alexametrics
30.2 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

BBM Naik Tak Pengaruhi Inflasi

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID- Kebijakan tak populer seperti menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan LPG nonsubsidi selalu memunculkan polemik. Meski begitu, Pertamina bergeming lantaran kenaikan itu masih terbilang wajar.

BACA JUGA : Penumpukan Persediaan di AS, Harga Minyak Turun

Komaidi Notonegoro, Pengamat energi dari Reforminer Institute menuturkan, Pertamina sebagai badan usaha memang memiliki hak menaikkan harga. ’’Kalau Pertamina beli saat harga naik, praktis Pertamina tidak bakal jual murah.”terang Komaidi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sejauh ini, BBM nonsubsidi memang dikonsumsi oleh kalangan menengah ke atas. Porsi penggunaan BBM nonsubsidi berada di kisaran 6–7 juta kiloliter. Sementara itu, untuk BBM subsidi seperti pertalite saja, penggunaan mencapai 28–30 juta kiloliter.

Melihat perbandingan tersebut, dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi diprediksi tidak akan terlalu besar.Komaidi melanjutkan, kinerja keuangan Pertamina juga tentu akan terbantu dengan kenaikan itu. Dibandingkan apabila tidak menaikkan harga.

Senada, Fahmy Radhi, pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menerangkan, kebijakan itu bisa memperbaiki cash inflow Pertamina. Sama seperti harga LPG nonsubsidi. Fahmy menilai kenaikan harga memang harus dilakukan.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID- Kebijakan tak populer seperti menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan LPG nonsubsidi selalu memunculkan polemik. Meski begitu, Pertamina bergeming lantaran kenaikan itu masih terbilang wajar.

BACA JUGA : Penumpukan Persediaan di AS, Harga Minyak Turun

Komaidi Notonegoro, Pengamat energi dari Reforminer Institute menuturkan, Pertamina sebagai badan usaha memang memiliki hak menaikkan harga. ’’Kalau Pertamina beli saat harga naik, praktis Pertamina tidak bakal jual murah.”terang Komaidi.

Sejauh ini, BBM nonsubsidi memang dikonsumsi oleh kalangan menengah ke atas. Porsi penggunaan BBM nonsubsidi berada di kisaran 6–7 juta kiloliter. Sementara itu, untuk BBM subsidi seperti pertalite saja, penggunaan mencapai 28–30 juta kiloliter.

Melihat perbandingan tersebut, dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi diprediksi tidak akan terlalu besar.Komaidi melanjutkan, kinerja keuangan Pertamina juga tentu akan terbantu dengan kenaikan itu. Dibandingkan apabila tidak menaikkan harga.

Senada, Fahmy Radhi, pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menerangkan, kebijakan itu bisa memperbaiki cash inflow Pertamina. Sama seperti harga LPG nonsubsidi. Fahmy menilai kenaikan harga memang harus dilakukan.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID- Kebijakan tak populer seperti menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan LPG nonsubsidi selalu memunculkan polemik. Meski begitu, Pertamina bergeming lantaran kenaikan itu masih terbilang wajar.

BACA JUGA : Penumpukan Persediaan di AS, Harga Minyak Turun

Komaidi Notonegoro, Pengamat energi dari Reforminer Institute menuturkan, Pertamina sebagai badan usaha memang memiliki hak menaikkan harga. ’’Kalau Pertamina beli saat harga naik, praktis Pertamina tidak bakal jual murah.”terang Komaidi.

Sejauh ini, BBM nonsubsidi memang dikonsumsi oleh kalangan menengah ke atas. Porsi penggunaan BBM nonsubsidi berada di kisaran 6–7 juta kiloliter. Sementara itu, untuk BBM subsidi seperti pertalite saja, penggunaan mencapai 28–30 juta kiloliter.

Melihat perbandingan tersebut, dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi diprediksi tidak akan terlalu besar.Komaidi melanjutkan, kinerja keuangan Pertamina juga tentu akan terbantu dengan kenaikan itu. Dibandingkan apabila tidak menaikkan harga.

Senada, Fahmy Radhi, pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menerangkan, kebijakan itu bisa memperbaiki cash inflow Pertamina. Sama seperti harga LPG nonsubsidi. Fahmy menilai kenaikan harga memang harus dilakukan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/