Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Petarung Afrika Selatan yang Naik Tahta dengan Gaya Unik, ini Profilnya!

Faqih Humaini • Selasa, 15 Juli 2025 | 17:55 WIB

 

SEMANGAT BERLATIH: Dricus Du Plessis saat memulai sesi latihannya. (Ig:dricusduplessis)
SEMANGAT BERLATIH: Dricus Du Plessis saat memulai sesi latihannya. (Ig:dricusduplessis)
AFRIKA SELATAN, Radar Jember - Dricus du Plessis menjadi wajah baru di puncak divisi middleweight UFC setelah menumbangkan Sean Strickland di UFC 297, dan kemudian mempertahankan sabuknya dengan kemenangan atas Israel Adesanya.

Petarung asal Afrika Selatan ini memiliki gaya bertarung yang tak lazim, namun efektif—menggabungkan volume striking, daya tahan fisik, dan mentalitas agresif.

Lahir di Pretoria, Afrika Selatan, 14 Januari 1994, Du Plessis awalnya menekuni judo dan gulat sejak usia muda.

Ia kemudian beralih ke kickboxing dan mencatatkan prestasi sebagai juara nasional.

Perpaduan teknik inilah yang membentuk fondasi unik dalam gaya bertarungnya—cepat, tak terduga, dan sering memancing kesalahan lawan.

Rekor profesionalnya impresif: 23 kemenangan dan hanya 2 kekalahan, dengan rincian 9 KO, 11 submission, dan hanya 3 kemenangan lewat keputusan juri.Baca Juga: Islam Makhachev: Pewaris Takhta Dagestan yang Kini Menguasai UFC

Statistik ini menunjukkan fleksibilitasnya dalam menyelesaikan pertandingan dari berbagai sisi—baik atas maupun bawah.

Du Plessis dikenal dengan stamina panjang dan pukulan akurat dalam kombinasi.

Ia bukan petarung eksplosif yang menyelesaikan laga cepat, namun lebih pada gaya menghancurkan lawan secara bertahap.

Dalam duel, ia kerap terlihat ‘berantakan’, tapi itulah kekuatannya: sulit ditebak.

Sebagai juara dari Afrika, ia membawa kebanggaan besar untuk benua tersebut.

Ia menyebut sabuk juara UFC miliknya sebagai "simbol bahwa Afrika bukan hanya pengirim, tapi juga pencipta juara dunia."

Baca Juga: Kamaru Usman: Dari Pengungsi Nigeria Hingga Jadi Raja Oktagon

Kepada media, ia menegaskan siap melawan siapa pun, termasuk Khamzat Chimaev yang disebut-sebut lebih brutal.

Dari sisi mental, du Plessis dikenal dingin dan tenang.

Ia tak mudah terpancing provokasi lawan dan sering memainkan psikologis dengan kalimat tajam.

Namun, ia tetap menunjukkan rasa hormat terhadap lawan yang sepadan.

Kini, menjelang UFC 319, du Plessis membawa bukan hanya sabuk, tapi ekspektasi besar dari publik Afrika.

Apakah gaya berantakan nan efektif miliknya cukup untuk menahan tekanan Chimaev? Dunia menanti jawabannya di Octagon. (faq)

Editor : M. Ainul Budi
#UFC 2025 #Dricus Du Plessis #ufc #Khamzat Chimaev