alexametrics
23.5 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Pelecehan Verbal Berkedok Gurauan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tindak pelecehan seksual tidak hanya berupa pemerkosaan atau kekerasan lain dalam bentuk fisik. Pelecehan seksual terbagi menjadi pelecehan verbal dan nonverbal. Keduanya memiliki perbedaan dalam hal bentuk perlakuannya.

Baca Juga : Lagi! Pelecehan di Jember Pelakunya Pemilik Rumah Kos

Pelecehan verbal bentuknya berupa perkataan dari lisan seseorang yang mengarah pada hal yang tidak diinginkan korban. Tentunya menimbulkan perasaan tidak nyaman. “Misalkan komentar-komentar cabul di media sosial. Nah, itu sudah bentuk pelecehan seksual juga, misalnya melihat seseorang dari atas hingga bawah,” jelas Erisha Najwa Himaya, pegiat Komunitas Gender @adgenseks_street UIN KHAS Jember, Kamis (7/4).

Mobile_AP_Rectangle 2

Sedangkan pelecehan nonverbal dilakukan dengan kontak fisik. Seperti sentuhan dan rabaan. Misalnya saja menyentuh bagian vital, baik perempuan maupun laki-laki. Selain itu, ada tingkatannya juga dari yang ringan hingga berat.

Menurut Erisha, kekerasan seksual bukan hanya pencabulan, tetapi juga pelecehan. “Pelecehan dengan pencabulan itu beda,” ungkapnya. Pelecehan yang bentuknya ringan seperti catcalling, yaitu siulan, panggilan, atau komentar yang bersifat seksual. Untuk yang tingkatannya tinggi contohnya memegang payudara atau alat vital lainnya.

Banyak tindakan pelecehan yang terjadi Jember, termasuk di lingkup kampus yang basisnya adalah orang-orang berpendidikan. Pelakunya pun kebanyakan tidak diketahui secara pasti karena minimnya bukti yang ditunjukkan oleh penyintas. Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN KHAS Jember itu juga menyampaikan bahwa beberapa oknum pelaku pelecehan kemungkinan mempunyai orientasi seksual yang berbeda dari manusia normal pada umumnya.

Tak bisa dimungkiri, korban pelecehan kebanyakan ialah perempuan dan pelakunya adalah laku-laki. Bentuk pelecehan verbal jarang disadari oleh kebanyakan orang. Karena itu, korbannya tidak pernah merasa bahwa ia telah mendapatkan tindak pelecehan. Namun, kesadaran soal itu kembali pada individu masing-masing.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tindak pelecehan seksual tidak hanya berupa pemerkosaan atau kekerasan lain dalam bentuk fisik. Pelecehan seksual terbagi menjadi pelecehan verbal dan nonverbal. Keduanya memiliki perbedaan dalam hal bentuk perlakuannya.

Baca Juga : Lagi! Pelecehan di Jember Pelakunya Pemilik Rumah Kos

Pelecehan verbal bentuknya berupa perkataan dari lisan seseorang yang mengarah pada hal yang tidak diinginkan korban. Tentunya menimbulkan perasaan tidak nyaman. “Misalkan komentar-komentar cabul di media sosial. Nah, itu sudah bentuk pelecehan seksual juga, misalnya melihat seseorang dari atas hingga bawah,” jelas Erisha Najwa Himaya, pegiat Komunitas Gender @adgenseks_street UIN KHAS Jember, Kamis (7/4).

Sedangkan pelecehan nonverbal dilakukan dengan kontak fisik. Seperti sentuhan dan rabaan. Misalnya saja menyentuh bagian vital, baik perempuan maupun laki-laki. Selain itu, ada tingkatannya juga dari yang ringan hingga berat.

Menurut Erisha, kekerasan seksual bukan hanya pencabulan, tetapi juga pelecehan. “Pelecehan dengan pencabulan itu beda,” ungkapnya. Pelecehan yang bentuknya ringan seperti catcalling, yaitu siulan, panggilan, atau komentar yang bersifat seksual. Untuk yang tingkatannya tinggi contohnya memegang payudara atau alat vital lainnya.

Banyak tindakan pelecehan yang terjadi Jember, termasuk di lingkup kampus yang basisnya adalah orang-orang berpendidikan. Pelakunya pun kebanyakan tidak diketahui secara pasti karena minimnya bukti yang ditunjukkan oleh penyintas. Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN KHAS Jember itu juga menyampaikan bahwa beberapa oknum pelaku pelecehan kemungkinan mempunyai orientasi seksual yang berbeda dari manusia normal pada umumnya.

Tak bisa dimungkiri, korban pelecehan kebanyakan ialah perempuan dan pelakunya adalah laku-laki. Bentuk pelecehan verbal jarang disadari oleh kebanyakan orang. Karena itu, korbannya tidak pernah merasa bahwa ia telah mendapatkan tindak pelecehan. Namun, kesadaran soal itu kembali pada individu masing-masing.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tindak pelecehan seksual tidak hanya berupa pemerkosaan atau kekerasan lain dalam bentuk fisik. Pelecehan seksual terbagi menjadi pelecehan verbal dan nonverbal. Keduanya memiliki perbedaan dalam hal bentuk perlakuannya.

Baca Juga : Lagi! Pelecehan di Jember Pelakunya Pemilik Rumah Kos

Pelecehan verbal bentuknya berupa perkataan dari lisan seseorang yang mengarah pada hal yang tidak diinginkan korban. Tentunya menimbulkan perasaan tidak nyaman. “Misalkan komentar-komentar cabul di media sosial. Nah, itu sudah bentuk pelecehan seksual juga, misalnya melihat seseorang dari atas hingga bawah,” jelas Erisha Najwa Himaya, pegiat Komunitas Gender @adgenseks_street UIN KHAS Jember, Kamis (7/4).

Sedangkan pelecehan nonverbal dilakukan dengan kontak fisik. Seperti sentuhan dan rabaan. Misalnya saja menyentuh bagian vital, baik perempuan maupun laki-laki. Selain itu, ada tingkatannya juga dari yang ringan hingga berat.

Menurut Erisha, kekerasan seksual bukan hanya pencabulan, tetapi juga pelecehan. “Pelecehan dengan pencabulan itu beda,” ungkapnya. Pelecehan yang bentuknya ringan seperti catcalling, yaitu siulan, panggilan, atau komentar yang bersifat seksual. Untuk yang tingkatannya tinggi contohnya memegang payudara atau alat vital lainnya.

Banyak tindakan pelecehan yang terjadi Jember, termasuk di lingkup kampus yang basisnya adalah orang-orang berpendidikan. Pelakunya pun kebanyakan tidak diketahui secara pasti karena minimnya bukti yang ditunjukkan oleh penyintas. Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN KHAS Jember itu juga menyampaikan bahwa beberapa oknum pelaku pelecehan kemungkinan mempunyai orientasi seksual yang berbeda dari manusia normal pada umumnya.

Tak bisa dimungkiri, korban pelecehan kebanyakan ialah perempuan dan pelakunya adalah laku-laki. Bentuk pelecehan verbal jarang disadari oleh kebanyakan orang. Karena itu, korbannya tidak pernah merasa bahwa ia telah mendapatkan tindak pelecehan. Namun, kesadaran soal itu kembali pada individu masing-masing.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/