Sepeda Gazelle seri 11 itu, menurut Sugiono Yongky Wibowo, didapat dari seorang kolektor. Pada 2016 lalu, dirinya ikut berburu sepeda Gazelle. Dia menuju ke berbagai kota yang ada di Indonesia untuk mengetahui lebih dalam apa yang membuat sepeda asal Belanda itu mahal. "Akhirnya, saya ketemu dengan banyak orang. Di situ saya banyak belajar," ulasnya.
Dalam berburu sepeda tua, menurut dia, memang tidak semua orang paham. Ada yang membeli dengan harga mahal tetapi barangnya tidak orisinal. "Setelah saya banyak belajar, akhirnya saya ketemu dengan tempat orang yang punya sepeda ini. Saat itu, saya membelinya Rp 35 juta. Kemudian, saya ikut bersama teman-teman di berbagai event," ucapnya.
Melalui perburuan dan kerja kerasnya, sepeda Gazelle miliknya banyak diburu orang. Tawaran harga pun telah sampai pada penyebutan nominal. Namun, Yongki tidak mau menjualnya. "Tidak saya jual walaupun orangnya sampai datang membawa uang ke sini Rp 145 juta. Tidak saya jual karena saya sangat suka. Kalau saya jual, saya juga belum tentu bisa mendapatkannya lagi," cetusnya.
Sepeda Gazelle miliknya diakui orisinal oleh banyak orang. Demi menjaga agar sepedanya tetap bagus, dia mencopot beberapa bagian untuk disimpan. "Seperti di gir, saya copot karena takut aus. Kemudian, jagang sepeda juga saya ganti dan yang asli saya simpan," ulasnya.
Setiap sepeda, menurut dia, memiliki ciri asli. Yaitu ada merek serta keasliannya bisa dikenali. Terkadang, orang yang belum mengerti hanya membeli seri 11 tanpa mengetahui apakah seluruh bagiannya orisinal. "Karena seri 11 itu saja ada banyak. Biasanya ada yang campuran," ucap Yongky, yang merupakan anggota dewan dari PPP tersebut.
Selain itu, tanda barang ori atau tidak juga dapat dilihat dari bagian cat sepeda. Selain itu, masing-masing bagian juga memiliki ciri tersendiri. Karena itu, apabila bukan orisinal akan diketahui. "Untuk lampu, lampu belakang yang orisinal atau aslinya masih hidup," ucapnya.
Yongki mengaku, sekalipun dirinya bergurau, dia tidak akan menjualnya kepada orang. "Pernah dulu ada teman. Saat itu dia bilang suka sepeda saya yang lain. Karena teman, akhirnya saya bilang, kalau bawa Vario terbaru, silakan bawa sepedanya. Ternyata, seminggu kemudian dia minta KTP saya. Sepeda dia bawa, ditukar Vario. Sekarang, walaupun gurau, kalau tidak dijual, ya, tidak dijual," pungkasnya.
Jurnalis: Nur Hariri
Fotografer: Dwi Siswanto
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Maulana Ijal