Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Timothy Ronald dan dr Tirta Bongkar Propaganda di Balik Narasi Covid-19: Publik Harus Melek Data!

Redaksi Radar Jember • Rabu, 11 Juni 2025 | 03:10 WIB

Photo
Photo

Radar Jember  – Pebisnis muda yang dikenal di dunia saham dan cryptocurrency, Timothy Ronald, bersama aktivis kesehatan sekaligus dokter relawan Covid-19, dr. Tirta Mandira Hudhi, mengungkap sisi lain dari pandemi dalam sebuah podcast yang viral di media sosial. 
Keduanya menyoroti bagaimana narasi pandemi, terutama pada tahun-tahun awal, sarat akan propaganda dan ketakutan berlebihan.

Menurut Timothy, sejak awal pandemi, masyarakat dihadapkan pada narasi tunggal yang menciptakan kepanikan, bukan edukasi. 

Ia mengatakan bahwa banyak informasi disampaikan dengan cara yang menakut-nakuti publik, alih-alih memberikan pemahaman utuh berdasarkan data. 

“Orang-orang lebih takut daripada sadar. Mereka panik, tapi enggak tahu kenapa,” ujarnya.

Data yang Tidak Seimbang

Dr. Tirta membenarkan bahwa data yang disajikan ke publik pada masa itu sering kali tidak utuh. 
“Yang disorot cuma angka kematian dan lonjakan kasus. Padahal data sembuh itu tinggi banget. Kenapa itu enggak dikasih porsi yang sama?” ungkapnya. 

Ia juga menambahkan bahwa banyak kasus ringan dan asimptomatik tidak dilaporkan secara transparan, sehingga menimbulkan ketakutan yang tidak proporsional.

Media dan Clickbait dalam Krisis Kesehatan

Keduanya juga mengkritik peran media massa yang dianggap terlalu mengejar clickbait. 

Judul-judul berita dibuat bombastis, membuat masyarakat semakin cemas. “Headline kayak Virus Mematikan Tersebar Cepat, padahal isi artikelnya enggak segawat itu. Tapi orang cuma baca judul, akhirnya panik sendiri,” tutur Timothy.

Dr. Tirta mengaku, sebagai tenaga kesehatan di lapangan saat itu, ia menyaksikan sendiri bagaimana ketakutan menyebabkan banyak orang enggan datang ke rumah sakit meskipun sakit beratkarena khawatir akan divonis Covid-19 dan disingkirkan.

Soal Vaksin dan Kampanye yang Berlebihan

Isu vaksinasi juga dibahas dalam podcast tersebut. 

Timothy dan dr. Tirta sepakat bahwa meski vaksin penting, kampanyenya saat itu terkesan terlalu dominan. 

“Seolah-olah vaksin itu jawaban tunggal, padahal enggak. Masih ada masker, jaga ventilasi, hidup sehat. Tapi itu enggak dibahas banyak,” kata dr. Tirta.

Keduanya mengingatkan bahwa vaksin bukan pelindung absolut. Efektivitasnya terhadap varian baru bisa menurun, dan edukasi publik seharusnya jujur tentang hal ini. 

“Kalau dari awal edukasinya jujur, mungkin publik akan lebih siap secara mental dan bisa menilai risiko dengan akal sehat,” tambah Timothy.

Literasi Digital dan Harapan Baru

Di tengah derasnya informasi, baik yang benar maupun salah, masyarakat dituntut untuk memiliki literasi digital yang kuat. 
Menurut Timothy, orang harus belajar mengecek sumber informasi, bukan hanya percaya karena viral atau disampaikan oleh figur publik. 

“Di era sekarang, kita harus skeptis secara sehat. Jangan telan mentah-mentah,” katanya.

Dr. Tirta pun mengingatkan, saat ini ketika pandemi sudah mereda, menjadi penting untuk merefleksikan bagaimana komunikasi krisis disampaikan.

 Ia berharap ke depan pemerintah dan media bisa lebih transparan dan seimbang dalam mengelola informasi.

“Covid-19 itu nyata, tapi narasi yang berlebihan juga berbahaya. Kita harus bisa belajar dari pengalaman ini,” pungkas dr. Tirta.


Penulis: Anik Kholifatul Imania 

Editor : M. Ainul Budi
#dr Tirta #covud-19