CHICAGO, Radar Jember - Nama Khamzat Chimaev meroket dalam waktu singkat setelah debut gemilang di UFC 2020.
Petarung berdarah Chechnya-Swedia ini dikenal sebagai salah satu atlet paling buas dalam sejarah UFC modern.
Ia mencetak rekor dengan kemenangan tercepat di dua kelas berbeda hanya dalam 10 hari.
Lahir di Chechnya, 1 Mei 1994, Chimaev pindah ke Swedia saat remaja dan membangun karier gulat yang solid.
Ia pernah menjadi juara nasional gulat Swedia dua kali berturut-turut di kelas 86 kg dan 92 kg.
Basis gulat inilah yang menjadi senjata utamanya dalam MMA.
Sejak debut profesional di 2018, ia belum terkalahkan hingga 2025 dengan rekor sempurna (13-0), terdiri dari 6 KO, 5 submission, dan 2 keputusan.
Ia sempat menghancurkan nama besar seperti Li Jingliang, Gilbert Burns, dan Robert Whittaker.
Kelebihan utama Chimaev adalah gaya tekanan tinggi sejak bel awal.
Ia tidak memberi waktu lawan berpikir.
Baca Juga: Merab Dvalishvili: Dari Bayangan Teman ke Raja Baru Bantamweight UFC
Dalam beberapa pertandingan, ia mampu mengangkat lawan dan membawanya ke sisi Octagon sambil berbicara kepada pelatih Dana White—sebuah demonstrasi dominasi yang jarang terlihat.
Mentalitasnya pun tak kalah buas.
Dalam wawancara, Chimaev sering berkata, “Saya tidak di sini untuk bermain.
Saya ingin menghancurkan semua orang.”
Kalimat itu bukan sekadar provokasi, tapi dicerminkan dalam gaya bertarungnya.
Namun, beberapa kalangan juga menyoroti stamina Chimaev yang sempat melemah di laga-laga panjang.
Hal ini menjadi fokus utama dalam kamp pelatihan jelang pertarungan dengan du Plessis.
Ia kini disebut lebih siap dari sisi cardio dan strategi.
Chimaev adalah simbol ancaman baru di kelas middleweight.
Jika ia menang atas du Plessis di UFC 319, maka bukan hanya sabuk juara yang ia bawa pulang, tapi juga status baru sebagai penguasa divisi dan penantang gelar pound-for-pound terbaik di UFC. (faq)
Editor : M. Ainul Budi