alexametrics
23.1 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Waspada Ibu Baby Blues

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Peristiwa pembuangan bayi ke sumur yang dilakukan oleh ibu kandung diduga karena ketidaksiapan sang ibu terhadap kelahiran anaknya. Hal ini kerap kali terjadi terhadap perempuan yang baru melahirkan. Selama beberapa pekan sejak melahirkan, emosi sang ibu dipastikan berubah drastis. Jika dibiarkan, maka akan menjadi gangguan emosi yang berkepanjangan. Kondisi ini disebut dengan istilah baby blues. Sedangkan yang berkelanjutan disebut postpartum depression.

Baca Juga : Kasus Bayi Dalam Sumur Terkuak, Ibu Kandung Tersangka Motifnya Mengejutkan

Setiap manusia mempunyai emosi yang bermacam-macam. Marah, senang, sedih, dan gembira merupakan bagiannya. Mereka meluapkan emosi tersebut sesuai dengan informasi yang diterima oleh syaraf otak. Kemudian, mendorong respons melalui raut muka, pembicaraan, dan perilaku. Emosi senang akan menunjukkan wajah riang gembira, berseri-seri. Sebaliknya, emosi sedih menunjukkan wajah tidak simetris, bahkan menyeramkan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut penjelasan dari Marisa Selvy Helphiana, SPsi, Psikolog, perubahan emosi lebih sering terjadi pada perempuan, terutama perempuan yang baru melahirkan. Sebab, perempuan melahirkan tersebut mengalami perubahan emosi yang tidak normal, bahkan sangat drastis. Ditambah suasana hati ibu pasca-melahirkan rentan mengalami gangguan. Kondisi ini disebut baby blues. “Suasana hati ibu melahirkan rentan mengalami gangguan, sebutannya baby blues. Hal itu memengaruhi kondisi psikis ibu. Harusnya mereka dipastikan aman, nyaman, dan senang dari pihak keluarga,” jelas perempuan yang tinggal di Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, itu.

Marisa menambahkan, 50 sampai 80 persen ibu melahirkan dipastikan mengalami gangguan suasana hati atau baby blues. Tidak hanya waktu melahirkan anak pertama, bahkan terjadi setiap melahirkan. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan hormon dan perubahan kimia otak yang memicu perubahan suasana hati, sehingga mengganggu sang ibu untuk beradaptasi dengan kondisi sosial setelah melahirkan. “Dia harus beradaptasi dengan sosial baru, perubahan tanggung jawab, menyusui, harus bangun tengah malam. Kondisi ini butuh dukungan kuat dari keluarga,” tambah perempuan yang membuka layanan konsultasi Gemilang Psikologi, di Gladak Pakem, Kranjingan, tersebut.

Di sisi lain, kata Marisa, ketidakpahaman anggota keluarga yang lain juga memengaruhi munculnya baby blues. Mereka yang tidak paham sosial ibu melahirkan makin memperkeruh suasana hatinya. “Ada anggota keluarga yang menganggap, jika lahirnya sesar dikatakan tidak sempurna. Jika menyusui tidak pakai ASI dikatakan tidak baik,” katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Peristiwa pembuangan bayi ke sumur yang dilakukan oleh ibu kandung diduga karena ketidaksiapan sang ibu terhadap kelahiran anaknya. Hal ini kerap kali terjadi terhadap perempuan yang baru melahirkan. Selama beberapa pekan sejak melahirkan, emosi sang ibu dipastikan berubah drastis. Jika dibiarkan, maka akan menjadi gangguan emosi yang berkepanjangan. Kondisi ini disebut dengan istilah baby blues. Sedangkan yang berkelanjutan disebut postpartum depression.

Baca Juga : Kasus Bayi Dalam Sumur Terkuak, Ibu Kandung Tersangka Motifnya Mengejutkan

Setiap manusia mempunyai emosi yang bermacam-macam. Marah, senang, sedih, dan gembira merupakan bagiannya. Mereka meluapkan emosi tersebut sesuai dengan informasi yang diterima oleh syaraf otak. Kemudian, mendorong respons melalui raut muka, pembicaraan, dan perilaku. Emosi senang akan menunjukkan wajah riang gembira, berseri-seri. Sebaliknya, emosi sedih menunjukkan wajah tidak simetris, bahkan menyeramkan.

