Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Penambang Manual Kian Terdesak, Pasir Asal Lumajang Lebih Bagus dan Murah, KOK BISA?

Radar Digital • Rabu, 8 Mei 2024 | 20:33 WIB
MASIH BERTAHAN: Penambang pasir di Sungai Kalimayang, Dusun Krajan, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, yang masih bertahan.(JUMAI/RJ)
MASIH BERTAHAN: Penambang pasir di Sungai Kalimayang, Dusun Krajan, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, yang masih bertahan.(JUMAI/RJ)

ANDONGSARI, Radar Jember – Salah satu bahan bangunan yang permintaannya tidak pernah berhenti adalah pasir. Banyak orang bekerja sebagai penambang pasir manual. Bahkan tak sedikit yang melakukannya dengan memakai alat berat, namun tidak berizin alias ilegal. Nah, tantangan penambang pasir ini pun kian besar karena stok pasir semakin sulit didapat.

Seperti penambang pasir di Sungai Kalimayang, Dusun Krajan, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, yang mulai kesulitan mendapatkan pasir. Biasanya di sepanjang Sungai Kalimayang banyak orang yang menambang. Namun, belakangan ini sudah mulai berkurang. Penyebabnya, pasir yang ada di Sungai Kalimayang sudah semakin sedikit. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Di sungai ini, beberapa tahun sebelumnya banyak yang menjadi penambang. Namun, sekarang sudah banyak yang beralih menjadi buruh tani. “Pasirnya semakin sedikit, pesanan pasir sungai juga tidak seperti dulu lagi,” kata Hadi Purnama, penambang asal Desa Andongsari.

Selain itu, harga jual pasir juga kalah saing dengan pasir asal Lumajang. “Sekarang ini banyak orang yang membangun rumah memilih beli pasir asal Lumajang. Pasirnya memang bagus dan harganya tidak lebih murah,” ucapnya.

Menurutnya, jumlah penambang pasir Kalimayang banyak, termasuk pesanannya. Namun, kini orang-orang hanya pesan dalam skala kecil dan kebanyakan hanya orang yang kenal. “Pasirnya sudah sedikit, pesanan pun tidak banyak,” ucapnya. Menurutnya, kondisi ini berbeda dengan di Lumajang. Setiap ada banjir atau lahar Gunung Semeru, stok pasir banyak lagi.

Dikatakan, untuk bisa mendapatkan pasir sungai, selain ditambang manual, juga menambang dengan mesin penyedot air. Dengan menggunakan selang besar, pasir bisa tersedot. “Kalau hanya mengandalkan dengan cara menyelam khusus di sungai yang dalam, sulit dapat pasir,” jelasnya.

Untuk bisa memenuhi satu jukung kecil, Hadi menyebut butuh waktu sekitar 1 hingga 1,5 jam. “Kalau ada pasirnya bisa cepat, tetapi sekarang ini cukup sulit. Kadang kerikil yang didapat,” jelas Hadi.

Satu rit pasir ukuran separo mobil pikap bisa dijual dengan harga Rp 110.000. “Ini belum dipotong biaya untuk beli bahan bakar minyak (BBM),” kata Hadi di lokasi penambangan.

Dia menjelaskan, perincian kebutuhan yang diperlukan yaitu satu liter BBM Rp 12.000 dan biaya kas jalan Rp 5.000. Setelah potongan itu, dibagi sesuai dengan jumlah pekerja. Biasanya, dalam satu jukung ada satu sampai 3 pekerja. “Biasanya kalau pasir tidak ada, ada yang kerja cari kayu bakar di hutan dan ada yang ikut buruh tani saat musim panen,” jelasnya. Dia pun berharap agar stok pasir banyak, sehingga kerja bisa lebih cepat dan untung lebih banyak. (jum/c2/nur)

Editor : Radar Digital
#tambang #Lumajang