Radar Jember - Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Dr Awatiful Azza, menekankan pentingnya pendekatan pemberdayaan masyarakat agar persoalan gizi kronis itu dapat ditangani lebih cepat sekaligus berkelanjutan.
Stunting merupakan masalah kompleks yang berkaitan erat dengan pola asuh, pemenuhan gizi, hingga lingkungan keluarga.
Karena itu, strategi penanganan perlu melibatkan keluarga sebagai aktor utama dalam pencegahan sejak dini, bukan sekadar menunggu intervensi tenaga kesehatan.
Dia menjelaskan, pendekatan berbasis keluarga dan komunitas memungkinkan proses deteksi dini berjalan lebih efektif.
Orang tua dan kader kesehatan didorong untuk memahami tanda awal gangguan tumbuh kembang anak melalui pemantauan rutin berat badan, tinggi badan, serta pola makan harian balita.
Selain itu, edukasi gizi menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.
Banyak keluarga, kata dia, masih belum memahami prinsip gizi seimbang yang sesuai kebutuhan anak.
Padahal, pemenuhan nutrisi sejak usia dini sangat menentukan kualitas pertumbuhan dan perkembangan kognitif.
Melalui kegiatan pendampingan komunitas, keluarga juga dilatih mengenali faktor risiko stunting, mulai dari riwayat penyakit infeksi, sanitasi lingkungan, hingga kebiasaan pemberian makanan pada anak.
Dengan pemahaman tersebut, diharapkan keluarga mampu melakukan langkah pencegahan secara mandiri di rumah.
Awatiful menambahkan, peran kader kesehatan di tingkat masyarakat harus terus diperkuat.
Kader tidak hanya menjadi perpanjangan tangan tenaga medis, tetapi juga agen perubahan perilaku yang aktif memberikan edukasi dan motivasi kepada keluarga berisiko stunting.
Sebagai bagian dari inovasi edukasi gizi, masyarakat dikenalkan pada pemanfaatan pangan lokal bergizi, salah satunya ubi ungu.
Bahan pangan tersebut dapat diolah menjadi camilan sehat, seperti es krim atau kudapan alternatif, yang menarik sekaligus bernilai gizi bagi balita.
Dia berharap, pendekatan pemberdayaan berbasis keluarga dan komunitas mampu membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam mencegah stunting.
“Jika keluarga memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup, proses pencegahan bisa berjalan lebih cepat dan dampaknya bertahan dalam jangka panjang,” ujarnya. (dhi/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh