alexametrics
27.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Tape Khas Bondowos Berusaha Eksis di Tengah Pandemi

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tape merupakan makanan khas Bondowoso yang rasanya manis tanpa pemanis buatan.  Teksturnya empuk dan dapat menghangatkan badan jika dikonsumsi. Tape menjadi salah satu produk unggulan Bondowoso, selain kopi.

Kini, usaha tape Bondowoso masih tetap eksis meskipun terkena badai pandemi Covid-19 serta penerapan PPKM. Kepala Bidang (Kabid) Perindustrian Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso Agung Nurhidayat menerangkan bahwa usaha tape tetap saja menggeliat. Tak terlalu lesu.

Bantuan alat produksi dari pemkab pun menjadi salah satu penyemangat pengusaha tape untuk tetap bertahan. Peningkatan kualitas dan produksi tape oleh pengusaha diharapkan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada usaha tape.

Mobile_AP_Rectangle 2

Terutama karena selama masa pandemi usaha tape di Bondowoso terpukul sehingga pengusaha terpaksa mengurangi jumlah produksi hampir 60 persen. “Kalau gulung tikar nggak, tapi mengurangi produksi iya,” katanya.

Pengurangan produksi disebabkan berkurangnya jumlah permintaan akibat pembatasan aktivitas masyarakat yang diberlakukan. “Tetap eksis, cuma ngurangi. Karena kita tahu, ya, tape kan barang oleh-oleh. Pada saat mobilitas dibatasi, banyak orang yang tidak bisa bergerak. Nggak bisa bawa oleh-oleh,” paparnya.

Sementara itu, Tosan, seorang produsen tape, mengungkapkan, saat pengetatan PPKM beberapa waktu lalu, ia hanya bisa memproduksi maksimal dua kuintal singkong per hari untuk dijadikan tape.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tape merupakan makanan khas Bondowoso yang rasanya manis tanpa pemanis buatan.  Teksturnya empuk dan dapat menghangatkan badan jika dikonsumsi. Tape menjadi salah satu produk unggulan Bondowoso, selain kopi.

Kini, usaha tape Bondowoso masih tetap eksis meskipun terkena badai pandemi Covid-19 serta penerapan PPKM. Kepala Bidang (Kabid) Perindustrian Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso Agung Nurhidayat menerangkan bahwa usaha tape tetap saja menggeliat. Tak terlalu lesu.

Bantuan alat produksi dari pemkab pun menjadi salah satu penyemangat pengusaha tape untuk tetap bertahan. Peningkatan kualitas dan produksi tape oleh pengusaha diharapkan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada usaha tape.

Terutama karena selama masa pandemi usaha tape di Bondowoso terpukul sehingga pengusaha terpaksa mengurangi jumlah produksi hampir 60 persen. “Kalau gulung tikar nggak, tapi mengurangi produksi iya,” katanya.

Pengurangan produksi disebabkan berkurangnya jumlah permintaan akibat pembatasan aktivitas masyarakat yang diberlakukan. “Tetap eksis, cuma ngurangi. Karena kita tahu, ya, tape kan barang oleh-oleh. Pada saat mobilitas dibatasi, banyak orang yang tidak bisa bergerak. Nggak bisa bawa oleh-oleh,” paparnya.

Sementara itu, Tosan, seorang produsen tape, mengungkapkan, saat pengetatan PPKM beberapa waktu lalu, ia hanya bisa memproduksi maksimal dua kuintal singkong per hari untuk dijadikan tape.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tape merupakan makanan khas Bondowoso yang rasanya manis tanpa pemanis buatan.  Teksturnya empuk dan dapat menghangatkan badan jika dikonsumsi. Tape menjadi salah satu produk unggulan Bondowoso, selain kopi.

Kini, usaha tape Bondowoso masih tetap eksis meskipun terkena badai pandemi Covid-19 serta penerapan PPKM. Kepala Bidang (Kabid) Perindustrian Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso Agung Nurhidayat menerangkan bahwa usaha tape tetap saja menggeliat. Tak terlalu lesu.

Bantuan alat produksi dari pemkab pun menjadi salah satu penyemangat pengusaha tape untuk tetap bertahan. Peningkatan kualitas dan produksi tape oleh pengusaha diharapkan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada usaha tape.

Terutama karena selama masa pandemi usaha tape di Bondowoso terpukul sehingga pengusaha terpaksa mengurangi jumlah produksi hampir 60 persen. “Kalau gulung tikar nggak, tapi mengurangi produksi iya,” katanya.

Pengurangan produksi disebabkan berkurangnya jumlah permintaan akibat pembatasan aktivitas masyarakat yang diberlakukan. “Tetap eksis, cuma ngurangi. Karena kita tahu, ya, tape kan barang oleh-oleh. Pada saat mobilitas dibatasi, banyak orang yang tidak bisa bergerak. Nggak bisa bawa oleh-oleh,” paparnya.

Sementara itu, Tosan, seorang produsen tape, mengungkapkan, saat pengetatan PPKM beberapa waktu lalu, ia hanya bisa memproduksi maksimal dua kuintal singkong per hari untuk dijadikan tape.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

Siswa SD Dapat Double Degree

Kue Spiku, Idaman Perempuan

Perda Mandul Rugikan Rakyat

/