alexametrics
22.9 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Belajar Pengalaman Hidup dari Pemuda Karangharjo

Pengalaman menjadi guru terbaik. Berawal dari sebuah musibah, semangat pemuda ini terdorong untuk membangun bisnis. Meski harus jatuh bangun, bisnis ternak lele sekaligus kafe dapat dijalankan dengan omzet yang lumayan.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seketika dunia menjadi terbalik. Musibah kepergian seorang ibu membuat ekonomi keluarga M Yayan terpuruk. Saat itu, mahasiswa Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember itu masih remaja. Masih SMA.

BACA JUGA : Pesan Makanan dengan Alamat Palsu

Sepeninggal ibunya, Yayan harus tinggal bersama kakek dan neneknya. Sementara, ayahnya merantau di pulau seberang. Sejak ikut kakek dan neneknya, pemuda yang kini berusia 24 tahun itu bisa dibilang serba kecukupan. Apa pun yang diinginkan bisa dipenuhi oleh neneknya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tak lama setelah itu, ekonomi keluarganya memburuk. Yayan asal Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, itu mulai sadar bahwa keinginan dan kebutuhannya tidak boleh bergantung pada kakek nenek dan tidak selalu terpenuhi.

Saat itu, dia berpikir, dia harus bekerja keras. Apalagi, beberapa tahun kemudian Yayan lulus SMA dan ada keinginan untuk kuliah. “Kebutuhan saya sebelumnya dipenuhi nenek, saya berpikir harus mandiri,” ceritanya.

Yayan yang mulai memutar otak akhirnya belajar hidup mandiri. Sejak masuk kuliah, dia bekerja di salah satu perusahaan finance dan menjadi sales. Dia berkeliling menawarkan pinjaman. Saat itu, dia hanya dibayar Rp 15 ribu per harinya. Yayan selanjutnya nyambi menjadi penjaga outlet makanan ringan di pinggir jalan, di sekitaran Jalan Kalimantan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seketika dunia menjadi terbalik. Musibah kepergian seorang ibu membuat ekonomi keluarga M Yayan terpuruk. Saat itu, mahasiswa Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember itu masih remaja. Masih SMA.

BACA JUGA : Pesan Makanan dengan Alamat Palsu

Sepeninggal ibunya, Yayan harus tinggal bersama kakek dan neneknya. Sementara, ayahnya merantau di pulau seberang. Sejak ikut kakek dan neneknya, pemuda yang kini berusia 24 tahun itu bisa dibilang serba kecukupan. Apa pun yang diinginkan bisa dipenuhi oleh neneknya.

Tak lama setelah itu, ekonomi keluarganya memburuk. Yayan asal Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, itu mulai sadar bahwa keinginan dan kebutuhannya tidak boleh bergantung pada kakek nenek dan tidak selalu terpenuhi.

Saat itu, dia berpikir, dia harus bekerja keras. Apalagi, beberapa tahun kemudian Yayan lulus SMA dan ada keinginan untuk kuliah. “Kebutuhan saya sebelumnya dipenuhi nenek, saya berpikir harus mandiri,” ceritanya.

Yayan yang mulai memutar otak akhirnya belajar hidup mandiri. Sejak masuk kuliah, dia bekerja di salah satu perusahaan finance dan menjadi sales. Dia berkeliling menawarkan pinjaman. Saat itu, dia hanya dibayar Rp 15 ribu per harinya. Yayan selanjutnya nyambi menjadi penjaga outlet makanan ringan di pinggir jalan, di sekitaran Jalan Kalimantan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Seketika dunia menjadi terbalik. Musibah kepergian seorang ibu membuat ekonomi keluarga M Yayan terpuruk. Saat itu, mahasiswa Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember itu masih remaja. Masih SMA.

BACA JUGA : Pesan Makanan dengan Alamat Palsu

Sepeninggal ibunya, Yayan harus tinggal bersama kakek dan neneknya. Sementara, ayahnya merantau di pulau seberang. Sejak ikut kakek dan neneknya, pemuda yang kini berusia 24 tahun itu bisa dibilang serba kecukupan. Apa pun yang diinginkan bisa dipenuhi oleh neneknya.

Tak lama setelah itu, ekonomi keluarganya memburuk. Yayan asal Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, itu mulai sadar bahwa keinginan dan kebutuhannya tidak boleh bergantung pada kakek nenek dan tidak selalu terpenuhi.

Saat itu, dia berpikir, dia harus bekerja keras. Apalagi, beberapa tahun kemudian Yayan lulus SMA dan ada keinginan untuk kuliah. “Kebutuhan saya sebelumnya dipenuhi nenek, saya berpikir harus mandiri,” ceritanya.

Yayan yang mulai memutar otak akhirnya belajar hidup mandiri. Sejak masuk kuliah, dia bekerja di salah satu perusahaan finance dan menjadi sales. Dia berkeliling menawarkan pinjaman. Saat itu, dia hanya dibayar Rp 15 ribu per harinya. Yayan selanjutnya nyambi menjadi penjaga outlet makanan ringan di pinggir jalan, di sekitaran Jalan Kalimantan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/