Radar Jember - Anggota Komisi D DPRD Jember, Alfian Andri Wijaya, menilai, persoalan angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), dan stunting di Jember masih membutuhkan pengawasan serius dan langkah yang lebih terstruktur.
Menurutnya, persoalan ini bukan sekadar isu kesehatan, melainkan berkaitan erat dengan kemiskinan, kerentanan sosial, dan kesiapan sumber daya manusia (SDM).
Ia menegaskan, penanganan AKI, AKB, dan stunting tidak bisa dilakukan secara instan.
Persoalan tersebut membutuhkan strategi jangka panjang yang konsisten dan berkesinambungan.
“AKI, AKB, dan stunting ini tidak bisa diselesaikan dalam jangka pendek. Ini kerja jangka panjang,” ujarnya.
Alfian juga menyoroti kelompok masyarakat rentan yang sering luput dari perhatian.
Mereka bukan tergolong miskin ekstrem, tapi juga tidak benar-benar mampu.
Ketika terjadi PHK atau tekanan ekonomi, kelompok inilah yang paling terdampak dan berpotensi mengalami masalah gizi serta kesehatan ibu dan anak.
Karena itu, ia menilai pengentasan kemiskinan harus menjadi bagian penting dalam menekan AKI, AKB, dan stunting.
Di sisi lain, ia menyentil kondisi sarana prasarana di tingkat posyandu yang masih belum memadai.
Masih ada posyandu yang kekurangan kader bahkan tidak memiliki alat dasar seperti tensimeter dan timbangan.
Kondisi tersebut dinilainya ironis di tengah upaya menekan angka kematian dan stunting.
“Kalau alat paling dasar saja tidak ada, mau bicara bagaimana menekan AKI dan stunting?” sentilnya.
Politisi Gerindra ini menambahkan, penanganan harus dimulai dari akar persoalan, tidak hanya mengandalkan program pemberian makanan tambahan (PMT).
Edukasi pranikah, penguatan kader, antisipasi dampak PHK, serta kolaborasi lintas sektor harus berjalan beriringan.
Ia juga mengapresiasi program 1.200 tenaga kesehatan Cinta Kesehatan Ibu dan Anak.
Namun, ia mengingatkan agar program tersebut diperkuat dengan pengawasan dan kerja sama yang solid.
“Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal pengetahuan masyarakat. Sosialisasi harus masif dan pemerintah harus tegas,” pungkasnya. (kin/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh