Radar Jember - Sepeninggal kedua orang tuanya, Gea Trisula dan Bintang Telasih hanya hidup berdua.
Saat teman seusianya masih asyik dengan dunianya, keduanya berjuang melawan kerasnya hidup di sebuah gubuk reot peninggalan mendiang ayah dan ibunya.
Hujan yang mengguyur sejak pagi itu tidak hanya membasahi tanah.
Di sejumlah sudut-sudut rumah sederhana berdinding bambu itu, air menetes seolah bak kawan setia.
Hadir memecah keheningan sebuah rumah yang dihuni dua bersaudara: Bintang Telasih dan adiknya, Gea Trisula.
Bagi kakak beradik ini, pergantian hari tak pernah menjanjikan kemewahan, hanya perjuangan yang kembali terulang.
Di sebuah gubuk sederhana, di Dusun Krajan, RT 001 RW 003, Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Jember, Gea dan Bintang, saban hari harus berjuang dalam banyak hal, di usianya saat kebanyakan remaja lain sedang asyik dengan dunianya.
Sejak ibu keduanya menyusul sang ayah menghadap sang Pencipta pada tahun 2024 lalu, dua remaja putri ini harus menanggung kerasnya hidup, di gubuk reyot yang disebut sebagai tempat tinggal.
Rumah itu berdiri dengan sangat sederhana atau lebih tepatnya sangat rapuh.
Dindingnya mayoritas terbuat dari anyaman bambu yang sudah kusam dan lapuk dimakan usia.
"Hanya rumah ini satu-satunya peninggalan dari bapak dan ibu kami," aku Bintang, kepada Jawa Pos Radar Jember.
Di dalam rumah lusuh itu, tak ada televisi layar datar, tak ada sofa empuk, apalagi keramik mengkilap.
Ruangan terasa sunyi, hanya diisi oleh kasur di kamar tidur, dan beberapa perabotan yang menjadi saksi bisu perjuangan keduanya.
Itupun ada yang sampai hati mencurinya.
"Kemarin gas elpijinya hilang, ada yang mencuri, akhirnya beli mejikom bekas buat masak sehari-harinya," kata Bintang, mengisahkan kegetiran hidupnya.
Saat malam, kekhawatiran terbesar Bintang dan Gea hadir bersamaan dengan musim hujan.
Apalagi jika disertai angin kencang, rumah reyot berdinding bambu itu tak jarang mengeluarkan bunyi yang menciutkan nyali keduanya.
Tak hanya bocor, potensi rumah ambruk terasa begitu nyata.
"Tadi ini hujan, ya bocor. Kalau sampai hujan deras dan angin kencang, saya sama adik singgah ke rumah Pak De, dekat dari rumah, untuk perlindungan diri," kata Bintang.
Di balik kegetiran hidup itu, semangat Bintang dan Gea menuntut ilmu belum surut.
Bintang, sang kakak, adalah mahasiswi jurusan ilmu manajemen di ITS Mandala Jember.
Ia menempuh perguruan tinggi baru satu semester, berkat beasiswa KIP aspirasi, yang dibawa oleh salah satu anggota DPR dapil Jember-Lumajang.
"Tapi sekarang ini masih belum cair, KIP-nya," akunya, khawatir.
Sementara Gea, sang adik, menempuh jenjang sekolah menengah atas kelas XI di SMKS Shofa Marwa, Kalisat.
Tanpa kendaraan sendiri, sehari-hari Gea dan Bintang harus menumpang untuk bisa berangkat ke sekolah dan ke kampus. "Berangkat bareng teman, karena tidak punya kendaraan sendiri," aku Bintang.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Gea dan Bintang diketahui mendapatkan bantuan sembako dan uang tunai Rp 500 ribu dari pemerintah terkait dan dibantu relawan sosial.
Sesekali, tetangga sekitar yang merasa iba juga mengulurkan tangan.
"Ada Bu Yayuk yang biasanya mengantarkan bantuan ke kami, kadang tetangga juga," katanya.
Harapannya sederhana, ia bisa tetap tinggal di rumah peninggalan mendiang orang tuanya itu dengan lebih layak. Sempat dijanjikan bantuan rehabilitasi rumah, namun hingga kini belum terealisasi.
"Kemarin ada beberapa orang yang datang, seperti mengukur-ukur dan memfoto rumah, ya semoga kalau mau diperbaiki bisa segera," imbuh Bintang, dengan penuh harap.
Pada akhir Agustus lalu (29/8), Bupati Fawait, ditemani Pj sekda Jupriono, Ketua DPRD Ahmad Halim, dan aktivis sosial Andhy Sungkono, sempat mengunjungi kediaman dua remaja ini.
Rombongan bupati bahkan sempat melihat-lihat beberapa bagian rumah lusuh itu.
Bupati Fawait mengaku terenyuh melihat kehidupan yatim piatu itu.
Ia sempat memotivasi keduanya dan menjanjikan bantuan beasiswa.
"Kehadiran saya bukan hanya sebagai Bupati, tetapi sebagai sesama manusia yang tergerak hatinya melihat kondisi keduanya. Dan kami percaya, dengan pendidikan, keduanya akan memiliki masa depan yang lebih cerah dan membanggakan," jelas Gus Fawait. (mau/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh