Radar Jember - Di tengah keterbatasan penglihatan, Ali Muhtar Zamrony dan Yepy Ristian membuktikan kerja keras, dan komunikasi yang dibalut dengan cinta mampu menjadi penuntun dalam membesarkan keluarga.
Pagi itu, tangisan bayi memecah sunyi dari sebuah rumah sederhana di ujung Jalan Bumi Tegal Besar, Kaliwates.
Ali Muhtar Zamrony segera bangkit, tangannya meraba mencari arah suara.
Dengan gerakan hati-hati, ia menggendong Andra Zaidan Ar-Rasyid, putra bungsunya yang usianya belum satu tahun.
Di sisi lain ruangan, sang istri, Yepy Ristian, menyiapkan susu untuk si kecil. Aktivitas yang mungkin tampak biasa bagi keluarga muda.
Namun, menjadi kisah berbeda karena kedua orang tua itu sama-sama tunanetra yang kini membesarkan tiga anak mereka.
Kisah Ali dan Yepy bermula dari balai pelatihan pijat bagi penyandang tunanetra di Malang.
Awalnya mereka hanya teman satu kelas yang sama-sama belajar keterampilan pijat profesional. Kedekatan tumbuh setelah pelatihan selesai pada akhir 2017.
“Dulu ya cuma teman belajar. Setelah lulus, komunikasi malah makin intens,” kenang Ali.
Hubungan mereka berkembang bukan karena tatapan pertama, melainkan kecocokan visi hidup dan kenyamanan saat berkomunikasi.
Fondasi itu pula yang akhirnya menguatkan mereka menuju pernikahan pada 2020.
Bagi Ali, cinta tidak harus dimulai dari apa yang terlihat. Ia mengaku lebih menemukan kecocokan melalui percakapan dan tujuan hidup yang sejalan.
“Intinya satu frekuensi. Itu fondasi kami lanjut ke jenjang berikutnya,” ujarnya.
Kini, memasuki tahun keenam pernikahan, mereka merawat tiga anak. Anak sulung mereka, Nisatul Afifah, duduk di bangku SMP.
Anak kedua, Aqila Ayudia Salsabila, sedang aktif-aktifnya di usia balita. Sementara Andra si bungsu masih membutuhkan perhatian penuh. Ketiga anaknya juga terlahir normal, tidak tuna netra.
Mengasuh tiga anak tentu bukan perkara ringan, apalagi dengan keterbatasan penglihatan.
Namun keduanya merasa terbantu dengan bekal pelatihan kemandirian yang mereka dapat saat mengikuti pendidikan keterampilan dulu.
“Kami ingin hidup normal seperti masyarakat lain, tanpa batasan,” tegas Ali.
Dalam keseharian, pasangan ini berbagi peran mengurus anak. Yepy yang mengalami tunanetra total sejak kecil mengandalkan indera peraba dan pendengaran untuk memastikan kebutuhan anak-anaknya terpenuhi.
Sementara Ali, low vision membantu berbagai pekerjaan rumah sekaligus mencari nafkah.
Keduanya bekerja sebagai pemijat, profesi yang mengandalkan kepekaan sentuhan. Meski demikian, penghasilan sebagai pemijat sering kali tidak menentu.
“Kadang ramai, kadang sepi. Itu tantangan terbesar kami,” kata Ali.
Kondisi ekonomi yang naik turun justru menguatkan kebersamaan mereka. Setiap persoalan dihadapi dengan komunikasi terbuka dan saling menguatkan.
Di tengah kesibukan bekerja dan mengurus keluarga, Ali masih menyempatkan diri menempuh pendidikan tinggi.
Ia kini tercatat sebagai mahasiswa semester akhir jurusan Pendidikan Luar Biasa di salah satu perguruan tinggi di Jember.
“Yang penting tetap harmonis. Suka duka dilewati dengan pikiran jernih. Jangan sampai komunikasi rusak,” ujarnya.
Menurutnya, kekuatan rumah tangga bukan sekadar materi. Tanpa komunikasi yang sehat, hubungan mudah goyah.
Filosofi sederhana itulah yang membuat keluarga kecil ini tetap bertahan menghadapi berbagai tantangan hidup.
Di balik keterbatasan melihat dunia, Ali dan Yepy berhasil membangun keluarga yang harmonis. “Kekurangan tidak boleh jadi alasan,” tutupnya. (yul/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh