Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sering Kena Sinar Matahari dan Debu, Petani di Jember Terancam Katarak! Begini Gejala dan Pencegahannya

Yulio Faruq Akhmadi • Kamis, 16 Oktober 2025 | 13:30 WIB
SEGERA PERIKSA: Warga menjalani operasi katarak gratis di RSD Kalisat beberapa waktu lalu.
SEGERA PERIKSA: Warga menjalani operasi katarak gratis di RSD Kalisat beberapa waktu lalu.

Radar Jember – Terkena sinar matahari memang bisa menyegarkan dan menyehatkan tubuh.

Tetapi, jika terus-terusan juga ada risikonya: bisa terkena penyakit katarak.

Bekerja di bawah teriknya matahari setiap hari bukan hanya mendapat sensasi panas yang membakar kulit.

Akan tetapi, risiko kerusakan pada lensa mata akibat paparan sinar ultraviolet (UV) juga bisa terjadi.

Dokter spesialis mata RSD dr Soebandi, Bimanda Rizki Nurhidayat, menyampaikan, secara nasional katarak masih menjadi penyebab utama kebutaan.

Di Jember, belum ada data pasti jumlah penderitanya.

Namun, tingginya antusiasme masyarakat dalam operasi katarak gratis yang digelar pemkab beberapa waktu lalu menunjukkan kasus yang cukup banyak.

“Kalau data spesifik jumlah katarak memang belum ada, tapi dari kegiatan operasi gratis kemarin terlihat angkanya tinggi,” ujarnya.

Menurut Bimanda, kelompok masyarakat yang paling rentan adalah petani dan pekerja tambang.

Sebab, kedua profesi ini bekerja di luar ruangan dalam waktu lama, di bawah paparan langsung sinar matahari.

“Paparan sinar UV secara terus menerus bisa mempercepat proses kekeruhan pada lensa mata yang akhirnya menyebabkan katarak,” jelasnya.

Risiko itu bahkan lebih tinggi pada petani yang bekerja di sekitar area pertambangan kapur, seperti di wilayah Puger.

Debu tambang yang beterbangan dan terus mengenai mata bisa memperparah kondisi.

“Selain sinar matahari, debu juga menjadi faktor risiko. Jadi petani atau pekerja tambang perlu lebih waspada,” tambahnya.

Bimanda menjelaskan, katarak adalah kekeruhan pada lensa mata yang menyebabkan penglihatan buram.

Gejalanya berkembang perlahan dan sering kali tidak disadari.

“Tanda awalnya antara lain pandangan kabur seperti melihat lewat kaca berembun, silau terhadap cahaya, warna tampak pudar, atau sering ganti kacamata karena ukuran lensa cepat berubah,” terangnya.

Selain itu, penderita juga bisa mengalami penglihatan ganda, sulit melihat di tempat gelap, atau muncul lingkaran cahaya (halo) di sekitar sumber cahaya.

Jika gejala-gejala tersebut mulai muncul, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke dokter spesialis mata agar mendapat penanganan sejak dini.

“Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang penglihatan tetap baik,” tegasnya.

Untuk pencegahan, lanjut Bimanda, masyarakat dapat menggunakan kacamata hitam dengan pelindung UV atau topi lebar saat bekerja di luar ruangan.

Pola makan bergizi juga penting, terutama sayur hijau, wortel, jeruk, dan tomat yang kaya antioksidan.

Selain itu, hindari merokok, batasi alkohol, kendalikan diabetes dan hipertensi, serta jangan menggunakan obat kortikosteroid jangka panjang tanpa pengawasan dokter.

Bimanda juga menilai program penanganan katarak di wilayah Jember menurutnya sudah cukup baik, terutama dengan adanya program operasi katarak gratis yang digelar agustus lalu.

“Program seperti itu bagus, bisa mengurangi angka kebutaan di Jember. Idealnya dilakukan minimal setahun sekali,” pungkasnya. (yul/nur)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#rsd dr soebandi #Jember #katarak #risiko penyakit #sinar ultraviolet