alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Angin Duduk Bukan Mitos, Bisa Meninggal di Tempat

Mobile_AP_Rectangle 1

PATRANG, Radar Jember – Istilah “angin duduk” kerap kali dipakai oleh masyarakat bagi orang yang meninggal secara mendadak. Secara medis, angin duduk adalah serangan jantung. Bahkan, penyakit jantung tidak mengenal usia. Bisa menyerang remaja, dewasa, termasuk orang tua.

BACA JUGA : Iuran Rp 35 Ribu per Minggu ke Koperasi, Ojek Online Merasa Dirugikan

Penyakit jantung yang sering diderita adalah penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner berarti ada penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah koroner.

“Begitu menyumbat, bisa mati mendadak. Inilah yang dikenal dengan serangan jantung atau orang Jawa bilang angin duduk. Hampir 70 persen orang yang terkena serangan meninggal di tempat. Sisanya bisa kami tolong.”
dr Suryono Sp JP (K)-FIHA FasCC, Dokter Spesialis Jantung RSU dr Soebandi
Mobile_AP_Rectangle 2

Dokter spesialis jantung sekaligus Ketua Pelayanan Jantung Terpadu (PJT) di RSU dr Soebandi dr Suryono Sp JP (K)-FIHA FAsCC mengatakan, jika pembuluh darah mengalami penyempitan akibat lemak, maka aliran darah tidak akan lancar. “Kalau aliran tidak lancar, maka supply kekurangan oksigen,” jelasnya.

Ketika penyempitan yang terjadi pada pembuluh darah itu robek, akhirnya menyumbat mendadak. “Begitu menyumbat, bisa mati mendadak. Inilah yang dikenal dengan serangan jantung atau orang Jawa bilang angin duduk. Hampir 70 persen orang yang terkena serangan meninggal di tempat. Sisanya bisa kami tolong,” jelasnya.

Penyempitan pembuluh darah pada jantung koroner, Ujar Suryono, jika penyempitannya kecil, mungkin orangnya tanpa gejala. Hal yang berbahaya adalah penyumbatan kecil, kemudian ada robek sedikit.

Tetapi, jika plak penyumbatannya bertambah besar melebihi 50 persen, biasanya sudah terasa gejalanya. “Jadi, jantung koroner ini kalau ada penyempitan akan terasa nyeri apabila kebutuhan oksigen dan makanan jantung meningkat. Jantung koroner ini akan menimbulkan gejala berupa nyeri dada apabila dipicu 4E,” ucapnya.

4E dimaksud di antaranya emosi, eating atau setelah makan, exercise atau ketika olahraga, dan expose dengan udara dingin. “Itu ada tanda-tanda penyempitan,” tuturnya.

Tentunya orang-orang yang memiliki  risiko wajib kontrol. Penyebab terjadinya jantung koroner ini banyak, seperti darah tinggi, kencing manis, gemuk atau obesitas, kolesterol, perokok, serta faktor keturunan. “Saya banyak pasien yang masih muda, sekitar umur 28 tahun, itu sudah terkena jantung koroner,” tuturnya.

Pada orang-orang yang seperti ini, tambah Suryono, sebaiknya memeriksakan diri. Jangan sampai terkena serangan. “Kadang-kadang penyempitan masih 10 persen langsung meninggal,” pungkasnya. (mg3/c2/dwi)

- Advertisement -

PATRANG, Radar Jember – Istilah “angin duduk” kerap kali dipakai oleh masyarakat bagi orang yang meninggal secara mendadak. Secara medis, angin duduk adalah serangan jantung. Bahkan, penyakit jantung tidak mengenal usia. Bisa menyerang remaja, dewasa, termasuk orang tua.

BACA JUGA : Iuran Rp 35 Ribu per Minggu ke Koperasi, Ojek Online Merasa Dirugikan

Penyakit jantung yang sering diderita adalah penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner berarti ada penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah koroner.

“Begitu menyumbat, bisa mati mendadak. Inilah yang dikenal dengan serangan jantung atau orang Jawa bilang angin duduk. Hampir 70 persen orang yang terkena serangan meninggal di tempat. Sisanya bisa kami tolong.”
dr Suryono Sp JP (K)-FIHA FasCC, Dokter Spesialis Jantung RSU dr Soebandi

Dokter spesialis jantung sekaligus Ketua Pelayanan Jantung Terpadu (PJT) di RSU dr Soebandi dr Suryono Sp JP (K)-FIHA FAsCC mengatakan, jika pembuluh darah mengalami penyempitan akibat lemak, maka aliran darah tidak akan lancar. “Kalau aliran tidak lancar, maka supply kekurangan oksigen,” jelasnya.

