Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Bagnaia Hadapi Ancaman di Red Bull Ring, Aturan Rem MotoGP Austria Bisa Akhiri Dominasinya

Imron Hidayatullahh • Kamis, 14 Agustus 2025 | 14:45 WIB
Aturan rem di MotoGP Austria jadi ancaman bagi Bagnaia.
Aturan rem di MotoGP Austria jadi ancaman bagi Bagnaia.

Radar Jember - Francesco Bagnaia datang ke MotoGP Austria dengan rekor sempurna: lima kemenangan beruntun di Sirkuit Red Bull Ring sejak 2022: tiga balapan utama dan dua sprint race.

Namun, masalah pengereman pada Ducati Desmosedici GP25 musim ini mengancam menghentikan rentetan kemenangannya.

Bagi Bagnaia, kekuatan terbesar di sirkuit stop-and-go seperti Austria adalah pengereman keras.

Ironisnya, performa itu justru menjadi kelemahan terbesar di musim 2025.

Saat Marc Marquez, rekan setim barunya di Ducati Lenovo, terus mendominasi klasemen, Bagnaia tertahan di posisi ketiga.

“Saya selalu mengandalkan pengereman. Semua performa saya datang dari sana. Sekarang, itu justru salah satu titik terlemah,” ujar Bagnaia di Brno, di mana Marquez kembali meraih kemenangan.

Tantangan Rem 355mm

Red Bull Ring adalah satu dari tiga sirkuit (bersama Buriram dan Motegi) yang mewajibkan penggunaan cakram rem terbesar 355mm, demi alasan keselamatan.

Ukuran ini pernah membantu Bagnaia mengurangi masalah saat masuk tikungan di Aragon.

Meski ia kembali ke cakram standar 340mm di sirkuit lain, Bagnaia mengaku perubahan pada master silinder mampu sedikit meniru efek rem 355mm.

“Kami mengganti pompa pada tuas rem, dan hasilnya mirip dengan cakram 355mm,” jelasnya, dikutip Radar Jember dari laman Crash.

“Saya bisa sedikit mengendalikan gejala ‘mengunci’ ban depan, tapi tetap sulit. Banyak gerakan, banyak penguncian, dan saya tidak bisa mengerem seperti yang saya mau,” ungkapnya.

Musim lalu, Bagnaia bisa mengerem super keras sambil membuat banyak slide sehingga motor cepat berhenti.

Tahun ini, ia harus presisi tanpa bisa memanfaatkan slide, karena roda belakang tak lagi membantu menghentikan laju motor.

Bagaimana Gaya Rem Marquez di Austria?

Menariknya, Marquez tampak mengubah pendekatannya di beberapa sirkuit.

Usai balapan di Mugello, ia mengungkap bahwa sementara Bagnaia fokus mengerem sangat keras dan telat, dirinya justru lebih memprioritaskan kecepatan di tikungan.

Pendekatan itu terbukti jitu.

Marquez sudah memenangkan 9 dari 12 GP musim ini, termasuk 10 kemenangan beruntun di semua format balapan.

Di Brno sebelum jeda musim panas, ia kembali menyapu bersih sprint race dan balapan utama.

Sementara, Bagnaia hanya finis keempat, dan Fabio di Giannantonio, pengendara GP25 lainnya, terpuruk di posisi 16.

“Di trek ini motor kami sulit dikendarai. Saya berusaha mendekati Marc, tapi dia membuat perbedaan,” kata Bagnaia.

“Untuk pertama kalinya, motor kami bukan yang terkuat, tapi dia yang terkuat. Dan kami harus mengakuinya,” ujarnya.

Kejar Ketertinggalan

Marquez kini unggul 168 poin dari Bagnaia.

Target realistis Bagnaia adalah memangkas jarak 48 poin dari posisi kedua klasemen yang ditempati Alex Marquez yang mengendarai Desmosedici GP24.

Sementara itu, Di Giannantonio turun ke posisi kelima, di belakang Aprilia milik Marco Bezzecchi.

Balapan di Austria pada 22–24 Agustus akan menjadi ujian besar: apakah Bagnaia dan Ducati mampu memecahkan misteri pengereman GP25 sebelum peluang juara benar-benar menguap.

Editor : Imron Hidayatullahh
#motogp austria #Ducati Lenovo #Desmosedici GP24 #Fabio Di Giannantonio #sirkuit red bull ring #Desmosedici GP25 #Bagnaia #marc marquez #ducati #MotoGP