alexametrics
23.4 C
Jember
Friday, 12 August 2022

Petaka Jeratan Pinjol yang Dihadapi Karyawan Farmasi RSD Balung

Jalan Pintas, Tebar Teror

Mobile_AP_Rectangle 1

BALUNG, RADARJEMBER.ID –SUASANA duka menyelimuti rumah Esti Retno Palupi, warga Desa Balung Lor, Kecamatan Balung, Jumat sore (20/8) lalu. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai staf farmasi di RSD Balung ini ditemukan meninggal di rumahnya dengan posisi tergantung.

Menurut keterangan warga setempat, aksi korban itu membuat tetangga dan keluarga panik. Saat kejadian, salah satu anggota keluarga korban terdengar berteriak karena mengetahui korban telah meninggal. “Kejadian persisnya kurang begitu paham. Saat itu, ada suara meminta tolong, saya lari (ke lokasi, Red),” terang Totok, tetangga korban.

Setibanya di rumah korban, ia mengaku sudah mendapati banyak warga yang berdatangan. Namun, saat itu tak ada warga yang menangani. “Orang tidak ada yang menangani. Jadi, langsung saya putus saja itu talinya,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Polisi yang tiba di lokasi kejadian saat itu menemukan sebuah surat wasiat yang ditulis korban. Selain itu, pada handphone korban juga terdapat berbagai aplikasi pinjol, serta percakapan dengan juru tagih penyedia jasa pinjol. Dari situ polisi menduga korban meninggal karena mengalami tekanan dan teror dari debt collector pinjol.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember menyebutkan, dalam surat wasiatnya, korban meminta maaf kepada ibunya, lalu menitipkan pesan agar adiknya tetap bisa menempuh kuliah di Malang. Korban juga menuliskan bahwa korban sempat merasa malu dan terbebani karena jeratan utang. Di saat bersamaan, ada lebih dari tiga aplikasi pinjol di handphone korban dan ada banyak panggilan yang tidak diangkat.

Usai kejadian itu, kepolisian setempat mulai mengembangkan kasus tersebut dengan mengamankan surat wasiat yang ditulis korban dan ponsel korban. Sementara, korban sendiri telah dikebumikan keesokan harinya di pemakaman umum desa setempat.

Selama ini memang banyak aplikasi pinjaman dana online yang mulai digunakan masyarakat. Dari sekian penyedia itu, cara penagihannya hampir sama. Biasanya para penagih akan meneror ponsel korban, baik dengan panggilan langsung ataupun pesan percakapan. Bahkan, juga menyasar teman dan saudara nasabahnya. Entah dari mana penyedia jasa keuangan daring itu mendapatkan nomor kontak yang ada di ponsel korban. “Saudara saya juga pernah menjadi nasabah pinjaman online. Bunganya tinggi dan cara penagihannya nasabah ditelepon terus. Bahkan, keluarga dan kenalan nasabah tidak luput dari panggilan si debt collector,” kata sumber tersebut.

- Advertisement -

BALUNG, RADARJEMBER.ID –SUASANA duka menyelimuti rumah Esti Retno Palupi, warga Desa Balung Lor, Kecamatan Balung, Jumat sore (20/8) lalu. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai staf farmasi di RSD Balung ini ditemukan meninggal di rumahnya dengan posisi tergantung.

Menurut keterangan warga setempat, aksi korban itu membuat tetangga dan keluarga panik. Saat kejadian, salah satu anggota keluarga korban terdengar berteriak karena mengetahui korban telah meninggal. “Kejadian persisnya kurang begitu paham. Saat itu, ada suara meminta tolong, saya lari (ke lokasi, Red),” terang Totok, tetangga korban.

Setibanya di rumah korban, ia mengaku sudah mendapati banyak warga yang berdatangan. Namun, saat itu tak ada warga yang menangani. “Orang tidak ada yang menangani. Jadi, langsung saya putus saja itu talinya,” ujarnya.