Menurut penjelasan dari Marisa Selvy Helphiana, SPsi, Psikolog, perubahan emosi lebih sering terjadi pada perempuan, terutama perempuan yang baru melahirkan. Sebab, perempuan melahirkan tersebut mengalami perubahan emosi yang tidak normal, bahkan sangat drastis. Ditambah suasana hati ibu pasca-melahirkan rentan mengalami gangguan. Kondisi ini disebut baby blues. “Suasana hati ibu melahirkan rentan mengalami gangguan, sebutannya baby blues. Hal itu memengaruhi kondisi psikis ibu. Harusnya mereka dipastikan aman, nyaman, dan senang dari pihak keluarga,” jelas perempuan yang tinggal di Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, itu.

Marisa menambahkan, 50 sampai 80 persen ibu melahirkan dipastikan mengalami gangguan suasana hati atau baby blues. Tidak hanya waktu melahirkan anak pertama, bahkan terjadi setiap melahirkan. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan hormon dan perubahan kimia otak yang memicu perubahan suasana hati, sehingga mengganggu sang ibu untuk beradaptasi dengan kondisi sosial setelah melahirkan. “Dia harus beradaptasi dengan sosial baru, perubahan tanggung jawab, menyusui, harus bangun tengah malam. Kondisi ini butuh dukungan kuat dari keluarga,” tambah perempuan yang membuka layanan konsultasi Gemilang Psikologi, di Gladak Pakem, Kranjingan, tersebut.

Di sisi lain, kata Marisa, ketidakpahaman anggota keluarga yang lain juga memengaruhi munculnya baby blues. Mereka yang tidak paham sosial ibu melahirkan makin memperkeruh suasana hatinya. “Ada anggota keluarga yang menganggap, jika lahirnya sesar dikatakan tidak sempurna. Jika menyusui tidak pakai ASI dikatakan tidak baik,” katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Peristiwa pembuangan bayi ke sumur yang dilakukan oleh ibu kandung diduga karena ketidaksiapan sang ibu terhadap kelahiran anaknya. Hal ini kerap kali terjadi terhadap perempuan yang baru melahirkan. Selama beberapa pekan sejak melahirkan, emosi sang ibu dipastikan berubah drastis. Jika dibiarkan, maka akan menjadi gangguan emosi yang berkepanjangan. Kondisi ini disebut dengan istilah baby blues. Sedangkan yang berkelanjutan disebut postpartum depression.

Baca Juga : Kasus Bayi Dalam Sumur Terkuak, Ibu Kandung Tersangka Motifnya Mengejutkan

Setiap manusia mempunyai emosi yang bermacam-macam. Marah, senang, sedih, dan gembira merupakan bagiannya. Mereka meluapkan emosi tersebut sesuai dengan informasi yang diterima oleh syaraf otak. Kemudian, mendorong respons melalui raut muka, pembicaraan, dan perilaku. Emosi senang akan menunjukkan wajah riang gembira, berseri-seri. Sebaliknya, emosi sedih menunjukkan wajah tidak simetris, bahkan menyeramkan.

Menurut penjelasan dari Marisa Selvy Helphiana, SPsi, Psikolog, perubahan emosi lebih sering terjadi pada perempuan, terutama perempuan yang baru melahirkan. Sebab, perempuan melahirkan tersebut mengalami perubahan emosi yang tidak normal, bahkan sangat drastis. Ditambah suasana hati ibu pasca-melahirkan rentan mengalami gangguan. Kondisi ini disebut baby blues. “Suasana hati ibu melahirkan rentan mengalami gangguan, sebutannya baby blues. Hal itu memengaruhi kondisi psikis ibu. Harusnya mereka dipastikan aman, nyaman, dan senang dari pihak keluarga,” jelas perempuan yang tinggal di Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, itu.

Marisa menambahkan, 50 sampai 80 persen ibu melahirkan dipastikan mengalami gangguan suasana hati atau baby blues. Tidak hanya waktu melahirkan anak pertama, bahkan terjadi setiap melahirkan. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan hormon dan perubahan kimia otak yang memicu perubahan suasana hati, sehingga mengganggu sang ibu untuk beradaptasi dengan kondisi sosial setelah melahirkan. “Dia harus beradaptasi dengan sosial baru, perubahan tanggung jawab, menyusui, harus bangun tengah malam. Kondisi ini butuh dukungan kuat dari keluarga,” tambah perempuan yang membuka layanan konsultasi Gemilang Psikologi, di Gladak Pakem, Kranjingan, tersebut.

Di sisi lain, kata Marisa, ketidakpahaman anggota keluarga yang lain juga memengaruhi munculnya baby blues. Mereka yang tidak paham sosial ibu melahirkan makin memperkeruh suasana hatinya. “Ada anggota keluarga yang menganggap, jika lahirnya sesar dikatakan tidak sempurna. Jika menyusui tidak pakai ASI dikatakan tidak baik,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/