Radar Jember - Prevalensi stunting di Kota Suwar-Suwir masih menjadi pekerjaan rumah.
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan, angka stunting pada 2022 masih berada di level 33,9 persen.
Capaian itu sempat turun menjadi 29,7 persen pada 2023, namun kembali naik tipis menjadi 30,4 persen pada 2024 dan bertahan hingga 2025.
Ketua Hibah RisetMu, Dr Ns Awatiful Azza, menyebut, stunting bukan persoalan yang bisa diselesaikan secara instan.
Kondisi ini berkaitan erat dengan kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, serta pola asuh dan lingkungan yang kurang mendukung, khususnya pada 1.000 hari pertama kehidupan.
Menurutnya, dampak stunting tidak berhenti pada pertumbuhan fisik anak.
“Stunting berpengaruh pada perkembangan kognitif dan produktivitas anak di masa depan. Ini menyangkut kualitas sumber daya manusia,” tegasnya.
Tingginya angka stunting di Jember juga dipicu rendahnya pemahaman keluarga tentang gizi seimbang.
Selain itu, kemampuan deteksi dini di tingkat komunitas masih terbatas, sementara pendampingan keluarga berisiko stunting belum berjalan optimal.
Merespons kondisi tersebut, Unmuh Jember menggandeng Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Sumbersari dalam upaya pencegahan stunting berbasis komunitas.
“Penanganan stunting tidak cukup dengan pendekatan kuratif. Pemberdayaan keluarga menjadi kunci agar perubahan perilaku bisa terjadi dan bertahan,” katanya.
Pelatihan deteksi dini stunting, pengukuran antropometri balita, edukasi gizi seimbang berbasis pangan lokal, pendampingan keluarga berisiko stunting, serta penguatan peran kader kesehatan harus terus diperkuat.
Sebagai inovasi tambahan, masyarakat juga bisa dilatih mengolah ubi ungu menjadi camilan sehat berupa es krim sebagai alternatif pemenuhan gizi balita. (dhi/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh