22.9 C
Jember
Tuesday, 7 February 2023

Mayoritas Tak Punya Penghancur Limbah B3 Medis

Hanya Ada Satu, Faskes Lain Pakai Pihak Ketiga

Mobile_AP_Rectangle 1

PATRANG, Radar Jember – Pemusnahan limbah medis perlu dilakukan secara khusus, yakni harus dengan alat insinerator. Penanganan limbah medis ini berbeda dengan limbah nonmedis, sehingga memerlukan perhatian dan kontrol yang serius.

BACA JUGA : Perampok Toko Emas di Jember Tertangkap Gara-Gara Sandalnya Terekam CCTV

Sejauh ini di Jember insinerator hanya terdapat di RSD dr Soebandi. Sementara, di fasilitas kesehatan (faskes) lain, proses pemusnahan limbah medis masih memanfaatkan pihak ketiga.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kepala Seksi (Kasi) Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember Achmad Irhamni menuturkan, penyebab tidak dimilikinya alat pengolah limbah padat pada faskes karena perizinan. Menurutnya, izin untuk bisa membuat pemusnah limbah B3 medis cukup ketat dan hanya bisa dikeluarkan legalitasnya oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Jadi, tidak sembarangan. Faskes yang memiliki alat insinerator itu belum tentu dapat legalitasnya. Di Jember yang sudah memiliki dan ada legalitasnya hanya RSD dr Soebandi. Itu yang mengeluarkan dari KLHK, bukan kabupaten,” jelasnya.

Insinerator sangat penting dalam membantu pengolahan limbah padat pada faskes. Terlebih jenis sampah yang mengandung bahan berbahaya. Seperti sampah infeksius yang terdiri atas alat suntik, perban, hingga bahan atau media lainnya yang diperkirakan tercemar oleh penyakit pasien. Agar limbah-limbah tersebut dapat diolah dan aman.

- Advertisement -

PATRANG, Radar Jember – Pemusnahan limbah medis perlu dilakukan secara khusus, yakni harus dengan alat insinerator. Penanganan limbah medis ini berbeda dengan limbah nonmedis, sehingga memerlukan perhatian dan kontrol yang serius.

BACA JUGA : Perampok Toko Emas di Jember Tertangkap Gara-Gara Sandalnya Terekam CCTV

Sejauh ini di Jember insinerator hanya terdapat di RSD dr Soebandi. Sementara, di fasilitas kesehatan (faskes) lain, proses pemusnahan limbah medis masih memanfaatkan pihak ketiga.

Kepala Seksi (Kasi) Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember Achmad Irhamni menuturkan, penyebab tidak dimilikinya alat pengolah limbah padat pada faskes karena perizinan. Menurutnya, izin untuk bisa membuat pemusnah limbah B3 medis cukup ketat dan hanya bisa dikeluarkan legalitasnya oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Jadi, tidak sembarangan. Faskes yang memiliki alat insinerator itu belum tentu dapat legalitasnya. Di Jember yang sudah memiliki dan ada legalitasnya hanya RSD dr Soebandi. Itu yang mengeluarkan dari KLHK, bukan kabupaten,” jelasnya.

Insinerator sangat penting dalam membantu pengolahan limbah padat pada faskes. Terlebih jenis sampah yang mengandung bahan berbahaya. Seperti sampah infeksius yang terdiri atas alat suntik, perban, hingga bahan atau media lainnya yang diperkirakan tercemar oleh penyakit pasien. Agar limbah-limbah tersebut dapat diolah dan aman.

PATRANG, Radar Jember – Pemusnahan limbah medis perlu dilakukan secara khusus, yakni harus dengan alat insinerator. Penanganan limbah medis ini berbeda dengan limbah nonmedis, sehingga memerlukan perhatian dan kontrol yang serius.

BACA JUGA : Perampok Toko Emas di Jember Tertangkap Gara-Gara Sandalnya Terekam CCTV

Sejauh ini di Jember insinerator hanya terdapat di RSD dr Soebandi. Sementara, di fasilitas kesehatan (faskes) lain, proses pemusnahan limbah medis masih memanfaatkan pihak ketiga.

Kepala Seksi (Kasi) Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jember Achmad Irhamni menuturkan, penyebab tidak dimilikinya alat pengolah limbah padat pada faskes karena perizinan. Menurutnya, izin untuk bisa membuat pemusnah limbah B3 medis cukup ketat dan hanya bisa dikeluarkan legalitasnya oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Jadi, tidak sembarangan. Faskes yang memiliki alat insinerator itu belum tentu dapat legalitasnya. Di Jember yang sudah memiliki dan ada legalitasnya hanya RSD dr Soebandi. Itu yang mengeluarkan dari KLHK, bukan kabupaten,” jelasnya.

Insinerator sangat penting dalam membantu pengolahan limbah padat pada faskes. Terlebih jenis sampah yang mengandung bahan berbahaya. Seperti sampah infeksius yang terdiri atas alat suntik, perban, hingga bahan atau media lainnya yang diperkirakan tercemar oleh penyakit pasien. Agar limbah-limbah tersebut dapat diolah dan aman.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca