BACA JUGA : PG Jatiroto Wujudkan Swasembada Pangan Nasional
Salju yang dimaksud bukanlah salju dalam arti salah satu musim di Benua Eropa. Melainkan hanya sebutan fenomena butiran salju yang menutupi dedaunan dan tumbuhan. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai embun upas.
Fenomena ini kerap muncul pada pertengahan tahun. Tepatnya bulan Juli dan Agustus saat puncak musim kemarau. Suhu malam yang dingin menyebabkan embun itu menjadi butiran es dan menempel di tanaman. Praktis, pemandangan Ranupani pagi hari akan seperti kawasan Pegunungan Alpen di Eropa.
Uniknya, fenomena ini membuat pelancong tertarik. Khususnya para fotografer yang berburu momentum. “Sengaja datang ke sini untuk melihatnya langsung dan mengabadikannya,” ujar Yayan, salah seorang fotografer asal Jember.
Menurutnya, fenomena langka itu tidak hanya diabadikan sendiri. Tetapi, juga disebarkan ke masyarakat luas. Tujuannya agar masyarakat tahu bahwa Indonesia, terutama Lumajang, memiliki alam yang tidak kalah dengan luar negeri.
Sementara itu, Daim, warga setempat, mengatakan, embun upas memang muncul di suhu ekstrem seperti saat ini. Embun dapat dilihat dan dipegang langsung menjelang Subuh hingga waktu matahari mulai terik. Setelahnya, embun akan menguap. “Sekarang suhunya di antara 10–7 derajat. Bahkan di bawahnya,” katanya.
Mengantisipasi dingin ekstrem, warga setempat menghangatkan diri di depan perapian. Setiap rumah pasti menyediakan perapian di dalam rumah. Hal itu menjadi agenda rutin saat embun upas muncul. “Biar badan hangat dan tidak sakit,” pungkasnya. (kin/c2/fid) Editor : Safitri