Ketika penyempitan yang terjadi pada pembuluh darah itu robek, akhirnya menyumbat mendadak. “Begitu menyumbat, bisa mati mendadak. Inilah yang dikenal dengan serangan jantung atau orang Jawa bilang angin duduk. Hampir 70 persen orang yang terkena serangan meninggal di tempat. Sisanya bisa kami tolong,” jelasnya.

Penyempitan pembuluh darah pada jantung koroner, Ujar Suryono, jika penyempitannya kecil, mungkin orangnya tanpa gejala. Hal yang berbahaya adalah penyumbatan kecil, kemudian ada robek sedikit.

Tetapi, jika plak penyumbatannya bertambah besar melebihi 50 persen, biasanya sudah terasa gejalanya. “Jadi, jantung koroner ini kalau ada penyempitan akan terasa nyeri apabila kebutuhan oksigen dan makanan jantung meningkat. Jantung koroner ini akan menimbulkan gejala berupa nyeri dada apabila dipicu 4E,” ucapnya.

4E dimaksud di antaranya emosi, eating atau setelah makan, exercise atau ketika olahraga, dan expose dengan udara dingin. “Itu ada tanda-tanda penyempitan,” tuturnya.

Tentunya orang-orang yang memiliki  risiko wajib kontrol. Penyebab terjadinya jantung koroner ini banyak, seperti darah tinggi, kencing manis, gemuk atau obesitas, kolesterol, perokok, serta faktor keturunan. “Saya banyak pasien yang masih muda, sekitar umur 28 tahun, itu sudah terkena jantung koroner,” tuturnya.

Pada orang-orang yang seperti ini, tambah Suryono, sebaiknya memeriksakan diri. Jangan sampai terkena serangan. “Kadang-kadang penyempitan masih 10 persen langsung meninggal,” pungkasnya. (mg3/c2/dwi)

PATRANG, Radar Jember – Istilah “angin duduk” kerap kali dipakai oleh masyarakat bagi orang yang meninggal secara mendadak. Secara medis, angin duduk adalah serangan jantung. Bahkan, penyakit jantung tidak mengenal usia. Bisa menyerang remaja, dewasa, termasuk orang tua.

BACA JUGA : Iuran Rp 35 Ribu per Minggu ke Koperasi, Ojek Online Merasa Dirugikan

Penyakit jantung yang sering diderita adalah penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner berarti ada penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah koroner.

“Begitu menyumbat, bisa mati mendadak. Inilah yang dikenal dengan serangan jantung atau orang Jawa bilang angin duduk. Hampir 70 persen orang yang terkena serangan meninggal di tempat. Sisanya bisa kami tolong.”
dr Suryono Sp JP (K)-FIHA FasCC, Dokter Spesialis Jantung RSU dr Soebandi

Dokter spesialis jantung sekaligus Ketua Pelayanan Jantung Terpadu (PJT) di RSU dr Soebandi dr Suryono Sp JP (K)-FIHA FAsCC mengatakan, jika pembuluh darah mengalami penyempitan akibat lemak, maka aliran darah tidak akan lancar. “Kalau aliran tidak lancar, maka supply kekurangan oksigen,” jelasnya.

Ketika penyempitan yang terjadi pada pembuluh darah itu robek, akhirnya menyumbat mendadak. “Begitu menyumbat, bisa mati mendadak. Inilah yang dikenal dengan serangan jantung atau orang Jawa bilang angin duduk. Hampir 70 persen orang yang terkena serangan meninggal di tempat. Sisanya bisa kami tolong,” jelasnya.

Penyempitan pembuluh darah pada jantung koroner, Ujar Suryono, jika penyempitannya kecil, mungkin orangnya tanpa gejala. Hal yang berbahaya adalah penyumbatan kecil, kemudian ada robek sedikit.

Tetapi, jika plak penyumbatannya bertambah besar melebihi 50 persen, biasanya sudah terasa gejalanya. “Jadi, jantung koroner ini kalau ada penyempitan akan terasa nyeri apabila kebutuhan oksigen dan makanan jantung meningkat. Jantung koroner ini akan menimbulkan gejala berupa nyeri dada apabila dipicu 4E,” ucapnya.

4E dimaksud di antaranya emosi, eating atau setelah makan, exercise atau ketika olahraga, dan expose dengan udara dingin. “Itu ada tanda-tanda penyempitan,” tuturnya.

Tentunya orang-orang yang memiliki  risiko wajib kontrol. Penyebab terjadinya jantung koroner ini banyak, seperti darah tinggi, kencing manis, gemuk atau obesitas, kolesterol, perokok, serta faktor keturunan. “Saya banyak pasien yang masih muda, sekitar umur 28 tahun, itu sudah terkena jantung koroner,” tuturnya.

Pada orang-orang yang seperti ini, tambah Suryono, sebaiknya memeriksakan diri. Jangan sampai terkena serangan. “Kadang-kadang penyempitan masih 10 persen langsung meninggal,” pungkasnya. (mg3/c2/dwi)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/