Melestarikan isi atau substansi pesan yang ada dalam karya seni asli Bondowoso inilah yang menjadi prinsip Padepokan Seni Gema Buana. Kesenian tradisional itu, misalnya, tari Topeng Konah, Ojhung, dan Rontek Singo Ulung.
Ketua Padepokan Seni Gema Buana Sugeng mengatakan, kesenian itu tidak bersifat statis, tapi dinamis. Artinya, seni itu tidak diam di tempat atau tanpa adanya perkembangan. Oleh sebab itu, meski pihaknya mempertahankan karya seni yang mampu mengangkat namanya sejak awal, namun pihaknya juga terus melakukan pembaruan. Karena itu, sampai saat ini sudah banyak versi trik-trik dari kesenian daerah itu.
"Jadi, kami memang mempertahankan tradisi yang ada di Bondowoso. Cuma pengembangan gerak dan pola itu harus ada perkembangan. Yang lebih menarik dan estetik, serta eksistensinya lebih tinggi," ungkap seniman yang berusia 60 tahun tersebut.
Menurutnya, salah satu alasan tetap mempertahankan kesenian itu adalah karya yang dipertahankan mampu memberikan pesan dan kesan kepada daerah. Berbeda halnya dengan karya-karya baru yang sifatnya kontemporer. Karya itu dinilai tidak mampu memberikan pesan kepada masyarakat dan daerah setempat. Selain itu, kesenian yang ia pertahankan diyakini dapat mengangkat nama daerah ke kancah nasional.
Sugeng juga mencontohkan berbagai jenis kesenian daerah yang mengkristal di daerah asalnya. Misalnya, tarian Gandrung dari Banyuwangi. Kalau di Bondowoso, maka kesenian Singo Ulung bisa menjadi contohnya, karena sudah dikenal luas oleh masyarakat. Kesenian ini juga banyak ditampilkan dalam berbagai event di Bondowoso. Sehingga ketika mengingat Singo Ulung, maka juga akan teringat dengan Kota Tape ini.
Selain itu, dalam upaya mempertahankan kesenian daerah, pihaknya juga dilandasi dengan keyakinan bahwa dalam seni tersebut terdapat filosofi yang mampu mendekatkan pada kehidupan dan tiga dimensi yang mengiringinya. Yakni manusia, alam, dan Tuhan. "Bagi kami, filosofi itu penting dipertahankan,” katanya.
Pihaknya mengharapkan, kesenian tradisional itu bisa mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak. Baik dari masyarakat maupun pemerintah daerah. Sebab, menurutnya, respons terhadap karya seni itu dinilai masih minim sekali. "Kita harus punya sesuatu yang dikenal dan dikenang masyarakatnya sendiri, atau masyarakat luar daerah," ujarnya.
Sebelum pandemi, Sugeng mengaku, pihaknya sering melakukan pementasan di luar Jawa. Bahkan, pernah manggung di istana negara. Dan di tengah masa pandemi ini, meski jadwal pementasan berkurang, namun pihaknya tetap aktif melakukan latihan setiap pekan dengan penerapan protokol kesehatan ketat.
Jurnalis: Ilham Wahyudi
Fotografer: Muchammad Ainul Budi
Editor: Mahrus Sholih Editor : Safitri