Petarung asal Afrika Selatan ini memiliki gaya bertarung yang tak lazim, namun efektif—menggabungkan volume striking, daya tahan fisik, dan mentalitas agresif.
Lahir di Pretoria, Afrika Selatan, 14 Januari 1994, Du Plessis awalnya menekuni judo dan gulat sejak usia muda.
Ia kemudian beralih ke kickboxing dan mencatatkan prestasi sebagai juara nasional.
Perpaduan teknik inilah yang membentuk fondasi unik dalam gaya bertarungnya—cepat, tak terduga, dan sering memancing kesalahan lawan.
Rekor profesionalnya impresif: 23 kemenangan dan hanya 2 kekalahan, dengan rincian 9 KO, 11 submission, dan hanya 3 kemenangan lewat keputusan juri.Baca Juga: Islam Makhachev: Pewaris Takhta Dagestan yang Kini Menguasai UFC
Statistik ini menunjukkan fleksibilitasnya dalam menyelesaikan pertandingan dari berbagai sisi—baik atas maupun bawah.
Du Plessis dikenal dengan stamina panjang dan pukulan akurat dalam kombinasi.
Ia bukan petarung eksplosif yang menyelesaikan laga cepat, namun lebih pada gaya menghancurkan lawan secara bertahap.
Dalam duel, ia kerap terlihat ‘berantakan’, tapi itulah kekuatannya: sulit ditebak.
Sebagai juara dari Afrika, ia membawa kebanggaan besar untuk benua tersebut.
Ia menyebut sabuk juara UFC miliknya sebagai "simbol bahwa Afrika bukan hanya pengirim, tapi juga pencipta juara dunia."
Baca Juga: Kamaru Usman: Dari Pengungsi Nigeria Hingga Jadi Raja Oktagon
Kepada media, ia menegaskan siap melawan siapa pun, termasuk Khamzat Chimaev yang disebut-sebut lebih brutal.
Dari sisi mental, du Plessis dikenal dingin dan tenang.
Ia tak mudah terpancing provokasi lawan dan sering memainkan psikologis dengan kalimat tajam.
Namun, ia tetap menunjukkan rasa hormat terhadap lawan yang sepadan.
Kini, menjelang UFC 319, du Plessis membawa bukan hanya sabuk, tapi ekspektasi besar dari publik Afrika.
Apakah gaya berantakan nan efektif miliknya cukup untuk menahan tekanan Chimaev? Dunia menanti jawabannya di Octagon. (faq)
Editor : M. Ainul Budi