Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Angkat Kisah Sogol, Masuk Sepuluh Besar Gelar Seni Bergengsi

Safitri • Jumat, 27 Desember 2019 | 16:26 WIB
MENGHIBUR: Pertunjukan drama tari Gebyar Jember Mukti Mahambara tampil dalam GSBD di TMII Jakarta awal Desember ini. Kreasi seni tersebut masuk sepuluh besar sebagai penyaji terbaik Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur 2019 dalam kategori Akusara Budaya.
MENGHIBUR: Pertunjukan drama tari Gebyar Jember Mukti Mahambara tampil dalam GSBD di TMII Jakarta awal Desember ini. Kreasi seni tersebut masuk sepuluh besar sebagai penyaji terbaik Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur 2019 dalam kategori Akusara Budaya.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Santet yang dikirim Kiai Mukti kembali tanpa bau anyir darah. Ilmu hitam itu gagal membunuh pendekar yang menjadi sasasarannya, Sogol. Bahkan, Sogol mengetahui bahwa yang mengirim tenung itu adalah Kiai Mukti, hingga keduanya terlibat pertarungan sengit. Fragmen perkelahian ini dimenangkan oleh Sogol. Kiai Mukti tewas.

Dalam cerita rakyat yang kerap diangkat seni tradisional ludruk ini, Sogol digambarkan sebagai sosok protagonis. Kesaktiannya kerap dipakai membela kaum papa. Ilmu kanuragannya digunakan melawan kesewenang-wenangan kompeni pada masa penjajahan Belanda. Sedangkan Kiai Mukti sebaliknya. Dia menjadi antek kompeni bersama seorang muridnya.

Sogol, yang diceritakan sakti mandraguna ini, tak bisa mati meski peluru kompeni sering menerjangnya. Rahasianya adalah ayam jago yang dirawat oleh sang ibu, yang dalam lakon itu disebut Si Mbok. Nyawa Sogol tak bisa lepas selama ayam jago miliknya tetap hidup. Ayam itu dirawat penuh kasih oleh Si Mbok.

Namun, sebagaimana kisah heroisme, selalu ada pesan moral yang ingin disampaikan. Dalam lakon Sogol Pendekar Sumur Gemuling ini, ayam jago yang menjadi kunci kesaktian Sogol merupakan simbol kasih sayang seorang ibu. Kasih ibu sangat menentukan kehebatan anak. Dalam kisah itu, meski Sogol telah mati, dia bisa hidup kembali lantaran sang ibu tidak rela dan memanggil namanya.

Di sisi lain, kisah Sogol juga tak melulu soal kepahlawanan. Dalam narasinya juga diwarnai dengan kisah cinta yang mengharukan. Pengorbanan pendekar perempuan bernama Tumpi menjadi fragmen lain. Dia diceritakan sebagai seorang kekasih yang selalu mendukung perjuangan Sogol. Meski Tumpi pada akhirnya mati akibat bedil kompeni, ketulusan cintanya, juga ditambah kasih sayang Si Mbok, mampu mengantarkan Sogol menumpas penjajah di wilayahnya.

Kisah kepahlawanan rakyat inilah yang disuguhkan penggiat seni Jember dalam pementasan Gelar Seni Budaya Daerah (GSBD) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, awal Desember lalu. Cerita yang dikemas dalam drama tari dengan tema Gebyar Jember Mukti Mahambara ini berhasil masuk sepuluh besar sebagai penyaji terbaik dalam Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur 2019 dalam kategori Akusara Budaya.

Piagam penghargaan itu diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur kepada perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jember, Sabtu (21/12) lalu, di TMII Jakarta. Anugerah tersebut menjadi gelar pertama yang diraih penggiat seni Jember.

Pementasan seni dalam panggung nasional tersebut merupakan hasil kolaborasi seniman kawakan Jember. Sebut saja Enys Kartika yang menjadi pimpinan produksi dan Didik Suharijadi sebagai sutradara. Selain itu, juga ada Dhebora Krisnawati dengan ide cerita, penata tari Rendra Adi, penata iringan Ndhalungnesia Etnic Fusion, dan penata artistik Pradita Intan. Terakhir adalah penata rias dan busana, Gandes Production.

“Kami memadukan orang-orang dengan keahlihan spesifik. Membangun sebuah karya yang kuat, cermat dalam pemilihan lokalitasnya dengan tidak mengesampingkan aspek daya tarik hiburan itu sendiri,” tutur Enys Kartika.

Menurut Enys, Sogol adalah tokoh Jember yang harus diperkenalkan kepada khalayak dan digali lebih dalam kisahnya. Sebab, kata dia, belum banyak masyarakat di Jember yang mengetahui cerita kepahlawanan Pendekar Sumur Gemuling tersebut. “Ini bagian dari upaya kami mengangkat tokoh Sogol yang ada di Ambulu dalam gelaran nasional,” bebernya.

Berperan sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, Didik mengaku sangat tertantang menyajikan kisah itu ke publik. “Ini menjadi tantangan tersendiri. Karena bentuk ceritanya konkret naratif menjadi puisi gerak. Untuk menerjemahkan aspek cerita dalam bentuk gerak, saya intensif bersinergi dengan penata tari, Rendra Adi Saputra,” ungkapnya.

Apalagi, Akusara Budaya menjadi kategori paling tertinggi level penilaiannya dalam ajang GSBD tahun ini. Aspek penilaiannya meliputi intensitas latihan, kreativitas penampilan, pemberdayaan sumber daya manusia (SDM), penilaian fisik generasi muda yang sudah disiapkan tahun berikutnya, pelestarian, serta pemberdayaan kearifan lokal, dan penyertaan potensi lokal daerah.

“Karya ini kerja sama kreatif yang menantang. Sogol yang selama ini menjadi tontonan ludruk berusaha diadaptasi menjadi puisi gerak. Drama tari diwarnai dialog puitis, humor sebagai bumbu adegan, juga diupayakan dalam bentuk gerak,” ucap Didik.

Didik mengatakan, pihaknya cukup puas dengan penampilan para penari Jember dalam event GSBD ini. Mereka dinilainya berhasil membuat penonton terkesima. “Bahkan, ada beberapa yang menangis,” tutur pria yang juga dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember ini.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jember Debora Krisnowati mengungkapkan, GSBD ini adalah event seni dengan kualifikasi tinggi. “Penyaji dalam event ini harus lolos kurasi dari tim ahli TMII. Karena itu, tim kreatif membawa bakat putra-putri Jember dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi yang ada di Jember,” katanya.

Selain itu, tim kreatif juga memanggil para pelajar yang sedang bersekolah di sekolah seni di luar Jember untuk menyumbangkan keahliannya. Pertunjukan tari yang ditampilkan berupa tari berjudul Buta’ Pangodien dengan lagu daerah Jember Indah Mempesona dan Suwar-Suwir. Serta ada tarian Tari Bedoyo Bumi Aji dan drama tari mengangkat cerita rakyat Sogol Pendekar Sumur Gemuling.

Debora menambahkan, upaya kerja keras tim kreatif membukukan hasil yang cukup bagus. Apresiasi penonton disebutnya juga luar biasa. Bahkan, mereka sampai tidak beranjak meski pemain telah turun panggung. “Situasi itu kami manfaatkan untuk mengajak penonton bersama-sama menarikan flash mob Jember Oke,” tandasnya. Editor : Safitri
#Bondowoso #Lumajang