Polisi yang tiba di lokasi kejadian saat itu menemukan sebuah surat wasiat yang ditulis korban. Selain itu, pada handphone korban juga terdapat berbagai aplikasi pinjol, serta percakapan dengan juru tagih penyedia jasa pinjol. Dari situ polisi menduga korban meninggal karena mengalami tekanan dan teror dari debt collector pinjol.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember menyebutkan, dalam surat wasiatnya, korban meminta maaf kepada ibunya, lalu menitipkan pesan agar adiknya tetap bisa menempuh kuliah di Malang. Korban juga menuliskan bahwa korban sempat merasa malu dan terbebani karena jeratan utang. Di saat bersamaan, ada lebih dari tiga aplikasi pinjol di handphone korban dan ada banyak panggilan yang tidak diangkat.

Usai kejadian itu, kepolisian setempat mulai mengembangkan kasus tersebut dengan mengamankan surat wasiat yang ditulis korban dan ponsel korban. Sementara, korban sendiri telah dikebumikan keesokan harinya di pemakaman umum desa setempat.

Selama ini memang banyak aplikasi pinjaman dana online yang mulai digunakan masyarakat. Dari sekian penyedia itu, cara penagihannya hampir sama. Biasanya para penagih akan meneror ponsel korban, baik dengan panggilan langsung ataupun pesan percakapan. Bahkan, juga menyasar teman dan saudara nasabahnya. Entah dari mana penyedia jasa keuangan daring itu mendapatkan nomor kontak yang ada di ponsel korban. “Saudara saya juga pernah menjadi nasabah pinjaman online. Bunganya tinggi dan cara penagihannya nasabah ditelepon terus. Bahkan, keluarga dan kenalan nasabah tidak luput dari panggilan si debt collector,” kata sumber tersebut.

BALUNG, RADARJEMBER.ID –SUASANA duka menyelimuti rumah Esti Retno Palupi, warga Desa Balung Lor, Kecamatan Balung, Jumat sore (20/8) lalu. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai staf farmasi di RSD Balung ini ditemukan meninggal di rumahnya dengan posisi tergantung.

Menurut keterangan warga setempat, aksi korban itu membuat tetangga dan keluarga panik. Saat kejadian, salah satu anggota keluarga korban terdengar berteriak karena mengetahui korban telah meninggal. “Kejadian persisnya kurang begitu paham. Saat itu, ada suara meminta tolong, saya lari (ke lokasi, Red),” terang Totok, tetangga korban.

Setibanya di rumah korban, ia mengaku sudah mendapati banyak warga yang berdatangan. Namun, saat itu tak ada warga yang menangani. “Orang tidak ada yang menangani. Jadi, langsung saya putus saja itu talinya,” ujarnya.

Polisi yang tiba di lokasi kejadian saat itu menemukan sebuah surat wasiat yang ditulis korban. Selain itu, pada handphone korban juga terdapat berbagai aplikasi pinjol, serta percakapan dengan juru tagih penyedia jasa pinjol. Dari situ polisi menduga korban meninggal karena mengalami tekanan dan teror dari debt collector pinjol.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember menyebutkan, dalam surat wasiatnya, korban meminta maaf kepada ibunya, lalu menitipkan pesan agar adiknya tetap bisa menempuh kuliah di Malang. Korban juga menuliskan bahwa korban sempat merasa malu dan terbebani karena jeratan utang. Di saat bersamaan, ada lebih dari tiga aplikasi pinjol di handphone korban dan ada banyak panggilan yang tidak diangkat.

Usai kejadian itu, kepolisian setempat mulai mengembangkan kasus tersebut dengan mengamankan surat wasiat yang ditulis korban dan ponsel korban. Sementara, korban sendiri telah dikebumikan keesokan harinya di pemakaman umum desa setempat.

Selama ini memang banyak aplikasi pinjaman dana online yang mulai digunakan masyarakat. Dari sekian penyedia itu, cara penagihannya hampir sama. Biasanya para penagih akan meneror ponsel korban, baik dengan panggilan langsung ataupun pesan percakapan. Bahkan, juga menyasar teman dan saudara nasabahnya. Entah dari mana penyedia jasa keuangan daring itu mendapatkan nomor kontak yang ada di ponsel korban. “Saudara saya juga pernah menjadi nasabah pinjaman online. Bunganya tinggi dan cara penagihannya nasabah ditelepon terus. Bahkan, keluarga dan kenalan nasabah tidak luput dari panggilan si debt collector,” kata sumber tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/