Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dana White: Dari Manajer Petarung ke Raja Oktagon Dunia  

Faqih Humaini • Rabu, 5 November 2025 | 03:21 WIB
FOKUS:Dana White saat melakukan sesi wawancara dengan media (ig:espnmma)
FOKUS:Dana White saat melakukan sesi wawancara dengan media (ig:espnmma)

LAS VEGAS, Radar Jember - Nama Dana White kini identik dengan UFC.

Pria kelahiran 28 Juli 1969 di Manchester, Connecticut, Amerika Serikat, itu bukan hanya presiden organisasi seni bela diri campuran terbesar di dunia, tetapi juga sosok yang merevolusi cara publik memandang olahraga tarung.

Di bawah kepemimpinannya, UFC menjelma dari promosi kecil penuh kontroversi menjadi bisnis global bernilai miliaran dolar.

Perjalanan White menuju puncak dunia MMA tidak terjadi dalam semalam. Sebelum memimpin UFC, ia sempat bekerja sebagai instruktur tinju di Boston dan kemudian menjadi manajer bagi sejumlah petarung.

Dari sanalah ia mulai memahami bagaimana dunia olahraga tarung beroperasi, termasuk celah bisnis yang belum digarap secara profesional.

Titik balik datang pada 2001, ketika White meyakinkan dua sahabat lamanya, Lorenzo dan Frank Fertitta, untuk membeli UFC yang saat itu tengah merugi.

Dengan modal sekitar 2 juta dolar AS, mereka membentuk Zuffa LLC dan menempatkan White sebagai presiden.

Keputusan itu menjadi awal kebangkitan UFC dan sekaligus awal perjalanan fenomenal bagi White.

Di bawah kendalinya, UFC melakukan rebranding besar-besaran. Ia memperkenalkan aturan yang lebih ketat, memperbaiki sistem promosi, dan mengubah citra UFC dari pertarungan brutal menjadi olahraga yang diatur secara profesional.

Strategi media juga menjadi senjata utamanya, termasuk meluncurkan reality show The Ultimate Fighter yang memperluas popularitas UFC di kalangan penonton Amerika.

Kepiawaian White tidak hanya dalam memimpin organisasi, tetapi juga dalam membaca tren bisnis.

Ia memperluas jangkauan UFC ke pasar internasional, membuka peluang bagi petarung dari berbagai negara, dan menjalin kerja sama dengan platform siaran besar seperti ESPN.

Di tangannya, olahraga MMA berubah menjadi produk hiburan kelas dunia.

Gaya kepemimpinan White dikenal keras, tegas, dan tanpa kompromi.

Ia tak segan menegur petarung di depan publik, tetapi juga dikenal loyal terhadap mereka yang berdedikasi.

Sikap blak-blakannya di media sosial membuatnya sering jadi kontroversi, namun justru memperkuat citranya sebagai sosok otentik dan apa adanya.

Di balik karakternya yang tegas, White juga piawai dalam strategi bisnis.

Saat UFC dijual kepada WME-IMG (kini Endeavor) pada 2016 senilai 4 miliar dolar AS, ia tetap dipertahankan sebagai presiden dan memperoleh bagian saham.

Kini, setelah penggabungan UFC dan WWE dalam TKO Group Holdings, posisi White masih tak tergantikan.

Meski telah kaya raya dan berpengaruh, Dana White dikenal memiliki etos kerja tinggi.

Ia tetap terlibat langsung dalam penyusunan jadwal pertarungan, negosiasi kontrak, dan promosi event.

Bagi White, kesuksesan UFC bukan hanya hasil bisnis, melainkan perjuangan untuk mengangkat olahraga tarung ke level tertinggi.

Lebih dari dua dekade memimpin, Dana White berhasil menciptakan warisan besar: menjadikan UFC bukan sekadar promotor pertarungan, melainkan simbol kekuatan, strategi, dan visi dalam dunia olahraga modern.

Dari gym kecil di Boston hingga panggung dunia, ia membuktikan bahwa kerja keras, keyakinan, dan keberanian mengambil risiko bisa mengubah sejarah olahraga. (faq)

 

 

Editor : M. Ainul Budi
#dana white #ufc #mma