Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Perjuangan Letkol Sroedji dan dr Soebandi, Pahlawan di Karang Kedawung

Safitri • Kamis, 18 Agustus 2022 | 18:12 WIB
SEMANGAT JUANG: Drama kolosal disajikan di Alun-Alun Jember demi mengenang jasa pahlawan.
SEMANGAT JUANG: Drama kolosal disajikan di Alun-Alun Jember demi mengenang jasa pahlawan.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) tahun 1945 tidak otomatis membuat penjajah hengkang sepenuhnya dari bumi Jember. Mereka terus melancarkan aksi dan melakukan penjajahan kepada warga Jember.

BACA JUGA : Aplikasi Mastrip Siaga, Tekan Kentongan Online, Alarm HP Berbunyi

Empat tahun setelah proklamasi dibacakan, sebagian daerah di Jember masih berada di bawah ancaman penjajah. Kehidupan yang berangsur damai seketika ada serangan penjajah. Warga pun panik dan membuat para pahlawan merapatkan barisan.

Serangan penjajah kontan membuat kehidupan kembali berkecamuk. Letkol Moch. Sroedji saat itu merupakan Komandan Brigade III Damarwulan. Dia pun memiliki tanggung jawab besar dan terlibat dalam pertempuran sengit dengan pasukan Belanda. Ini terjadi di Desa Karang Kedawung, Kecamatan Mumbulsari. Pada saat itu, Letkol Sroedji berusia 34 tahun, dan perang yang mengakhiri hidup pahlawan Sroedji terjadi pada 8 Februari 1949.

Dalam drama kolosal itu pun dikisahkan dengan ciamik. Saat serangan itu terjadi, Letkol Sroedji bersama pasukannya berada tidak jauh dari lokasi. Demi menyelamatkan warga, Letkol Sroedji dan para pahlawan lain yang dikepung tetap tidak menyerah. Pada kondisi terdesak, Letkol Sroedji tetap bertekad melawan penjajah.

Saat itu, Sroedji sempat tertembak dan dipapah oleh pejuang lain. Pada kesempatan itu pun, dr Soebandi membantu dan memapah Letkol Sroedji. Namun, dr Soebandi tertembak di bagian kepalanya. Melihat sahabatnya meninggal, Letkol Sroedji menembak beberapa penjajah Belanda. Setelah peluru habis, belanda memberondong tubuhnya.

Dalam tragedi inilah Letkol Sroedji mengembuskan napas terakhirnya. “Letkol Moch. Sroedji berjuang habis-habisan sampai akhirnya beliau wafat setelah terlibat pertempuran dengan pasukan Belanda di Desa Karang Kedawung, tanggal 8 Februari 1949. Pada saat itu Mochammad Sroedji melakukan Gerilya ke kawasan Besuki memasuki wilayah Jember,” katanya.

Penjajah dengan kejamnya membawa jenazah Letkol Sroedji ke Alun-Alun Jember dan dipamerkan selama tiga hari. Jenazahnya diletakkan di halaman hotel di Jember untuk dipertontonkan kepada warga Jember. “Belanda ingin menunjukkan kepada warga Jember, jika ada yang berani melawan, maka akan bernasib sama dengan Letkol Sroedji,” ujarnya.

Namun demikian, dengan insiden itu, para pahlawan semakin bersemangat dan bangkit melawan serta mengusir para penjajah. “Drama musik kolosal ini kami adakan agar masyarakat Jember mengingat dan mengenang kisah pahlawan Letkol Sroedji. Juga sebagai sarana edukasi bagi kaum-kaum milenial yang belum mengetahui sejarah dari para pahlawan Jember,” katanya. Dalam drama itu, Bupati Jember Hendy Siswanto memberikan tali asih kepada dua teman seperjuangan Letkol Sroedji.

Menurut Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Dhebora Krisnowati, drama kolosal diadakan sudah beberapa tahun. Namun, saat pandemi sempat berhenti. Para peserta yang ikut adalah siswa dari SMA Negeri Pakusari dan SMP Negeri 1 Silo. “Jangan sampai kita melupakan para pahlawan karena mereka sangat berjasa kepada bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan Indonesia ini,” katanya.

Bupati Jember Hendy Siswanto menjelaskan jika patung pahlawan Letkol Moch. Sroedji diabadikan di depan Kantor Pemkab Jember. “Mereka rela mengorbankan jiwa raganya, hartanya, hidupnya demi cintanya kepada bangsa dan negara Indonesia, khususnya Jember,” katanya.

Hendy menyebut, ada pesan moral yang dapat diambil oleh generasi bangsa. “Semangat juang dan pengorbanan itulah yang perlu kita teladani agar Indonesia menjadi negara yang bermartabat dan disegani oleh seluruh dunia. Kalianlah penerus perjuangan para pahlawan untuk tetap mempertahankan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Merdeka,” pungkasnya. (c2/nur) Editor : Safitri
#Jember #Headline #Pahlawan