalu ada sebagian umat Islam yang memulai puasa lebih awal, sementara sebagian lainnya baru berpuasa keesokan harinya.

Kondisi tersebut kembali terjadi dan sudah menjadi bagian dari dinamika kehidupan beragama di Indonesia.Perbedaan itu tak lepas dari metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan hijriah.

Hingga kini, dua pendekatan masih berjalan beriringan dan sama-sama memiliki dasar keilmuan serta pijakan syariat yang kuat.

Advertisement

Kementerian Agama menjelaskan bahwa penentuan awal Ramadan dilakukan melalui pengamatan langsung hilal dan perhitungan astronomi.

Kedua metode tersebut kemudian dipertemukan dalam sidang isbat yang digelar pemerintah. Di lapisan masyarakat, perbedaan awal puasa relatif tak menimbulkan persoalan.

Aktivitas warga berlangsung normal.

Advertisement

Warung makan tetap beroperasi dengan penyesuaian, sementara umat yang berpuasa menjalankan ibadahnya tanpa gangguan berarti.

Nahdlatul Ulama sejak lama berpandangan bahwa perbedaan awal Ramadan merupakan konsekuensi dari metode rukyatul hilal.

Organisasi ini menilai penetapan awal bulan sebaiknya didasarkan pada hasil pengamatan langsung, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

Di sisi lain, Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Melalui pendekatan ini, awal Ramadan ditetapkan berdasarkan perhitungan peredaran bulan dan matahari.

Jika kriteria telah terpenuhi, maka bulan baru dinyatakan telah masuk.

Perbedaan pendekatan tersebut kerap berujung pada perbedaan tanggal puasa.

Namun sejumlah tokoh agama mengingatkan agar hal itu tidak dijadikan bahan perdebatan berkepanjangan di tengah masyarakat.

Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, menilai perbedaan awal Ramadan justru mencerminkan hidupnya tradisi keilmuan Islam.

Menurutnya, perbedaan semacam itu bukan hal baru dan sudah berlangsung sejak masa para ulama terdahulu.

“Dari dulu ulama memang berbeda pendapat. Kalau semua seragam, justru ilmunya mati,” kata Gus Baha dalam salah satu pengajiannya.

Ia mengingatkan, umat Islam seharusnya tidak kehilangan adab hanya karena perbedaan satu hari dalam memulai puasa.

Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah bagaimana Ramadan dijalani dengan ketenangan dan sikap saling menghormati.

“Puasa itu ibadah. Jangan sampai ibadah malah membuat kita mudah menyalahkan orang lain,” ujarnya.

Pemerintah sendiri terus menekankan pentingnya sikap saling menghargai. Sidang isbat disebut sebagai forum musyawarah untuk mempertemukan data hisab dan hasil rukyat, bukan untuk mempertentangkan perbedaan.

Dengan demikian, perbedaan awal puasa bukanlah sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Yang utama, ibadah Ramadan tetap dijalani dengan khusyuk, damai, dan penuh kedewasaan. (dhi)

Advertisement

Artikel Terkait

Sowani Kiai dan Ulama, Gus Fawait Lapor Progres Pembangunan Jember

Sowani Kiai dan Ulama, Gus Fawait Lapor Progres Pembangunan Jember

Di hadapan para tokoh agama yang dipandangnya sebagai guru spiritual, ia menegaskan bahwa para kiai merupakan fondasi penentu arah kebijakan dan moral kepemimpinannya di Jember.

Respon Gus Fawait Terhadap Seruan Ulama Soal Penggunaan Sound Horeg di Jember

Respon Gus Fawait Terhadap Seruan Ulama Soal Penggunaan Sound Horeg di Jember

Sebagai langkah taktis, ia menyatakan posisinya sebagai bapak bagi seluruh warga Jember yang menuntut ada keseimbangan antara ruang ekspresi warga dan kenyamanan publik.

Pemkab Jember Genjot Kinerja OPD, Serapan Anggaran Didorong Jadi Katalis Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Pemkab Jember Genjot Kinerja OPD, Serapan Anggaran Didorong Jadi Katalis Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Langkah itu dioptimalkan sebagai instrumen utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer