alexametrics
27.1 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

Sapi Perlu Dijemur Mirip Orang Terkena Covid JOGJAKARTA

Mobile_AP_Rectangle 1

JOGJAKARTA, RADARJEMBER.ID-Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) memiliki tingkat penularan cukup cepat. Mirip Covid-19, hewan ternak terpapar juga harus menjalani isolasi. Peternak dan pedagang sapi kurban memiliki cara untuk mempercepat pemulihan ternak terkena PMK, hewan tersebut terpaksa harus dikarantina di Laguna Pantai Glagah.

BACA JUGA: 80 Persen UMKM Online Dinilai Mampu Bertahan selama Pandemi

Ada hal berbeda di Laguna Pantai Glagah, Temon. Tanah lapang hijau dipenuhi rerumputan di bawah tegakan pohon itu terdapat beberapa ekor sapi, belakangan diketahui tengah menjalani proses karantina karena terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK).

Mobile_AP_Rectangle 2

Sapi-sapi itu sedang menjalani perawatan intensif sengaja ditempatkan di titik-titik ruang terbuka, menghirup udara pantai mengandung garam, dan bermandikan terik matahari agar sapi terlihat sehat.

Hal ini sama seperti manusia melakukan terapi, mereka juga kadang diajak berjalan-jalan oleh sang pemilik, serta merawat dan meningkatkan kebugaran ternak sehingga tidak mudah tertular virus PMK.

Laguna Pantai Glagah dipilih juga karena pasokan pakan melimpah, padang rumpu tumbuh subur karena kerap diguyur hujan itu menjadi makanan lezat nan sehat bagi para sapi. Satu, dua, tiga ekor sapi seperti dimanjakan, berangsur membaik dan sehat.

Agus Purnomo, warga Glagah, salah satu peternak sekaligus pedagang sapi kurban, mengatakan , ia sengaja memilih laguna untuk lokasi karantina karena jauh dari kandang. Jelang Idul Adha,adalah momentum mencari keuntungan, kini justru berada di posis sulit.

“Kami tidak berani memasok lebih , karena sapi terpapar PMK tidak laku. Upaya yang bisa dilakukan menyediakan hewan kurban jelang pelaksanaan. Kurban 9 Juli, kami janjikan 30 Juni agar tidak risiko PMK,” ucapnya, Selasa (21/6).

Dijelaskan, menjelang kurban, ia memiliki pasokan hewan kurban sebanyak 15 ekor sapi. Enam di antaranya sudah laku terjual. Ia juga mengaku kesulitan untuk mendatangkan pasokan hewan kurban dari daerah lain karena pasar hewan ditutup.”kata Agus.

- Advertisement -

JOGJAKARTA, RADARJEMBER.ID-Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) memiliki tingkat penularan cukup cepat. Mirip Covid-19, hewan ternak terpapar juga harus menjalani isolasi. Peternak dan pedagang sapi kurban memiliki cara untuk mempercepat pemulihan ternak terkena PMK, hewan tersebut terpaksa harus dikarantina di Laguna Pantai Glagah.

BACA JUGA: 80 Persen UMKM Online Dinilai Mampu Bertahan selama Pandemi

Ada hal berbeda di Laguna Pantai Glagah, Temon. Tanah lapang hijau dipenuhi rerumputan di bawah tegakan pohon itu terdapat beberapa ekor sapi, belakangan diketahui tengah menjalani proses karantina karena terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK).

Sapi-sapi itu sedang menjalani perawatan intensif sengaja ditempatkan di titik-titik ruang terbuka, menghirup udara pantai mengandung garam, dan bermandikan terik matahari agar sapi terlihat sehat.

Hal ini sama seperti manusia melakukan terapi, mereka juga kadang diajak berjalan-jalan oleh sang pemilik, serta merawat dan meningkatkan kebugaran ternak sehingga tidak mudah tertular virus PMK.

Laguna Pantai Glagah dipilih juga karena pasokan pakan melimpah, padang rumpu tumbuh subur karena kerap diguyur hujan itu menjadi makanan lezat nan sehat bagi para sapi. Satu, dua, tiga ekor sapi seperti dimanjakan, berangsur membaik dan sehat.

Agus Purnomo, warga Glagah, salah satu peternak sekaligus pedagang sapi kurban, mengatakan , ia sengaja memilih laguna untuk lokasi karantina karena jauh dari kandang. Jelang Idul Adha,adalah momentum mencari keuntungan, kini justru berada di posis sulit.

“Kami tidak berani memasok lebih , karena sapi terpapar PMK tidak laku. Upaya yang bisa dilakukan menyediakan hewan kurban jelang pelaksanaan. Kurban 9 Juli, kami janjikan 30 Juni agar tidak risiko PMK,” ucapnya, Selasa (21/6).

Dijelaskan, menjelang kurban, ia memiliki pasokan hewan kurban sebanyak 15 ekor sapi. Enam di antaranya sudah laku terjual. Ia juga mengaku kesulitan untuk mendatangkan pasokan hewan kurban dari daerah lain karena pasar hewan ditutup.”kata Agus.

JOGJAKARTA, RADARJEMBER.ID-Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) memiliki tingkat penularan cukup cepat. Mirip Covid-19, hewan ternak terpapar juga harus menjalani isolasi. Peternak dan pedagang sapi kurban memiliki cara untuk mempercepat pemulihan ternak terkena PMK, hewan tersebut terpaksa harus dikarantina di Laguna Pantai Glagah.

BACA JUGA: 80 Persen UMKM Online Dinilai Mampu Bertahan selama Pandemi

Ada hal berbeda di Laguna Pantai Glagah, Temon. Tanah lapang hijau dipenuhi rerumputan di bawah tegakan pohon itu terdapat beberapa ekor sapi, belakangan diketahui tengah menjalani proses karantina karena terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK).

Sapi-sapi itu sedang menjalani perawatan intensif sengaja ditempatkan di titik-titik ruang terbuka, menghirup udara pantai mengandung garam, dan bermandikan terik matahari agar sapi terlihat sehat.

Hal ini sama seperti manusia melakukan terapi, mereka juga kadang diajak berjalan-jalan oleh sang pemilik, serta merawat dan meningkatkan kebugaran ternak sehingga tidak mudah tertular virus PMK.

Laguna Pantai Glagah dipilih juga karena pasokan pakan melimpah, padang rumpu tumbuh subur karena kerap diguyur hujan itu menjadi makanan lezat nan sehat bagi para sapi. Satu, dua, tiga ekor sapi seperti dimanjakan, berangsur membaik dan sehat.

Agus Purnomo, warga Glagah, salah satu peternak sekaligus pedagang sapi kurban, mengatakan , ia sengaja memilih laguna untuk lokasi karantina karena jauh dari kandang. Jelang Idul Adha,adalah momentum mencari keuntungan, kini justru berada di posis sulit.

“Kami tidak berani memasok lebih , karena sapi terpapar PMK tidak laku. Upaya yang bisa dilakukan menyediakan hewan kurban jelang pelaksanaan. Kurban 9 Juli, kami janjikan 30 Juni agar tidak risiko PMK,” ucapnya, Selasa (21/6).

Dijelaskan, menjelang kurban, ia memiliki pasokan hewan kurban sebanyak 15 ekor sapi. Enam di antaranya sudah laku terjual. Ia juga mengaku kesulitan untuk mendatangkan pasokan hewan kurban dari daerah lain karena pasar hewan ditutup.”kata Agus.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/