Imbas kerusakan akibat banjir lahar Gunung Semeru masih menyisakan kesulitan akses bagi warga Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian, Lumajang.
Jembatan limpas yang terputus menyebabkan penduduk bermukim harus menerjang derasnya aliran lahar untuk bisa melintas.
Kendaraan roda dua pun ikut digotong.
MUHAMMAD HASBI, Radar Semeru, Gondoruso -
Jembatan limpas yang terletak di Desa Gondoruso menjadi akses alternatif terdekat bagi masyarakat di dua kecamatan, Pasirian dan Tempursari yang dipisah oleh daerah aliran sungai (DAS) Kali Regoyo Pasirian.
Sehingga, masyarakat lebih memilih menerjang derasnya daerah arus sungai.
Meski memiliki jalur lintas yang lebih baik, namun jarak tempuhnya terbilang lebih jauh berkali lipat.
Terlebih lagi, akses lain yang disebut terletak di daerah Dusun Kajaran di desa setempat itu juga ikut ditutup.
"Jika diperkirakan mungkin puluhan kilo kalau memutar, jalurnya juga ditutup," ungkap salah satu warga Dusun Glendang Petung, Desa Gondoruso, Susanto.
Guna memudahkan akses warga yang ingin melintasi jalur, terdapat sejumlah relawan bersiaga membantu.
Mayoritasnya merupakan pemuda yang juga bermukim di wilayah sekitar. Tak hanya menyeberangkan orang, kendaraan sepeda motor juga ikut diangkut.
Meski bantuan itu dilakukan secara sukarela, kebanyakan masyarakat akan memberikan bayaran.
"Ya banyak warga yang ngasih bayaran seikhlasnya saat dibantu menggotong sepeda motor, mulai Rp 10.000 sampai 20.000," terang salah satu relawan pemanggul sepeda, Ponari.
Membutuhkan sebanyak empat orang dengan postur tubuh besar untuk menggotong satu sepeda motor melewati derasnya arus sungai.
Menggunakan dahan pohon beserta kayu sebagai modal, tak terhitung jumlah kendaraan roda dua yang bisa diseberangkan setiap harinya.
"Jumlahnya tidak terhitung, karena yang melintas bolak-balik berasal dari warga di dua kecamatan (Pasirian dan Tempursari, Red)," tambah Ponari.
Adanya relawan yang selalu siaga membantu menyeberang menjadi pertolongan bagi warga.
Sehingga banyak penduduk yang merasa sangat terbantu, apalagi jalur cukup ekstrem dan berbahaya jika salah melangkahkan kaki.
"Sangat membantu sekali dengan adanya jasa yang disediakan setiap harinya, jadi warga bisa merasa lebih aman," kata salah satu warga yang hendak melintas pulang, Yanuar Andriato. (has/bud)
Editor : Radar Digital