RADAR JEMBER - Andrea Stramaccioni kembali memanaskan diskusi. Di DAZN, mantan pelatih Inter Milan itu menyusun podium pelatih Serie A berdasarkan performa musim ini, bukan nama besar atau kenangan masa lalu.
Artinya jelas: yang kerja nyata naik, yang hidup dari reputasi… silakan minggir.
Posisi ketiga diberikan kepada Gasperini, yang di AS Roma bekerja dengan kondisi serba terbatas. Pasar transfer setengah matang, skuad tak ideal, tapi setidaknya identitas tim terlihat.
Bukan spektakuler, tapi cukup untuk bertahan.
Medali perunggu, tanpa drama.
Perak jatuh ke tangan Spalletti. Bersama Juventus, ia membangun tim dengan struktur jelas dan permainan yang enak ditonton. Ada ide, ada arah, dan ada hasil.
Singkatnya: pelatih yang benar-benar melatih.
Puncaknya? Cristian Chivu.
Stramaccioni tak ragu menempatkannya di posisi pertama. Chivu mengambil alih Inter yang sedang limbung, lalu merakit ulang mental dan permainan tim.
Grup kembali solid, sepak bola atraktif, dan beberapa pemain seperti Zielinski, Esposito, hingga Bonny tampak “lahir kembali”.
Yang paling mencolok, Inter kini memimpin klasemen berkat konsistensi melawan tim-tim papan bawah—laga-laga yang sering dianggap formalitas tapi kerap jadi jebakan.
Di tangan Chivu, Inter tidak terpeleset. Mereka menang, titik.
Dan Allegri?
Tak masuk podium. Tak disebut. Tak disinggung.
Mungkin karena ini soal performa.
Atau mungkin karena musim ini, nama besar saja tidak cukup.
Editor : M. Ainul Budi